- Rumah Makan Pecel Lele Pakjo di Palembang menghemat pengeluaran bulanan berkat penggunaan gas bumi dari PGN.
- Pertamina Hulu Rokan Zona 4 menerapkan metode batch drilling di Sumur GNK-115 untuk menghemat waktu serta biaya pengeboran.
- Sumur GNK-115 menjalani uji produksi awal pada 5 Oktober 2026 dengan menghasilkan potensi aliran minyak dan gas.
SuaraSumsel.id - Jam makan tiba, dan dapur Rumah Makan Pecel Lele Pakjo di Palembang, Sumatera Selatan, makin bergerak cepat. Dari ruang makan, pesanan datang bersahutan. Di dapur, bunyi peralatan masak beradu dan kepulan asap kian naik ke langit-langit.
Sekitar 20 kompor berapi biru menyala di hadapan para juru masak. Belasan di antaranya dipakai menggoreng ayam, ikan serta menumis bumbu. Tiga kompor lain menangani tahap akhir memasak sebelum hidangan diantar ke meja pelanggan. Selama jam operasional, kompor-kompor itu nyaris tidak pernah padam.
Yaskino, kepala koki Pakjo, memakai gas bumi PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) selama hampir dua dekade. Menurut perkiraannya, pemakaian gas bumi menghemat pengeluaran usaha sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta setiap bulan.
Rumah Makan Pecel Lele Pakjo adalah satu dari pelanggan gas bumi PGN di Palembang. Dalam catatan penagihan Juli 2026, kota ini telah memiliki 6.870 pelanggan PGN. Rinciannya 6.574 rumah tangga, 180 usaha kecil, serta 116 pelanggan industri dan komersial.
Baca Juga:Hari Listrik Nasional ke-81, Pertamina Kilang Plaju Dukung Kemandirian Energi lewat PLTMh
Layanan gas bumi ke dapur-dapur seperti ini berada dalam sistem energi yang lebih luas, dari produksi di hulu hingga distribusi ke pelanggan. Di hulu, upaya menjaga dan menambah produksi dari lapangan yang sudah lama beroperasi terus berjalan.
Salah satunya di Struktur Gunung Kemala, Prabumulih, Sumatera Selatan. Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 mengebor Sumur GNK-115 dengan metode batch drilling, yakni teknologi pengerjaan beberapa sumur dalam satu kawasan secara berurutan memakai rig yang sama. Dengan kata lain ini, tahapan pembongkaran hingga pemasangan rig tidak perlu diulang untuk setiap sumur yang berdekatan ini.
Metode tersebut telah dipakai pada pengeboran GNK-115 sejak 21 Juli 2026. Alhasil, pengeboran telah selesai dalam 55 hari kerja, atau 16 hari kerja lebih cepat dari target yang seharusnya 71 hari kerja. Penyusutan hari kerja, juga berimbas pada biaya yang terpakai hanya 76,25 persen dari anggaran seharusnya.
Selain itu, aplikasi metode ini juga hanya membutuhkan lahan yang lebih kecil. Dari perkiraan sekitar 10 hektar menyusut menjadi 8 hektar, akibat adanya pengaturan lokasi sumur dan fasilitas pengeboran yang berdekatan pada aktivitas pengeboran.
Metode Batch drilling juga pernah dibahas di forum industri internasional. Sebuah makalah teknis yang dipresentasikan pada konferensi minyak dan gas di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, tahun 2024, mengungkapkan peluang efisiensi waktu dan biaya lewat metode ini meski kondisi geologi dan karakteristik lapangan berbeda di tiap wilayah.
Baca Juga:Relawan Pertamina Kilang Plaju Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Warga di 3 Wilayah
Di lingkungan PHR Zona 4, metode ini lebih dulu dipakai di Struktur Benuang, wilayah kerja Pertamina EP Adera Field, sejak 2025. Pada 30 November 2025, Adera Field mencatat produksi minyak mencapai 5.214 barel per hari (BOPD) serta gas 19,15 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD). Angka itu menjadi pencapaian tertinggi sejak lapangan tersebut dikelola Pertamina pada 1983.
Sementara pada Sumur GNK-115 telah menjalani uji produksi awal pada 5 Oktober 2026 dengan menghasilkan potensi aliran minyak 2.423,29 BOPD serta gas 1,95 MMSCFD.

Merawat Lapangan Matur
Sebagian besar lapangan PHR Zona 4 memang tergolong matur yakni situasi yang rawan mengalami penurunan produksi alamiah (natural decline). Namun tren penurunan itu berbalik sejak 2022.
Pada 2025, produksi minyak Zona 4 mencapai 27.642 BOPD, atau mengalami kenaikan 6,6 persen dari tahun sebelumnya. Kenaikan itu berasal dari dua jalur yakni pengeboran sumur baru, serta intervensi pada sumur yang sudah lebih matang, yakni ada lewat workover dan well intervention.
Pencapaian pengeboran membuat PHR Zona 4 menerima Best Production Performance Award-Infill and Step-Out Drilling 2025 dari SKK Migas, serta lima penghargaan dari Subholding Upstream (SHU) Pertamina.