Jongot, Tradisi Orang Musi yang Bertahan Ratusan Tahun Saat Kebun Tumbuh Menjadi Hutan

Jongot adalah tradisi agroforestri masyarakat Musi yang bukan sekadar kebun, melainkan identitas kolektif, warisan sejarah, serta penjaga ekosistem pangan dan air yang kini terancam.

Tasmalinda
Minggu, 21 Juni 2026 | 07:10 WIB
Jongot, Tradisi Orang Musi yang Bertahan Ratusan Tahun Saat Kebun Tumbuh Menjadi Hutan
Peneliti Jongot sekaligus dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Raden Fatah Palembang, Ainur Ropik dalam festival lahan basah
Baca 10 detik
  • Masyarakat Musi di Kabupaten PALI melestarikan Jongot sebagai warisan budaya dan identitas kolektif yang telah bertahan selama dua abad.
  • Jongot merupakan sistem agroforestri tradisional yang berfungsi menjaga sumber pangan, ketersediaan air, serta keberagaman ekosistem di lahan basah.
  • Tradisi ini menghadapi tantangan serius berupa alih fungsi lahan dan minimnya regenerasi pengetahuan dari generasi muda saat ini.

SuaraSumsel.id - Di tengah Festival Lahan Basah yang digelar di Desa Tempirai, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, pada 16–21 Juni 2026, perhatian pengunjung tidak hanya tertuju pada pameran budaya, bentang lahan basah, dan kehidupan masyarakat perairan Musi. Salah satu tema yang paling menyita perhatian adalah Jongot, tradisi masyarakat Musi yang telah bertahan selama ratusan tahun dan menjadi cara mereka menjaga pangan, air, sekaligus hubungan dengan alam.

Bagi sebagian orang, Jongot mungkin terlihat seperti kebun buah biasa. Namun bagi masyarakat Musi, Jongot adalah sesuatu yang jauh lebih kompleks. Ia merupakan ruang hidup yang diwariskan lintas generasi, tempat tumbuhnya beragam pohon buah, tanaman obat, sumber air, hingga pengetahuan yang membentuk identitas masyarakat setempat.

Peneliti Jongot sekaligus Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Raden Fatah Palembang, Ainur Ropik, mengatakan selama ini banyak orang memahami Jongot hanya sebagai kebun tradisional.

Padahal, hasil penelitiannya menunjukkan Jongot merupakan bagian dari identitas kolektif masyarakat Musi yang telah bertahan lebih dari dua abad. Temuan tersebut menjadi dasar disertasinya berjudul Politik Ekologi dalam Praktik Agroforestri Tradisional: Jongot sebagai Artikulasi Identitas Kolektif Suku Musi di Sumatera Selatan.

Baca Juga:Budayawan, Arkeolog, dan Akademisi Ramaikan Festival Lahan Basah Pertama Indonesia, Digelar di PALI

"Orang sering melihat Jongot sebagai kebun buah. Padahal Jongot adalah lanskap budaya yang membentuk cara masyarakat Musi hidup, mengelola alam, dan mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya," ujar Ainur saat menjadi pembicara dalam Festival Lahan Basah Tempirai.

Menurutnya, keunikan Jongot terletak pada cara masyarakat mengelola lahan.

Berbeda dengan perkebunan modern yang umumnya hanya menanam satu komoditas, Jongot ditumbuhi berbagai jenis tanaman secara bersamaan. Durian, petai, duku, kemang, aren, rambai, cempedak hingga pohon-pohon kayu besar tumbuh dalam satu hamparan lahan. "Awalnya masyarakat menanam kebutuhan hidup. Tetapi karena dipertahankan dan diwariskan terus-menerus, kawasan itu akhirnya berkembang menyerupai hutan," katanya.

Dari Kebun Menjadi Bentang Hutan

Ainur menjelaskan Jongot lahir dari cara masyarakat Musi beradaptasi dengan bentang lahan basah Sungai Musi. Pada masa lalu, masyarakat membangun permukiman di kawasan talang atau daratan yang relatif aman dari banjir. Di sekitar permukiman itulah mereka menanam berbagai tanaman yang dibutuhkan keluarga.

Baca Juga:Bank Sumsel Babel Perkuat Tata Kelola dan Perlindungan Aset Lewat Kerja Sama dengan Kejari PALI

Berbeda dengan pola pertanian modern, masyarakat tidak membersihkan seluruh vegetasi yang ada. Pohon-pohon besar tetap dipertahankan, sementara tanaman baru ditambahkan sesuai kebutuhan.

Proses yang berlangsung selama puluhan hingga ratusan tahun itulah yang kemudian membentuk lanskap Jongot. "Kalau dilihat hari ini, banyak Jongot yang tampak seperti hutan. Tetapi sebenarnya itu hasil dari proses panjang pengelolaan masyarakat," ujarnya.

Dalam disertasinya, Ainur menyebut fenomena tersebut sebagai landscape-based identity atau identitas berbasis lanskap, yakni identitas yang terbentuk melalui hubungan panjang antara masyarakat dan lingkungan tempat mereka hidup.

Menjaga Pangan dan Air

Penjelasan Ainur diamini Ibrahim, salah satu pewaris Jongot di PALI. Menurutnya, sejak dahulu Jongot tidak pernah hanya berfungsi sebagai kebun buah. "Mulai dari buah, batang sampai akar semuanya bermanfaat," kata Ibrahim.

Ia menceritakan, masyarakat dahulu membuka Jongot di sekitar kawasan yang dekat dengan sumber air karena sungai menjadi jalur transportasi utama.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak