Sepekan Festival Lahan Basah Tempirai, Merawat Budaya dan Pengetahuan Masyarakat Musi

Festival Lahan Basah di Desa Tempirai, PALI, menekankan bahwa menjaga lahan basah adalah upaya merawat peradaban, kearifan lokal, serta ekosistem yang menjadi akar budaya masyarakat Sumsel.

Tasmalinda
Sabtu, 27 Juni 2026 | 15:15 WIB
Sepekan Festival Lahan Basah Tempirai, Merawat Budaya dan Pengetahuan Masyarakat Musi
pembukan Festival Lahan Basah Tempirai yang digelar sepekan [dok Rumah Sriksetra]
Baca 10 detik
  • Festival Lahan Basah Tempirai digelar di PALI, Sumatera Selatan, pada 16–21 Juni 2026 untuk merayakan kebudayaan berbasis air.
  • Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan masyarakat dan akademisi untuk membahas pentingnya pelestarian ekosistem serta kearifan lokal lahan basah.
  • Festival menekankan bahwa menjaga lahan basah adalah upaya krusial dalam melindungi identitas, pengetahuan tradisional, dan peradaban masyarakat setempat.

SuaraSumsel.id - Selama enam hari, Desa Tempirai Selatan di Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), tak sekadar menjadi lokasi penyelenggaraan sebuah festival. Desa yang dikelilingi sungai, lebak, dan rawa itu berubah menjadi ruang belajar tentang bagaimana bentang lahan basah telah membentuk kehidupan masyarakat Sumatera Selatan selama ratusan tahun.

Di sana, tokoh adat berbicara tentang asal-usul budaya yang lahir dari perairan. Akademisi menjelaskan kekayaan ikan air tawar yang mulai menghilang. Peneliti mengulas sejarah permukiman, sementara pegiat lingkungan mengingatkan ancaman alih fungsi lahan. Ada pula pembahasan mengenai perempuan yang selama ini menjadi penjaga pengetahuan masyarakat lahan basah.

Itulah benang merah Festival Lahan Basah Tempirai bertajuk "Bahagia Bersama Air dan Tanah" yang digelar pada 16–21 Juni 2026. Festival yang didukung Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiaraya dan LPDP itu tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni dan budaya, tetapi juga menjadi ruang bertemunya pengetahuan lokal dan ilmu pengetahuan untuk membicarakan masa depan lahan basah Sumatera Selatan.

Sepanjang sepekan, masyarakat mengikuti diskusi budaya, lokakarya, pameran foto, pertunjukan sastra tutur, hiking Jongot, lomba melebung, pasar rakyat, hingga pesta adat. Namun lebih dari rangkaian acara, festival ini menghadirkan satu pesan yang sama dari seluruh narasumber: menjaga lahan basah berarti menjaga peradaban yang lahir dari air.

Baca Juga:Jongot, Tradisi Orang Musi yang Bertahan Ratusan Tahun Saat Kebun Tumbuh Menjadi Hutan

Dari Air Lahir Budaya

Bagi tokoh adat Tempirai, Amrullah Marsup, lahan basah bukan sekadar bentang alam yang dipenuhi sungai, rawa, atau lebak. Di situlah masyarakat Musi membangun kehidupan yang kemudian melahirkan adat istiadat, identitas, hingga berbagai perlengkapan budaya.

Menurutnya, sejak masa ketika transportasi masih mengandalkan jalur sungai, masyarakat hidup sangat bergantung pada air. Cara mereka membangun rumah, membuat alat tangkap ikan, memanfaatkan tanaman, hingga menyelenggarakan upacara adat tidak bisa dipisahkan dari lingkungan lahan basah.

"Lahan basah melahirkan tradisi masyarakat. Dari sanalah tumbuh identitas, perlengkapan adat, sampai cara hidup masyarakat yang memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana," kata Amrullah.

Karena itu, ia menilai menjaga lahan basah tidak hanya berarti melindungi lingkungan, tetapi juga menjaga akar kebudayaan masyarakat Musi.

Baca Juga:Ternyata Budaya Kopi Palembang Dipengaruhi Arab, India, Persia dan Tiongkok

"Kalau lingkungan berubah, kebudayaan juga ikut berubah," ujarnya.

Ancaman Tak Hanya Kehilangan Lahan

Pandangan serupa disampaikan aktivis lingkungan dari Hutan Kita Institute (HaKI), Adios Syafri. Menurutnya, lahan basah Sumatera Selatan menyimpan kekayaan ekologis sekaligus pengetahuan yang berkembang bersama masyarakat selama ratusan tahun. Namun dalam beberapa dekade terakhir, kawasan tersebut terus menghadapi tekanan akibat alih fungsi menjadi perkebunan monokultur, terutama karet dan sawit.

"Lahan basah bukan hanya menyimpan air. Di dalamnya ada pengetahuan, budaya, dan keanekaragaman hayati. Kalau bentang alamnya berubah, yang hilang bukan hanya ekosistem, tetapi juga cara masyarakat memahami dan merawat lingkungannya," katanya.

Adios menilai isu lahan basah sering dianggap jauh dari kehidupan sehari-hari, padahal dampaknya sangat dekat dengan masyarakat.

"Kita sering merasa isu lingkungan itu jauh. Padahal ketika ikan-ikan yang dulu mudah ditemukan sekarang semakin sulit dicari, ketika hasil tangkapan terus menurun, itu sebenarnya tanda bahwa ekosistem kita sedang berubah," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak