- Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melanjutkan penyemaian dry ice dan modifikasi cuaca untuk mengatasi karhutla.
- BMKG mencatat operasi hingga 22 Oktober mencakup 18 sorti penerbangan menggunakan dry ice dan garam NaCl.
- Gubernur Herman Deru menyatakan penanganan karhutla di dua juta hektare gambut harus terus dilanjutkan.
Dry ice diarahkan untuk membantu melemahkan lapisan inversi yang memerangkap asap. Sementara NaCl digunakan untuk menyemai awan potensial hujan agar proses pembentukan hujan dapat didukung.
Pelaksanaannya sangat bergantung pada kondisi atmosfer, ketersediaan awan potensial, serta hasil pemantauan meteorologi.
Karena itu, operasi modifikasi cuaca tidak otomatis menghasilkan hujan setiap kali pesawat melakukan penyemaian. Kondisi atmosfer menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan operasi.
BMKG juga menegaskan strategi penyemaian harus disesuaikan dengan perkembangan cuaca dan hasil analisis meteorologi.
Baca Juga:Karhutla Sumsel Berulang, 43 Perusahaan Pemegang Konsesi Didorong Pulihkan Gambut, Siapa Mengawasi?
Dalam pelaksanaan sebelumnya, BMKG mencatat telah melakukan 18 sorti penyemaian hingga 22 Oktober 2026. Rinciannya, 14 sorti menggunakan dry ice dan empat sorti menggunakan NaCl.
Data tersebut memperlihatkan operasi telah berjalan, tetapi jumlah penerbangan saja belum cukup untuk membuktikan efektivitas teknologi dalam mengatasi kabut asap.
BMKG bersama Kementerian Kehutanan, BNPB, dan TNI sebelumnya telah mengintensifkan OMC menggunakan dry ice di Sumatera Selatan sejak 16 Oktober 2026.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menjelaskan teknologi tersebut menjadi upaya untuk mengurai lapisan inversi yang membuat asap terperangkap di dekat permukaan.
Dalam pelaksanaan hingga 22 Oktober, BMKG mencatat hujan ringan sempat terpantau di sekitar Jalan Tol Palembang-Indralaya pada 17 Oktober 2026.
Baca Juga:Bank Sumsel Babel Luncurkan Sultan Muda Corner, Perkuat Pembiayaan UMKM dan Wirausaha Muda
Sementara itu, Kementerian Kehutanan sebelumnya juga melaporkan adanya perbaikan jarak pandang di Palembang pada hari-hari awal pelaksanaan operasi.
Meski demikian, perubahan jarak pandang dan munculnya hujan perlu dievaluasi bersama data meteorologi lainnya sebelum seluruh perbaikan dikaitkan langsung dengan penyemaian dry ice atau OMC.
Sebab, kondisi cuaca dapat berubah secara alami. Untuk memastikan kontribusi teknologi tersebut, diperlukan evaluasi yang membandingkan kondisi atmosfer sebelum dan sesudah operasi.
Di sisi lain, sumber kebakaran tetap harus dikendalikan melalui pemadaman langsung.
Dua juta hektare kawasan hidrologi gambut menjadi tantangan
Persoalan karhutla Sumatera Selatan tidak hanya berkaitan dengan cuaca dan kabut asap, tetapi juga kondisi ekosistem gambut. Herman Deru menyebut Sumsel memiliki sekitar 10 persen dari total luas gambut nasional. Kawasan hidrologi gambut di provinsi tersebut mencapai sekitar dua juta hektare, dengan areal terdampak seluas 1,27 juta hektare.