- Masyarakat Musi di Sumatera Selatan memanfaatkan Jongot sebagai ruang hidup untuk menjaga ketahanan pangan, ketersediaan air, serta tanaman obat.
- Praktik tradisional Jongot dilakukan dengan merawat keberagaman hayati di sekitar kawasan perairan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari.
- Keberadaan Jongot terancam karena generasi muda kurang memahami nilai sejarah dan fungsi ekologis yang diwariskan oleh para leluhur.
Tidak ada pola monokultur. Tidak ada satu komoditas yang mendominasi. Yang ada adalah keberagaman.
Tony, pewaris generasi keempat Jongot di PALI, masih merasakan manfaat tersebut hingga sekarang.
Di lahan sekitar setengah hektare yang diwariskan keluarganya, tumbuh puluhan jenis tanaman dengan ratusan batang pohon. Saat musim panen datang, hasilnya dinikmati bersama keluarga.
Sebagian dibagikan kepada kerabat. Jika masih tersisa, sebagian dijual. "Buahnya dimakan bersama keluarga. Kalau ada lebih baru dijual," katanya.
Baca Juga:Film Jongot Merekam Cara Orang Musi Menjaga Pangan, Air, dan Ingatan Leluhur
Di tengah kekhawatiran dunia terhadap ancaman krisis pangan akibat perubahan iklim, praktik seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat lokal sebenarnya telah lama memiliki sistem ketahanan pangan yang dibangun dari hubungan mereka dengan alam.
Menjaga Air Tanpa Menyebutnya Konservasi
Masyarakat Musi masa lalu mungkin tidak mengenal istilah konservasi. Mereka tidak berbicara tentang restorasi ekosistem atau jasa lingkungan.
Namun cara mereka membangun Jongot menunjukkan pemahaman yang kuat tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Sebagian besar Jongot berada di dekat sumber air. Pepohonan besar dibiarkan tumbuh. Vegetasi yang beragam membantu menjaga kelembapan tanah dan mengurangi kerusakan lingkungan.
Baca Juga:Film 'Jongot' Angkat Kearifan Suku Musi dalam Menjaga Hutan dan Alam
Tanpa disadari, praktik itu ikut menjaga ketersediaan air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Hari ini, ketika banyak daerah menghadapi tekanan lingkungan akibat perubahan bentang alam, Jongot menjadi pengingat bahwa masyarakat lokal telah lama memiliki pengetahuan tentang bagaimana menjaga ruang hidup mereka.
Apotek Hidup yang Tumbuh di Bawah Pepohonan
Bagi masyarakat Musi, Jongot juga merupakan tempat menyimpan pengetahuan yang tidak diajarkan di sekolah. Di dalamnya tumbuh berbagai tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional.
Tony masih mengingat pelajaran yang diwariskan orang tuanya. Akar serekat digunakan untuk mengatasi diare.
Akar seletup dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional cacar. Mecung hutan digunakan untuk membantu mengatasi malaria dan demam. Sementara rumput bulu dikenal sebagai ramuan untuk meredakan batuk.