- Kilang minyak bersejarah di tepian Sungai Musi, Palembang, kini mulai memproduksi bahan bakar diesel B50.
- Pemerintah Indonesia resmi meluncurkan program B50 pada Juli 2026 guna menekan angka impor solar nasional.
- Penyaluran bahan bakar campuran sawit tersebut melibatkan pengujian ketat serta kesiapan rantai pasok hingga September 2026.
SuaraSumsel.id - Sabtu, 14 Mei 1927. Di halaman kedua surat kabar De Sumatra Post, di antara iklan biskuit dan pengumuman lelang perabot, terselip satu berita berjudul Een nieuw petroleum-raffinagebedrijf.
Berita berbahasa Belanda itu mengabarkan sebuah kilang minyak baru di Soengei Gerong, Keresidenan Palembang. Anak judulnya menyebut biaya pembangunannya: 12 juta gulden.
Pemiliknya Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij (N.K.P.M.), badan usaha yang berkantor di Den Haag. Minyak mentahnya mengalir lewat pipa sepanjang 130 kilometer dari Talang Akar, dengan kapasitas 4.000 barel per hari. Awalnya pun tidak mulus. Dari tujuh konsesi yang dikuasai di Palembang, baru Talang Akar yang tercatat berproduksi.
Hampir satu abad kemudian, kawasan pengolahan minyak di tepian Musi itu kembali mencatat perubahan. Pada 22 Juli 2026, Kilang Plaju mengirim 8.230 kiloliter bahan bakar diesel B50 ke Integrated Terminal Palembang. B50 adalah campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit, atau fatty acid methyl ester (FAME), dan 50 persen solar.
Baca Juga:Nyala Biru di Dapur, Napas Baru di Hulu
Pengiriman perdana itu bagian dari penerapan B50 untuk menekan ketergantungan Indonesia pada impor solar. VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menyebutnya tonggak penting bagi kemandirian dan ketahanan energi nasional.
Menurut Kitty, kesiapan fasilitas, pengendalian mutu, dan keselamatan disiapkan lebih dulu. "Solar dan FAME dicampur bertahap sampai memenuhi spesifikasi, diuji di laboratorium, lalu dikirim ke terminal BBM untuk didistribusikan," ujarnya kepada awak media.
Penyaluran berlanjut setelah pengiriman perdana. Hingga September 2026, Kilang Plaju telah menyalurkan 249.796 kiloliter B50 untuk transportasi, industri, serta konsumen public service obligation (PSO) dan non-PSO. Area Manager Communication, Relationship & CSR RU Plaju, Siti Fauzia, mengatakan evaluasi penerapan B50 sejak 1 Juli hingga September 2026 menunjukkan operasional secara umum berjalan maksimal.
Dua Kilang, Satu Sungai
Kilang di tepian Musi itu menyimpan riwayat yang lebih panjang daripada satu nama dan satu pengelola. Di kawasan ini ada dua kilang dengan asal-usul berbeda yakni Plaju dan Sungai Gerong.
Baca Juga:Hari Listrik Nasional ke-81, Pertamina Kilang Plaju Dukung Kemandirian Energi lewat PLTMh
Plaju berdiri lebih dulu, sekitar 1904, atas prakarsa Shell. Sungai Gerong mulai beroperasi pada Mei 1926, lima tahun setelah N.K.P.M. menemukan ladang minyak Talang Akar. Dengan begitu, tahun ini Sungai Gerong genap seabad.
Sejumlah catatan sejarah perminyakan menyebut kapasitas awal Sungai Gerong sekitar 3.500 barel per hari, tak jauh dari angka 4.000 barel yang diberitakan De Sumatra Post. Kapasitasnya naik menjadi 40.000 barel per hari pada 1936 dan 46.000 barel per hari sejak 1940.
Pada 1933, Standard Oil of New Jersey, induk N.K.P.M., bersama Socony membentuk Standard Vacuum Oil Company, atau Stanvac, untuk menjalankan usaha di Asia. Sejak itu Sungai Gerong juga dikenal sebagai kilang Stanvac.
Perang Dunia II mengubah nasib keduanya. Pasukan Jepang menyerbu kilang Plaju pada 1942 dan membakar sebagian fasilitasnya. Sementara kilang Sungai Gerong ikut diduduki Jepang hingga 1945. Setelah perang usai, pengolahan minyak berjalan lagi.
Memasuki 1960-an, kedua kilang masuk ke pengelolaan negara. Catatan tentang pengambilalihan Plaju menyebut tahun 1965 oleh Pertamin, sedangkan sumber lain mencatat 1966 oleh Permina. Keduanya bergabung pada 1968 dan membentuk Pertamina. Kedua kilang kemudian dikelola sebagai satu kesatuan.
Pada 1972, jalur pipa kedua kilang disatukan. Sungai Komering yang memisahkan Plaju dan Sungai Gerong dihubungkan dengan jembatan agar kendaraan dan pekerja bisa berlalu-lalang. Sejak itu keduanya dikenal sebagai Refinery Unit III Plaju-Sungai Gerong. Struktur organisasi Pertamina kembali berubah, dan pada 2026 kilang ini berada di bawah Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Plaju.