- Kabut asap akibat karhutla di Ogan Komering Ilir menyelimuti Palembang pada Minggu, 27 September 2026.
- Indeks kualitas udara di kawasan Musi 2 mencapai angka 513 dan masuk dalam kategori berbahaya.
- Penurunan jarak pandang hingga 700 meter akibat kabut asap mengganggu operasional penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.
SuaraSumsel.id - Kabut asap kembali menyelimuti Palembang pada Minggu (27/9/2026). Di tengah upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus dilakukan, kualitas udara di sejumlah titik justru kembali menunjukkan angka yang mengkhawatirkan.
Pantauan aplikasi IQAir sekitar pukul 12.00 WIB menunjukkan indeks kualitas udara di kawasan Musi 2 mencapai 513 atau masuk kategori berbahaya. Pada waktu yang sama, Demang berada di angka 277 dan GP_PLM 245 atau kategori sangat tidak sehat, sedangkan Sukarami mencapai 200. Kabut asap juga terlihat di sejumlah kawasan, mulai dari Kenten, Veteran, Jalan Jenderal Sudirman, kawasan Merdeka hingga sekitar Jembatan Ampera.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis mengatakan dalam pemantauan beberapa hari sebelumnya. Pada Sabtu (26/9/2026), misalnya, konsentrasi PM2.5 di Musi 2 mencapai 419,3 µg/m³ pada pukul 02.00 WIB. Wandayantolis sebelumnya menyebut kualitas udara saat itu masih berada pada kategori berbahaya dan belum menunjukkan perbaikan dalam dua hari terakhir.
Sehari sebelumnya, konsentrasi PM2.5 di Stasiun Musi 2 bahkan sempat mencapai 419,3 mikrogram per meter kubik pada pukul 02.00 WIB. Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis mengatakan kondisi kualitas udara Palembang belum menunjukkan perbaikan dalam dua hari terakhir dan asap masih berkaitan dengan karhutla di Ogan Komering Ilir (OKI) dan sekitarnya.
Baca Juga:Karhutla Sumsel Tak Kunjung Padam, Bisakah Perusahaan yang Diduga Lalai Digugat?
Kabut asap juga telah mengganggu aktivitas transportasi udara. Pada 25 September, enam penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang terdampak setelah jarak pandang turun hingga 700 meter. Salah satu penerbangan bahkan harus kembali ke bandara asal setelah tidak dapat mendarat karena jarak pandang berada di bawah batas minimum operasional.
Kondisi ini menunjukkan bahwa asap bukan lagi sekadar persoalan jarak pandang di jalan atau rasa tidak nyaman ketika keluar rumah. Ketika konsentrasi partikulat meningkat dan jarak pandang menurun, dampaknya mulai menyentuh mobilitas dan aktivitas masyarakat.
Masalahnya, Palembang bukan pusat utama kebakaran yang menjadi sumber asap. Kota ini berada di hilir dari sejumlah wilayah yang mengalami karhutla, sehingga asap dapat terbawa angin dan masuk ke kawasan perkotaan. Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Sumsel sebelumnya menjelaskan bahwa partikel halus seperti PM2.5 dapat terbawa angin dari lokasi kebakaran menuju wilayah permukiman dan perkotaan.
Pada pertengahan September, kualitas udara Palembang juga pernah masuk kategori berbahaya. Pada 17 September, ISPU Palembang dilaporkan mencapai 425, sementara kabut asap mengurangi jarak pandang hingga sekitar 2 kilometer.
Berulangnya kondisi tersebut membuat angka 513 di Musi 2 pada 27 September menjadi lebih dari sekadar angka dalam aplikasi kualitas udara. Ia menjadi penanda bahwa persoalan asap di Palembang belum benar-benar selesai.
Baca Juga:KAI Divre III Palembang dan PMI Kumpulkan 154 Kantong Darah Lewat Bakti Sosial
Terlebih, kebijakan pemerintah sebelumnya juga telah menjadikan kualitas udara sebagai salah satu pertimbangan aktivitas sekolah. Pada pertengahan September, pembelajaran tatap muka di Palembang disebut dapat dilakukan apabila kualitas udara di wilayah sekolah berada di bawah ambang ISPU 200.
Kini, ketika sebagian titik kembali masuk kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya, pertanyaan tentang perlindungan masyarakat kembali muncul.
Penanganan karhutla tentu tidak hanya diukur dari padamnya api di satu lokasi. Bagi warga Palembang, keberhasilannya juga terasa ketika asap tidak lagi menjadi bagian dari rutinitas harian, ketika udara kembali aman untuk dihirup, dan ketika aktivitas kota tidak terus-menerus harus menyesuaikan diri dengan kabut.
Sebab, jika udara berbahaya terus kembali meski operasi penanganan karhutla berjalan, persoalannya bukan hanya tentang berapa banyak titik api yang berhasil dipadamkan. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: kapan hasil penanganan itu benar-benar terasa sampai ke udara yang dihirup warga Palembang?