- Telok Abang adalah telur rebus merah yang ditancapkan pada miniatur kendaraan untuk merayakan kemerdekaan di Palembang sejak 1960-an.
- Penelitian tahun 2022 menunjukkan tradisi khas perayaan Agustus tersebut kini menghadapi tantangan karena penjualannya terus mengalami penurunan drastis.
- Tradisi lokal hasil akulturasi budaya ini memiliki nilai sejarah penting yang memerlukan upaya pelestarian agar tidak punah.
SuaraSumsel.id - Setiap memasuki Agustus, ada satu benda yang pernah begitu lekat dengan suasana kemerdekaan di Kota Palembang: Telok Abang. Telur rebus berwarna merah itu biasanya ditancapkan pada miniatur kapal atau pesawat dan dijual sebagai mainan sekaligus suvenir khas Palembang.
Namun, tradisi tersebut perlahan menghadapi tantangan. Penelitian tentang eksistensi Telok Abang di Palembang menyebut benda yang identik dengan perayaan Agustusan itu semakin sulit ditemui dan penjualannya mengalami penurunan.
Dalam penelitian yang diterbitkan Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah pada 2022, salah satu pedagang yang diwawancarai menyebut penjualan Telok Abang hanya berkisar empat hingga lima buah per hari. Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran menurunnya minat terhadap tradisi yang sebelumnya mudah ditemukan menjelang HUT Kemerdekaan RI.
Bukan sekadar telur merah
Baca Juga:Udara Palembang Tidak Sehat Hari Ini, PM2,5 114 Diduga Dipengaruhi Karhutla
Telok Abang memiliki ciri khas berupa telur ayam atau bebek yang direbus lalu diberi warna merah. Telur tersebut kemudian ditancapkan pada miniatur kapal laut atau pesawat yang dibuat dari kayu maupun kardus.
Penelitian tersebut menyebut Telok Abang menjadi salah satu ciri khas Palembang dalam menyambut peringatan Hari Kemerdekaan. Tradisi ini juga memiliki makna simbolik, dengan warna merah dikaitkan dengan keberanian dan perlawanan, sementara telur menjadi simbol kehidupan.
Miniatur kapal Telok Abang sendiri disebut berkembang sekitar 1960-an, seiring kreativitas masyarakat Palembang membuat miniatur kapal laut dan pesawat sebagai bagian dari kemeriahan perayaan kemerdekaan.
Di balik telur merah tersebut ternyata terdapat cerita akulturasi budaya. Penelitian mengaitkan tradisi telur merah dengan masyarakat Tionghoa. Telur merah dalam tradisi tersebut dikenal antara lain dalam perayaan Man Yue, ketika bayi berusia satu bulan. Dalam perkembangannya di Palembang, telur merah kemudian menjadi bagian dari tradisi menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia.
Telok Abang akhirnya berkembang menjadi salah satu bentuk kearifan lokal Palembang yang memadukan unsur budaya, kreativitas masyarakat dan perayaan kemerdekaan.
Baca Juga:PLN Jadwalkan Pemadaman Palembang 12-15 Agustus, Cek Wilayah dan Jamnya
Tradisi yang perlu diwariskan
Persoalan Telok Abang bukan hanya soal berkurangnya penjualan. Ketika pembuat dan pembelinya semakin sedikit, keberlangsungan tradisi juga ikut dipertaruhkan.
Penelitian tersebut menyebut kearifan lokal memiliki nilai penting bagi pelestarian budaya sekaligus dapat menjadi daya tarik pariwisata. Telok Abang juga dinilai mencerminkan kreativitas masyarakat Palembang dan latar belakang sejarah kota sebagai kawasan yang memiliki hubungan kuat dengan budaya sungai.
Karena itu, Telok Abang bukan sekadar telur merah yang muncul setiap Agustus. Di dalamnya terdapat cerita tentang kemerdekaan, kreativitas, akulturasi budaya dan identitas Palembang.
Pertanyaannya kini sederhana: ketika tradisi ini semakin sulit ditemui, apakah generasi muda Palembang masih akan mengenal Telok Abang pada tahun-tahun mendatang?