Masak Tepi Sungai 2026 Digelar di Kampung Perigi, Mengungkap Budaya Kopi Palembang

Gelaran Masak Tepi Sungai 2026 akan berlangsung pada 20-21 Juni 2026 di Kampung Perigi, Palembang, membahas tradisi kopi.

Tasmalinda
Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:48 WIB
Masak Tepi Sungai 2026 Digelar di Kampung Perigi, Mengungkap Budaya Kopi Palembang
ilustrasi budaya kopi di Palembang, Sumatera Selatan
Baca 10 detik
  • Gelaran Masak Tepi Sungai 2026 akan berlangsung pada 20-21 Juni 2026 di Kampung Perigi, Palembang, membahas tradisi kopi.
  • Acara mengeksplorasi pengaruh budaya Arab, India, Persia, dan Tiongkok terhadap perkembangan kuliner kopi serta roti khas Palembang.
  • Berbagai kegiatan edukatif seperti diskusi, workshop, dan walking tour diselenggarakan untuk melestarikan identitas budaya bagi generasi muda.

SuaraSumsel.id - Tradisi minum kopi di Palembang ternyata menyimpan kisah panjang yang dipengaruhi beragam budaya dunia, mulai dari Arab, India, Persia hingga Tiongkok. Kekayaan sejarah itu akan menjadi tema utama dalam gelaran Masak Tepi Sungai 2026 bertajuk Kopi & Roti yang akan berlangsung pada 20–21 Juni 2026 di Kampung Perigi, kawasan bersejarah di tepian Sungai Musi.

Berbeda dari festival kuliner pada umumnya, Masak Tepi Sungai tahun ini tidak hanya menghadirkan sajian makanan dan minuman, tetapi juga mengajak masyarakat menelusuri jejak budaya kopi yang telah menjadi bagian dari kehidupan warga Palembang selama berabad-abad. Rangkaian acara akan diisi diskusi budaya, workshop, walking tour, hingga aktivitas fotografi dan sketsa di kawasan kampung tua tersebut.

Penyelenggara menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah dan budaya Palembang. Sejarawan RM Ali Hanafiah, misalnya, akan membahas kekayaan roti dan kue khas Palembang yang selama ini menjadi teman setia dalam tradisi minum kopi masyarakat kota tertua di Indonesia tersebut. Menurutnya, ragam roti dan kue yang berkembang di Palembang mencerminkan pertemuan berbagai kebudayaan yang pernah singgah dan berkembang di kota ini.

Sementara itu, fotografer sekaligus pemilik restoran Teh Aba, Obay Minoral, akan mengangkat kisah toko-toko kopi yang dibangun komunitas peranakan India di kawasan Plaju. Kehadiran mereka turut membentuk budaya ngopi khas Palembang yang dikenal hingga sekarang, termasuk popularitas martabak telur kuah kari yang menjadi menu andalan sejumlah toko kopi legendaris.

Baca Juga:Minggu Besok, Tari Perang Menteng Tampil di Lawang Borotan BKB Palembang

Cerita lain datang dari Mardho Tilla atau yang lebih dikenal sebagai Mardho Harum. Warga kampung tua di sekitar Sungai Sekanak ini akan berbagi kisah tentang kebiasaan masyarakat Palembang menikmati kopi pada masa lalu. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana kopi bukan sekadar minuman, melainkan ruang interaksi sosial yang telah diwariskan lintas generasi.

Nuansa budaya Arab juga akan diangkat melalui paparan Abu Bakar Syukri dari Kampung Al-Munawwar. Ia akan menjelaskan tradisi menikmati kopi di kalangan peranakan Arab Palembang. Menariknya, di wilayah hulu Sumatera Selatan, kopi dikenal dengan istilah kawe, yang diduga berasal dari kata Qahwah dalam bahasa Arab. Fakta ini menunjukkan kuatnya pengaruh budaya Timur Tengah dalam sejarah kopi di wilayah Palembang dan sekitarnya.

Menurut Laila Dimyati, pemegang sertifikasi Evolved Q Grader dan juri kopi bersertifikat ICE, Palembang sejak lama menjadi titik pertemuan berbagai peradaban besar dunia. Interaksi tersebut tidak hanya membentuk karakter masyarakatnya, tetapi juga memengaruhi tradisi kuliner dan budaya minum kopi yang berkembang hingga saat ini. Dalam sesi khusus, ia akan mengajak peserta menelusuri keunikan budaya kopi Palembang yang berbeda dari daerah lain di Indonesia.

Selain diskusi, warga Kampung Perigi juga akan terlibat langsung dalam berbagai kegiatan. Pengunjung dapat mengikuti workshop membuat cetakan kue berbahan aluminium bersama perajin terakhir yang masih bertahan di kampung tersebut, Masagus Nasir. Ada pula workshop memasak kue tradisional, walking tour menyusuri lorong-lorong kampung tua, hingga sesi berburu foto dan sketsa bersama komunitas seni Palembang.

Sahabat Cagar Budaya selaku penyelenggara berharap Masak Tepi Sungai tidak hanya menjadi ruang perayaan kuliner, tetapi juga wadah untuk mengenalkan kembali identitas budaya Palembang kepada generasi muda. Melalui kopi, roti, dan cerita dari warga kampung, pengunjung diajak melihat bahwa sejarah Palembang sesungguhnya hidup dalam tradisi sehari-hari yang masih bertahan hingga kini.

Baca Juga:Kampung Tua di Palembang yang Pernah Disinggahi Bung Karno Kini Jadi Lokasi Festival Kopi

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak