- Lima pesepeda Ekspedisi Hutan Merdeka memulai misi perlindungan hutan dari Jakarta sejak 2 Agustus 2026.
- Rombongan menemukan titik kebakaran hutan di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, pada 5 Agustus 2026.
- Tim telah menempuh jarak sejauh 900 kilometer dan tiba di Kota Jambi per 8 Agustus 2026.
SuaraSumsel.id - Perjalanan lima pesepeda dalam Ekspedisi Hutan Merdeka tidak hanya diwarnai tantangan menempuh ratusan kilometer. Saat melintas dari Lampung menuju Sumatera Selatan, mereka menemukan sejumlah titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menjadi bagian dari kondisi lapangan yang mereka temui selama perjalanan.
Tim Ekspedisi Hutan Merdeka sebelumnya memulai perjalanan dari Jakarta pada 2 Agustus 2026 dengan membawa misi mengampanyekan perlindungan hutan dan orangutan. Perjalanan mereka kemudian berlanjut melewati Banten, Lampung hingga Sumatera Selatan.
Dalam pembaruan perjalanan yang disampaikan Satya Bumi, Chemonk, dan KJI, kelima pesepeda yakni Sihol, Amin, Fadlan, Fitri, dan Very menemukan sejumlah titik kebakaran lahan setelah memasuki Sumatera Selatan melalui Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) pada 5 Agustus 2026.
Temuan tersebut sebenarnya telah diantisipasi tim sebagai salah satu tantangan perjalanan di Sumatera. Namun, kondisi karhutla menjadi pemandangan tersendiri bagi para pesepeda yang tengah menjalankan ekspedisi untuk mengampanyekan perlindungan hutan.
Baca Juga:Program Cetak Sawah Berhadapan dengan Karhutla, Api Membakar Lahan di Muara Enim
Restu Diantina dari Satya Bumi mengatakan, salah satu tujuan ekspedisi ini adalah memperlihatkan bahwa lanskap Sumatra masih menghadapi beragam persoalan kompleks, salah satunya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). “Ini menunjukkan bahwa sampai saat ini Sumatra Selatan belum merdeka dari asap dan karhutla,” ujar Restu.
Menurutnya, persoalan karhutla membutuhkan perbaikan secara menyeluruh serta kemauan politik (political will) dari pemerintah untuk menyelesaikannya. Sebab, masyarakat memiliki hak untuk mendapatkan udara yang bersih dan sehat. “Jika tidak segera diselesaikan, bencana seperti yang terjadi November lalu di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dapat terjadi pula di lanskap Sumatra lainnya,” sambungnya.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dicantumkan dalam laporan perjalanan tersebut menunjukkan terdapat 46 titik panas di Sumatera Selatan pada 2 Agustus 2026.
Jumlah itu kemudian meningkat menjadi 104 titik panas pada 3 Agustus 2026.
Di tengah kondisi tersebut, lima pesepeda tetap melanjutkan perjalanan menuju Palembang. Mereka bahkan harus berhadapan dengan tantangan lain berupa cuaca panas, jalan rusak dan berlubang, hingga jalur dengan elevasi tinggi.
Baca Juga:Karhutla Sumsel Tembus 909 Kejadian, Indikasi Luas Terdampak 664,87 Hektare
Panas Ekstrem Jadi Tantangan di Pulau Sumatera
Kelima pesepeda memasuki wilayah Lampung pada 3 Agustus 2026. Sepanjang perjalanan, mereka mendapat dukungan dari warga yang ditemui di sejumlah daerah.
Namun, memasuki Pulau Sumatera, cuaca panas menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus mereka hadapi.
Kondisi tersebut membuat kecepatan bersepeda dan waktu istirahat disesuaikan dengan kondisi fisik para peserta. Langkah itu dilakukan untuk menjaga keselamatan dan kesehatan selama menempuh perjalanan panjang.
Pada hari yang sama, Sihol, Amin, Fadlan, Fitri, dan Very juga berbincang dengan jurnalis untuk menceritakan pengalaman mereka selama perjalanan. Dua hari kemudian, tepatnya 5 Agustus 2026, rombongan memasuki Sumatera Selatan melalui OKI.
Setelah mendekati Palembang, mereka dijemput oleh Tim Satya Bumi yang telah tiba lebih dahulu.