- Luas kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan mencapai 1.926,2 hektare sepanjang Januari hingga Juli 2026.
- Kabupaten Ogan Komering Ulu mencatat wilayah dengan luasan kebakaran terbesar mencapai 516 hektare pada periode tersebut.
- Upaya pemadaman terkendala kekeringan sumber air serta ketiadaan awan potensial untuk pelaksanaan modifikasi cuaca.
SuaraSumsel.id - Upaya mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan menghadapi tantangan baru di tengah musim kemarau. Ketika kondisi lahan semakin kering dan sumber air di sejumlah lokasi mulai sulit diperoleh, upaya mendatangkan hujan melalui modifikasi cuaca juga terkendala kondisi awan.
Kondisi ini menjadi perhatian karena luas karhutla Sumsel sepanjang Januari hingga Juli 2026 telah mencapai 1.926,2 hektare, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 1.382,4 hektare. Data tersebut masih berupa rekapitulasi sementara.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, mengatakan hampir seluruh lokasi kebakaran mulai mengalami kesulitan mendapatkan sumber air akibat hari tanpa hujan yang semakin panjang. Di sisi lain, upaya modifikasi cuaca juga belum berjalan sesuai target karena kondisi atmosfer tidak menyediakan cukup awan potensial untuk menghasilkan hujan.
Upaya modifikasi cuaca atau Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menjadi salah satu cara untuk membantu menghadirkan hujan di wilayah yang membutuhkan. Namun, hujan buatan tidak bisa dilakukan begitu saja.
Baca Juga:Karhutla Sumsel Makin Sulit Dipadamkan, Sumber Air Mulai Jadi Masalah
Dibutuhkan awan potensial yang dapat menjadi sasaran penyemaian. Ketika awan yang memenuhi kondisi tersebut tidak tersedia, pelaksanaan modifikasi cuaca menjadi terbatas.
Kondisi itu menjadi persoalan tersendiri ketika Sumsel sedang menghadapi periode tanpa hujan yang semakin panjang.
Di darat, sumber air untuk pemadaman mulai sulit ditemukan. Sementara dari sisi cuaca, kesempatan untuk mendapatkan tambahan hujan juga tidak selalu tersedia.
Data Januari-Juli 2026 menunjukkan luas karhutla di Sumatera Selatan mencapai 1.926,2 hektare. Dari total tersebut, sekitar 1.857,7 hektare merupakan lahan mineral, sedangkan 68,5 hektare merupakan lahan gambut.
Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) menjadi wilayah dengan luasan karhutla terbesar dalam rekap tersebut, mencapai 516 hektare.
Baca Juga:Karhutla Sumsel Tembus 664,97 Hektare, 1.077 Kejadian Tercatat hingga Agustus
Berikutnya Banyuasin tercatat 274,4 hektare, Ogan Ilir 272,5 hektare, Ogan Komering Ilir 230,3 hektare dan Musi Banyuasin 228 hektare.
Angka tersebut menunjukkan tekanan karhutla tidak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi tersebar di sejumlah kabupaten.
Kondisi cuaca yang tidak mendukung modifikasi hujan menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak dapat sepenuhnya bergantung pada datangnya hujan.
Setiap titik api perlu segera ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Terlebih, luas karhutla Sumsel hingga Juli 2026 sudah mencapai 1.926,2 hektare dan masih berpotensi berubah seiring pemutakhiran data. Panjanganya hari tanpa hujan juga menjadi peringatan bagi wilayah yang memiliki lahan rentan terbakar.