- Zelvan Ramadhan telah menggunakan nomor IM3 yang sama sejak tahun 2012 untuk mendukung aktivitas digitalnya.
- Konektivitas internet berperan penting dalam membantu Zelvan bertransformasi dari seorang siswa hingga menjadi pekerja lepas profesional.
- Indosat melalui brand Tri terus memperkuat jaringan di Palembang guna mendukung produktivitas kerja dan beragam kebutuhan digital.
SuaraSumsel.id - Nomor yang Tak Pernah Berganti, Kisah Zelvan Bertumbuh dari Bangku SMP hingga Jadi Freelancer
PALEMBANG, SuaraSumsel.id – Sebuah nomor telepon ternyata bisa menyimpan perjalanan hidup seseorang.
Bagi Zelvan Ramadhan, nomor IM3 yang dibelinya saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Muara Enim pada 2012 bukan sekadar deretan angka untuk berkomunikasi.
Nomor itu telah menemaninya selama hampir 14 tahun. Melewati masa sekolah, bangku kuliah, hingga kini menjadi bagian dari kesehariannya mencari penghasilan sebagai freelancer di tengah kehidupan yang semakin terkoneksi secara digital.
“Saya tidak pernah menyangka nomor yang saya beli saat SMP masih menemani saya mencari penghasilan sampai sekarang,” ujar Zelvan.
Baca Juga:Jelajah Tri: Dari Benteng Kuto Besak hingga Ampera, Palembang Makin Terkoneksi di Era Digital
Kalimat itu menggambarkan perubahan besar yang terjadi dalam hidupnya. Ketika pertama kali menggunakan layanan seluler pada 2012, kebutuhan digitalnya masih sederhana. Namun seiring bertambahnya usia dan berkembangnya teknologi, internet perlahan berubah dari sekadar sarana komunikasi menjadi pintu menuju pengetahuan dan pekerjaan.
Saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi, koneksi internet menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari aktivitas akademiknya. YouTube digunakan untuk mencari video pembelajaran, Zoom menjadi ruang pertemuan virtual, sementara Google Scholar, jurnal ilmiah, dan buku daring menjadi sumber referensi untuk menyelesaikan berbagai tugas kuliah. “Waktu kuliah dipakai untuk YouTube, Zoom, buku online, mencari referensi, jurnal, dan Google Scholar,” katanya.
Dunia yang dahulu mungkin harus dijangkau dengan mendatangi rak-rak perpustakaan, kini berada dalam genggaman. Sebuah ponsel dan koneksi internet membuka akses ke ribuan sumber pengetahuan dalam hitungan detik.
Dari Mencari Ilmu hingga Mencari Penghasilan
Selepas kuliah, kebutuhan digital Zelvan tidak berkurang. Justru internet semakin melekat dalam aktivitas kesehariannya sebagai freelancer. Koneksi digital digunakannya untuk mencari referensi pekerjaan dan menunjang berbagai kebutuhan saat bekerja. Bagi pekerja lepas seperti Zelvan, internet bukan lagi sebatas sarana hiburan. Konektivitas telah menjadi bagian dari alat kerja.
Baca Juga:Internet Jadi Kebutuhan Harian, Tri Bidik Pengguna Gaming dan AI di Palembang
Cara Zelvan membeli paket internet pun mengikuti ritme pekerjaannya. Ketika tersedia WiFi, ia dapat memilih paket harian sekitar Rp10 ribuan. Namun ketika harus sepenuhnya bergantung pada jaringan seluler, kebutuhan internetnya dapat mencapai sekitar Rp120 ribu per bulan.
Ia juga kerap memanfaatkan promo paket mulai dari Rp20 ribuan hingga sekitar Rp60 ribuan, termasuk pilihan paket unlimited sesuai kebutuhan. “Kalau ada WiFi, cukup paket harian. Kalau tidak ada WiFi, bisa sekitar Rp120 ribu per bulan,” ujarnya.
Zelvan biasanya membeli paket melalui layanan *888#. Selain kemudahan memilih paket, ia juga memanfaatkan poin yang diperoleh dari transaksi dan dapat ditukarkan kembali menjadi paket internet. “Setiap beli pulsa dapat poin dan bisa ditukar paket,” katanya.
Jaringan yang stabil di wilayah perkotaan menjadi alasan lain baginya untuk tetap mempertahankan nomor yang sama selama belasan tahun. Namun cerita Zelvan sesungguhnya lebih besar daripada persoalan harga paket, promo, ataupun besarnya kuota.
Perjalanannya memperlihatkan bagaimana konektivitas digital dapat ikut tumbuh bersama seseorang: dari membantu seorang pelajar mencari pengetahuan hingga memungkinkan seorang anak muda bekerja dan memperoleh penghasilan.
Pengalaman Zelvan bukanlah cerita tunggal. Kebutuhan masyarakat terhadap internet terus berkembang seiring semakin banyaknya aktivitas yang berpindah ke ruang digital. Di Palembang, internet kini digunakan untuk berkomunikasi, belajar, bekerja, menikmati hiburan, bermain gim, membuat konten, hingga memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).