Membaca Jongot: Hutan Warisan Suku Musi yang Menawarkan Harapan di Tengah Krisis Iklim

Tradisi Jongot Suku Musi di PALI, Sumsel, menjaga keragaman vegetasi dan kelembapan gambut secara turun-temurun, menjadi benteng ekologis efektif menghadapi krisis iklim.

Tasmalinda
Minggu, 01 November 2026 | 16:41 WIB
Membaca Jongot: Hutan Warisan Suku Musi yang Menawarkan Harapan di Tengah Krisis Iklim
Diskusi buku Jongot: Sebuah Pengantar Harapan digelar di Roemah Tumbuh Kembang, Palembang.
Baca 10 detik
  • Masyarakat Suku Musi di Tempirai, Sumatera Selatan, merawat hutan campuran bernama jongot untuk menjaga sumber pangan dan keseimbangan alam.
  • Peneliti lingkungan Nopri Ismi menemukan bahwa tradisi jongot berfungsi melindungi lahan gambut tetap basah guna mencegah bencana kebakaran hutan.
  • Praktik kearifan lokal jongot ini terikat kuat pada ingatan kolektif keluarga serta hukum adat tanpa menggunakan batas wilayah formal.

SuaraSumsel.id - Di tengah ancaman krisis iklim, hutan tidak selalu harus dipahami sebagai hamparan luas yang jauh dari kehidupan manusia. Di Sumatera Selatan, ada pengetahuan masyarakat adat tentang cara merawat hutan, menjaga sumber pangan, dan mempertahankan keseimbangan alam yang diwariskan lintas generasi.

Salah satunya hidup dalam tradisi jongot milik masyarakat Suku Musi di kawasan Tempirai, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).

Jongot bukan sekadar kebun buah. Ia merupakan hutan campuran warisan keluarga yang menyimpan beragam jenis vegetasi, sumber pangan, kayu, sekaligus ikatan sosial dan budaya masyarakat. Di tengah perubahan bentang alam akibat pembukaan lahan dan tekanan terhadap ekosistem gambut, keberadaan jongot menawarkan cara pandang lain tentang bagaimana manusia semestinya hidup berdampingan dengan alam.

Ancaman krisis iklim sendiri semakin nyata. Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) mencatat 2024 sebagai tahun terpanas dalam sejarah pengamatan instrumental, dengan suhu rata-rata global mencapai 1,55 derajat Celsius di atas tingkat praindustri.

Baca Juga:Jongot, Benteng Ekologis Masyarakat Musi di Sumatera Selatan Menghadapi Karhutla

Sementara itu, 2025 kembali masuk dalam tiga tahun terpanas yang pernah tercatat. Berdasarkan data Copernicus, suhu rata-rata global pada 2025 berada sekitar 1,47 derajat Celsius di atas tingkat praindustri.

Angka tersebut menjadi peringatan bahwa pemanasan global bukan lagi ancaman yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Dampaknya dapat dirasakan melalui perubahan pola musim, meningkatnya risiko cuaca ekstrem, kekeringan, hingga tekanan terhadap sistem pangan dan ekosistem.

Di Sumatera Selatan, persoalan iklim berkelindan dengan perubahan bentang alam. Pembukaan hutan, ekspansi perkebunan monokultur, pembangunan infrastruktur, dan aktivitas pertambangan menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya menjaga keseimbangan lingkungan.

Pada kawasan gambut, perubahan tata air akibat pembangunan kanal dapat membuat lahan kehilangan kelembapan alaminya. Ketika musim kemarau datang, gambut yang mengering menjadi lebih rentan terbakar. Dampaknya tidak berhenti pada kerusakan hutan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga keberlanjutan sumber pangan.

Di perkotaan seperti Palembang, berkurangnya ruang terbuka hijau dan dominasi permukaan beton serta aspal juga dapat memperkuat fenomena pulau panas perkotaan atau urban heat island. Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan kawasan hutan, tetapi juga dengan cara manusia mengelola ruang hidupnya.

Baca Juga:Festival Lahan Basah Tempirai Hidupkan Lagi Joadah, Kuliner Beras Hitam Masyarakat Musi

Jongot, Benteng Ekologis di Tengah Lanskap Gambut Tempirai

Di tengah persoalan tersebut, jongot menjadi salah satu praktik pengelolaan lahan berbasis pengetahuan lokal yang menarik untuk dibaca kembali.

Hal itu mengemuka dalam diskusi buku Jongot: Sebuah Pengantar Harapan di Roemah Tumbuh Kembang, Palembang. Dalam agenda tersebut, Nopri Ismi, pegiat budaya sekaligus jurnalis lingkungan, memaparkan hasil penelitiannya mengenai keberadaan jongot di lanskap masyarakat Penukal, PALI.

Selama lebih dari satu tahun melakukan penelitian, Nopri menemukan bahwa jongot memiliki peran yang tidak sebatas menyediakan buah-buahan bagi masyarakat. Keberadaannya juga berkaitan dengan cara masyarakat mengelola ruang, mempertahankan vegetasi, dan menjaga hubungan dengan lingkungan sekitarnya.

Menurut Nopri, terdapat lebih dari seratus titik jongot yang bertahan di atas bentang tanah mineral atau talang di tengah kawasan rawa gambut Tempirai. Vegetasi yang beragam dan keberadaan pohon-pohon besar di dalamnya dinilai memiliki fungsi ekologis penting, mulai dari menjaga tutupan lahan, menyimpan karbon, hingga membantu mempertahankan kelembapan lingkungan.

Berbeda dengan perkebunan monokultur yang didominasi satu jenis tanaman, jongot mempertahankan keragaman vegetasi. Keberagaman tersebut membuat kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber pangan, tetapi juga berpotensi mendukung keseimbangan ekosistem di sekitarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak