- Pemerintah menguji budidaya bambu betung dan jelutung di Kabupaten OKI untuk memulihkan gambut.
- Gubernur Sumsel menyatakan pengelolaan gambut bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan dan produktif.
- Peternakan kerbau rawa turut didorong sebagai kearifan lokal guna mendukung ekonomi masyarakat sekitar.
Ia menjelaskan, pengembangan bambu dirancang sebagai bagian dari mitigasi awal risiko kebakaran sekaligus membuka peluang hilirisasi produk mebel dan kebutuhan interior.
Meski demikian, efektivitas bambu dalam menjaga kelembapan gambut dan menekan risiko karhutla tetap perlu dibuktikan melalui pengamatan dan pengukuran di lapangan.
Selain bambu betung, jelutung menjadi tanaman yang dinilai sesuai untuk dikembangkan di kawasan gambut.
Berbeda dengan tanaman yang membutuhkan pengeringan lahan, jelutung dapat tumbuh pada ekosistem gambut tanpa harus mengubah kondisi alaminya melalui pengeringan.
Baca Juga:Hujan Sudah Turun, Karhutla Sumsel Belum Tuntas, Seberapa Efektif Dry Ice dan OMC?
Tanaman ini juga memiliki nilai ekonomi dari getah yang dihasilkan. Namun, masyarakat perlu menunggu hingga pohon mencapai ukuran tertentu sebelum dapat melakukan penyadapan.
Satyawan menjelaskan, getah jelutung dapat mulai diambil ketika diameter batang mencapai sekitar 20 sentimeter.
Karakter tersebut membuat budidaya jelutung membutuhkan perencanaan jangka panjang. Pendampingan masyarakat dan kepastian pasar juga menjadi hal penting agar tanaman tersebut benar-benar memberikan manfaat ekonomi.
Jika pengembangan berjalan baik, bambu betung dan jelutung dapat menjadi kombinasi tanaman produktif yang mendukung pemulihan kawasan gambut sekaligus menyediakan sumber penghidupan alternatif.
Kerbau rawa juga disiapkan untuk menghidupkan ekonomi masyarakat
Baca Juga:Karhutla Sumsel Berulang, 43 Perusahaan Pemegang Konsesi Didorong Pulihkan Gambut, Siapa Mengawasi?
Pengembangan ekonomi di kawasan gambut OKI tidak hanya mengandalkan tanaman. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan juga mendorong pengaktifan kembali peternakan kerbau rawa sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat.
Herman Deru menilai, aktivitas peternakan kerbau rawa dapat menjadi salah satu cara melibatkan masyarakat dalam pengelolaan kawasan gambut secara berkelanjutan.
Pemerintah berencana mendorong pembentukan dan pembinaan kelompok masyarakat sebagai mitra dalam pengembangan peternakan tersebut.
Pendekatan ini diharapkan membuat masyarakat tidak sekadar menjadi penerima program pemulihan lingkungan, tetapi turut memperoleh manfaat ekonomi dari pengelolaan kawasan.
Sumatera Selatan sendiri memiliki sekitar dua juta hektare kawasan hidrologis gambut atau sekitar 10 persen dari total kawasan gambut nasional. Luasan tersebut membutuhkan pengelolaan yang memperhatikan fungsi ekologis, tata air, serta kebutuhan masyarakat.
Uji adaptasi bambu betung dan jelutung di OKI menawarkan pendekatan yang menghubungkan restorasi gambut dengan ekonomi masyarakat. Namun, keberhasilan program ini tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang ditanam atau luas lahan yang dikembangkan.