Budayawan, Arkeolog, dan Akademisi Ramaikan Festival Lahan Basah Pertama Indonesia, Digelar di PALI

Desa Tempirai Selatan, PALI akan menjadi tuan rumah Festival Lahan Basah pertama di Indonesia pada 1621 Juni 2026

Tasmalinda
Jum'at, 12 Juni 2026 | 23:34 WIB
Budayawan, Arkeolog, dan Akademisi Ramaikan Festival Lahan Basah Pertama Indonesia, Digelar di PALI
foto festival lahan basar Tempirai, Pali Sumatera Selatan
Baca 10 detik
  • Desa Tempirai Selatan, PALI akan menjadi tuan rumah Festival Lahan Basah pertama di Indonesia pada 16–21 Juni 2026.
  • Acara ini mempromosikan warisan budaya, pengetahuan lokal, dan tradisi masyarakat yang hidup di sekitar ekosistem Sungai Musi.
  • Festival melibatkan budayawan dan akademisi untuk melestarikan identitas serta peradaban lahan basah bagi generasi muda melalui berbagai kegiatan.

SuaraSumsel.id - Festival Lahan Basah Tempirai 2026 akan menjadi lebih dari sekadar perayaan budaya. Festival lahan basah pertama di Indonesia ini menghadirkan para budayawan, arkeolog, akademisi, dan peneliti lingkungan untuk membahas kekayaan tradisi, kearifan lokal, serta jejak peradaban masyarakat lahan basah yang berkembang di sepanjang kawasan Sungai Musi.

Selama enam hari pelaksanaan festival pada 16–21 Juni 2026 di Desa Tempirai Selatan, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten PALI, para pakar tersebut akan menjadi narasumber dalam berbagai diskusi budaya yang mengangkat hubungan manusia, lingkungan, dan sejarah peradaban di kawasan lahan basah Sungai Musi.

Ketua Pelaksana Festival Lahan Basah Tempirai, Azizah Samsudin, mengatakan festival ini lahir dari kesadaran bahwa kawasan lahan basah tidak hanya menyimpan kekayaan alam, tetapi juga warisan budaya yang selama ini belum banyak dikenal publik. "Festival ini diharapkan menjadi titik awal penggalian dan promosi kekayaan budaya masyarakat lahan basah, khususnya di Tempirai dan Kabupaten PALI," kata Azizah.

Mengapa Tempirai?

Baca Juga:Bank Sumsel Babel Perkuat Tata Kelola dan Perlindungan Aset Lewat Kerja Sama dengan Kejari PALI

Tempirai bukan nama yang asing bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Musi. Desa ini dikenal sebagai salah satu kawasan yang masih mempertahankan tradisi hidup masyarakat lahan basah. Sungai, rawa, dan lebak tidak hanya menjadi bagian dari bentang alam, tetapi juga membentuk cara hidup, pola ekonomi, hingga tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di kawasan inilah tradisi seperti melebung atau berkarang masih dijalankan. Tradisi tersebut merupakan cara menangkap ikan secara bersama-sama saat air surut yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan masyarakat.

Keberadaan tradisi seperti inilah yang menjadikan Tempirai dinilai layak menjadi pusat penyelenggaraan Festival Lahan Basah. Tempirai dianggap mewakili wajah peradaban masyarakat Sungai Musi yang tumbuh dan berkembang di lingkungan rawa, sungai, dan lebak.

Budayawan dan Arkeolog Turut Hadir

Salah satu kekuatan Festival Lahan Basah Tempirai adalah keterlibatan para budayawan, akademisi, arkeolog, serta peneliti lingkungan dan budaya dari berbagai daerah.

Baca Juga:Apa Itu Jongot? Cara Orang Musi Menjaga Pangan, Air, dan Ingatan Leluhur di Sumsel

Selama festival berlangsung, sejumlah diskusi budaya akan digelar dengan menghadirkan nama-nama seperti Sondang M. Siregar, Husni Tamrin, Ainur Ropik, Dian Maulina, Irkhamiawan Ma’ruf, Adios Syafri, Nopri Ismi, Amrullah Marsup, dan Agung Saputro.

Mereka akan membahas berbagai isu mulai dari sejarah lahan basah Sumatera Selatan, kekayaan flora dan fauna, posisi perempuan dalam masyarakat lahan basah, hingga hubungan kawasan Sungai Musi dengan perkembangan peradaban di Sumatera Selatan.

Festival ini juga akan menampilkan berbagai ekspresi budaya masyarakat Tempirai dan kawasan Sungai Musi. Pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan sastra tutur, seni bela diri kuntau, pameran dan workshop anyaman tradisional, hingga lomba masakan khas daerah.

Selain itu, panitia juga melibatkan generasi muda melalui lomba story telling dan content creator agar budaya lahan basah dapat diperkenalkan kepada publik yang lebih luas melalui media digital.

Keterlibatan anak muda menjadi bagian penting dari upaya pelestarian budaya. Sebab, tantangan terbesar budaya lokal saat ini bukan hanya menjaga tradisi tetap hidup, tetapi juga memastikan tradisi tersebut tetap relevan bagi generasi baru.

Merawat Peradaban Lahan Basah

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak