2 Juta Hektare Gambut Sumsel Punya Potensi Ekonomi, Bambu Betung dan Jelutung Diuji

Pemerintah menguji budidaya bambu betung dan jelutung di Kabupaten OKI untuk memulihkan gambut.

Tasmalinda
Minggu, 01 November 2026 | 23:42 WIB
2 Juta Hektare Gambut Sumsel Punya Potensi Ekonomi, Bambu Betung dan Jelutung Diuji
Pemerintah menguji budidaya bambu betung dan jelutung di Kabupaten OKI untuk memulihkan gambut.
Baca 10 detik
  • Pemerintah menguji budidaya bambu betung dan jelutung di Kabupaten OKI untuk memulihkan gambut.
  • Gubernur Sumsel menyatakan pengelolaan gambut bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan dan produktif.
  • Peternakan kerbau rawa turut didorong sebagai kearifan lokal guna mendukung ekonomi masyarakat sekitar.

SuaraSumsel.id - Lahan gambut di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, yang pernah mengalami kebakaran berulang kini diarahkan menjadi kawasan produktif. Pemerintah mulai menguji budidaya bambu betung dan jelutung dengan teknik tumpang sari untuk memulihkan ekosistem sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Uji adaptasi tanaman tersebut berlangsung di kawasan Kebun Plasma Nutfah Sepucuk, Kelurahan Kedaton, Kecamatan Kayuagung, OKI, Jumat (30/10/2026). Dua jenis tanaman ini dipilih karena memiliki potensi ekologis sekaligus nilai ekonomi yang dapat dikembangkan tanpa mengabaikan karakteristik lahan gambut.

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengatakan, pengelolaan gambut tidak cukup hanya berorientasi pada pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kawasan tersebut juga harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

"Kita ingin gambut ini tidak hanya dijaga, tetapi juga bisa dimanfaatkan secara produktif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, perlu ada pola pengelolaan yang tepat, berkelanjutan, dan melibatkan masyarakat secara langsung," kata Herman Deru.

Baca Juga:Hujan Sudah Turun, Karhutla Sumsel Belum Tuntas, Seberapa Efektif Dry Ice dan OMC?

Pernah terbakar berulang, kini 30 jenis tanaman tumbuh di gambut OKI

Kawasan yang menjadi lokasi uji adaptasi ini memiliki riwayat kebakaran pada 1997, 1998, dan 2006. Setelah melalui upaya restorasi vegetasi, kawasan tersebut kini menjadi tempat tumbuh sekitar 30 spesies tanaman.

Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) Satyawan Pudyatmoko menyebut sejumlah tanaman yang dikembangkan antara lain jelutung, ramin, meranti rawa, punak, pulai, tembesu, gaharu, dan keranji.

Menurut Satyawan, pemulihan vegetasi di kawasan tersebut menjadi pembelajaran mengenai kemungkinan mengembalikan fungsi ekosistem gambut yang pernah mengalami kebakaran berulang.

Keberadaan berbagai jenis tanaman itu juga menjadi dasar pengembangan budidaya yang tidak hanya mengejar penghijauan, tetapi turut mempertimbangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Baca Juga:Karhutla Sumsel Berulang, 43 Perusahaan Pemegang Konsesi Didorong Pulihkan Gambut, Siapa Mengawasi?

Salah satu tanaman yang diuji adalah bambu betung, jenis bambu asli Indonesia yang memiliki beragam potensi pemanfaatan.

Bagian rebungnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Sementara batang bambu yang telah tumbuh besar berpotensi diolah menjadi bahan bangunan, meja, kusen, furnitur, hingga produk kerajinan.

Namun, pengembangan bambu tidak cukup berhenti pada penanaman. Ketersediaan industri pengolahan menjadi faktor penting agar hasil budidaya masyarakat memiliki nilai tambah.

Satyawan menyampaikan, apabila pertumbuhan bambu betung di lokasi uji menunjukkan hasil baik dalam satu hingga dua tahun, pengembangan industri pengolahan perlu segera disiapkan.

Dengan adanya industri, masyarakat diharapkan tidak hanya menjual hasil panen dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga dapat terlibat dalam rantai produksi produk olahan.

Ketua Umum Komunitas Pemuda Ekonomi Hijau Indonesia (KPEHI), Agi Diantoro, juga menyebut bambu memiliki potensi untuk mendukung upaya menjaga kelembapan lahan gambut.

Ia menjelaskan, pengembangan bambu dirancang sebagai bagian dari mitigasi awal risiko kebakaran sekaligus membuka peluang hilirisasi produk mebel dan kebutuhan interior.

Meski demikian, efektivitas bambu dalam menjaga kelembapan gambut dan menekan risiko karhutla tetap perlu dibuktikan melalui pengamatan dan pengukuran di lapangan.

Selain bambu betung, jelutung menjadi tanaman yang dinilai sesuai untuk dikembangkan di kawasan gambut.

Berbeda dengan tanaman yang membutuhkan pengeringan lahan, jelutung dapat tumbuh pada ekosistem gambut tanpa harus mengubah kondisi alaminya melalui pengeringan.

Tanaman ini juga memiliki nilai ekonomi dari getah yang dihasilkan. Namun, masyarakat perlu menunggu hingga pohon mencapai ukuran tertentu sebelum dapat melakukan penyadapan.

Satyawan menjelaskan, getah jelutung dapat mulai diambil ketika diameter batang mencapai sekitar 20 sentimeter.

Karakter tersebut membuat budidaya jelutung membutuhkan perencanaan jangka panjang. Pendampingan masyarakat dan kepastian pasar juga menjadi hal penting agar tanaman tersebut benar-benar memberikan manfaat ekonomi.

Jika pengembangan berjalan baik, bambu betung dan jelutung dapat menjadi kombinasi tanaman produktif yang mendukung pemulihan kawasan gambut sekaligus menyediakan sumber penghidupan alternatif.

Kerbau rawa juga disiapkan untuk menghidupkan ekonomi masyarakat

Pengembangan ekonomi di kawasan gambut OKI tidak hanya mengandalkan tanaman. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan juga mendorong pengaktifan kembali peternakan kerbau rawa sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat.

Herman Deru menilai, aktivitas peternakan kerbau rawa dapat menjadi salah satu cara melibatkan masyarakat dalam pengelolaan kawasan gambut secara berkelanjutan.

Pemerintah berencana mendorong pembentukan dan pembinaan kelompok masyarakat sebagai mitra dalam pengembangan peternakan tersebut.

Pendekatan ini diharapkan membuat masyarakat tidak sekadar menjadi penerima program pemulihan lingkungan, tetapi turut memperoleh manfaat ekonomi dari pengelolaan kawasan.

Sumatera Selatan sendiri memiliki sekitar dua juta hektare kawasan hidrologis gambut atau sekitar 10 persen dari total kawasan gambut nasional. Luasan tersebut membutuhkan pengelolaan yang memperhatikan fungsi ekologis, tata air, serta kebutuhan masyarakat.

Uji adaptasi bambu betung dan jelutung di OKI menawarkan pendekatan yang menghubungkan restorasi gambut dengan ekonomi masyarakat. Namun, keberhasilan program ini tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang ditanam atau luas lahan yang dikembangkan.

Ada sejumlah hal yang perlu dibuktikan, mulai dari kemampuan tanaman beradaptasi dengan kondisi gambut, pengaruhnya terhadap kelembapan tanah, hingga keberlanjutan tata air kawasan.

Kesiapan industri pengolahan, kepastian pasar, serta keterlibatan masyarakat juga menentukan apakah budidaya tersebut benar-benar dapat menjadi sumber penghidupan.

Terlebih, jelutung membutuhkan waktu hingga mencapai ukuran yang memungkinkan penyadapan getah. Sementara bambu betung memerlukan rantai pengolahan agar hasilnya memiliki nilai tambah.

Dengan demikian, pekerjaan rumah pemerintah bukan hanya memastikan tanaman tumbuh, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang membuat masyarakat memiliki alasan ekonomi untuk menjaga gambut.

Sebab, gambut yang lestari tidak cukup hanya dilindungi dari api. Kawasan tersebut juga perlu dikelola dengan cara yang menjaga fungsi ekologisnya sekaligus memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak