- Satgas Karhutla Sumsel melaporkan 1.077 kejadian kebakaran hutan di Sumatera Selatan hingga 10 Agustus 2026.
- Sebanyak 11 kabupaten atau kota masuk zona merah, dengan wilayah gambut seperti OKI dan Banyuasin menjadi perhatian utama.
- Peningkatan signifikan jumlah titik panas dan kejadian kebakaran terjadi akibat Sumsel menghadapi puncak musim kemarau.
SuaraSumsel.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan belum menunjukkan tanda benar-benar mereda. Hingga 10 Agustus 2026, tercatat 1.077 kejadian karhutla dengan indikasi luas lahan terbakar sekitar 664,97 hektare, sementara jumlah hotspot telah mencapai 7.050 titik.
Komandan Satgas Karhutla Sumsel Brigjen TNI Khabib Mahfud mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian karena Sumsel masih menghadapi puncak musim kemarau. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bahkan disiapkan hingga malam hari apabila terdapat awan yang memenuhi syarat untuk penyemaian.
Data tersebut menunjukkan persoalan karhutla kini bukan lagi kejadian yang berdiri sendiri. Hampir seluruh wilayah Sumsel telah mengalami kejadian kebakaran, dengan 11 kabupaten/kota masuk zona merah karhutla. Daerah yang menjadi perhatian antara lain OKI, Banyuasin, Musi Banyuasin dan Muara Enim, terutama wilayah yang memiliki lahan gambut.
Angka kebakaran melonjak saat kemarau
Baca Juga:1.400 Pekerja Sumsel Kena PHK, Mayoritas Tanpa Perselisihan, Ada Apa?
Kenaikan kejadian paling terlihat memasuki musim kemarau. Sebelumnya, BPBD Sumsel mencatat hingga 27 Juli 2026 terdapat 575 kejadian karhutla dengan indikasi luas lahan terbakar 664,87 hektare.
Dalam perkembangan hingga 10 Agustus, jumlah kejadian telah mencapai 1.077 kasus. Artinya, dalam periode sekitar dua pekan, jumlah kejadian yang tercatat meningkat cukup tajam.
Namun, jumlah kejadian dan luas lahan tidak boleh dibaca sebagai angka yang sama. Satu kejadian bisa memiliki luasan berbeda, sehingga lonjakan jumlah kejadian tidak otomatis berarti luas lahan terbakar meningkat dengan persentase yang sama.
Ini bagian penting yang perlu dipahami publik. Data BPBD/SIPONGI yang digunakan dalam pemantauan terbaru mencatat indikasi luas karhutla sekitar 664,97 hektare. Sementara hasil analisis citra satelit periode Januari-Juli 2026 yang Anda terima sebelumnya menunjukkan angka 1.926,22 hektare.
Kedua angka tersebut tidak seharusnya dibandingkan secara head to head karena sumber, metode analisis, periode dan cara menghitung luasan dapat berbeda.
Baca Juga:Ekonomi Sumsel Tumbuh 5,20 Persen, Uangnya Paling Banyak Berputar di Sektor Ini
Karena itu, pemberitaan sebaiknya selalu menyebutkan asal data dan metode pengukurannya, bukan sekadar menempatkan dua angka tersebut sebagai pertentangan. Selain luas lahan terbakar, jumlah hotspot memberikan gambaran lain mengenai tekanan kebakaran.
Hingga 10 Agustus, terpantau 7.050 hotspot di Sumsel. Data yang disampaikan Satgas menunjukkan peningkatan mulai terlihat pada Mei dan Juni, kemudian meningkat signifikan pada Juli.