- PT Bukit Asam Tbk di Jakarta mencatatkan laba bersih Rp4,41 triliun hingga September 2026.
- Pendapatan usaha perusahaan meningkat menjadi Rp35,20 triliun akibat kenaikan harga jual batu bara.
- Total aset perusahaan menembus Rp51,55 triliun yang didorong oleh kenaikan deposito dan piutang usaha.
SuaraSumsel.id - PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) membukukan laba bersih Rp4,41 triliun hingga kuartal III 2026. Capaian tersebut melonjak 216 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,39 triliun, di tengah dinamika industri batu bara dan tantangan operasional sepanjang tahun ini.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 September 2026 yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pendapatan usaha PTBA mencapai Rp35,20 triliun. Nilai ini meningkat 12 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar Rp31,33 triliun.
Kinerja tersebut terutama ditopang kenaikan harga jual rata-rata batu bara atau average selling price (ASP) sebesar 18 persen secara tahunan. Penguatan harga jual mampu mengimbangi penurunan volume penjualan sebesar 4 persen dibandingkan sembilan bulan pertama tahun lalu.
Direktur Utama PTBA, Bambang Ismawan, mengatakan pertumbuhan kinerja keuangan perusahaan didukung pemulihan produksi pada kuartal III 2026, optimalisasi bauran penjualan, serta pengelolaan biaya dan operasional yang disiplin.
Baca Juga:PTBA Apresiasi HBAP Raih 2 Penghargaan Internasional, Inovasi PLTU Sumsel-8 Jadi Sorotan
“Di tengah dinamika industri batu bara dan tantangan operasional sepanjang tahun 2026, PTBA berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang solid hingga kuartal III 2026,” kata Bambang dalam keterangan perusahaan, Kamis (29/10/2026).
Selain laba bersih, PTBA mencatatkan peningkatan pada sejumlah indikator keuangan hingga September 2026. Laba usaha perusahaan mencapai Rp5,11 triliun, meningkat sekitar 220 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,60 triliun. Sementara itu, laba kotor naik 104 persen menjadi Rp7,27 triliun dari sebelumnya Rp3,57 triliun.
EBITDA atau laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi tercatat sebesar Rp7,19 triliun, meningkat 102 persen dibandingkan Rp3,56 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Perseroan juga membukukan margin laba bersih sebesar 13 persen dan margin EBITDA sebesar 20 persen.
Kenaikan kinerja keuangan tersebut terjadi ketika volume produksi dan penjualan batu bara PTBA masih berada di bawah capaian tahun sebelumnya. Hingga September 2026, produksi batu bara mencapai 34,41 juta ton, sedangkan volume penjualan tercatat sebesar 32,23 juta ton.
Baca Juga:PTBA dan UGM Uji Pupuk Kalium Humat dari Batu Bara untuk Tingkatkan Hasil Panen
Meski demikian, kinerja operasional menunjukkan pemulihan pada kuartal III 2026. Dibandingkan kuartal sebelumnya, produksi meningkat 17 persen, penjualan naik 2 persen, dan harga jual rata-rata tumbuh 7 persen.
Harga Batu Bara Menguat, Ekspor Tumbuh
Penguatan harga batu bara turut menopang pendapatan PTBA. Sepanjang Januari–September 2026, harga jual rata-rata perusahaan meningkat 18 persen secara tahunan, sejalan dengan kenaikan indeks batu bara Newcastle sebesar 25 persen dan ICI-3 sebesar 26 persen.
Dari sisi pasar, penjualan domestik masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi 52 persen dari total volume penjualan. Sementara itu, pasar ekspor menyumbang 48 persen.
Volume penjualan domestik tercatat sebesar 16,62 juta ton, turun dibandingkan 18,82 juta ton pada periode yang sama tahun lalu. Sebaliknya, penjualan ekspor meningkat menjadi 15,61 juta ton dari sebelumnya 14,88 juta ton.
Lima negara tujuan ekspor terbesar PTBA meliputi Bangladesh, Vietnam, India, Kamboja, dan Thailand.