suara hijau

Saat Air Menjadi Energi, Hutan Menjaga Nyala di Kawasan Panas Bumi Rantau Dedap

Dusun Rantau Dedap berada di Desa Segamit, kawasan yang juga menjadi lokasi pengembangan panas bumi PT Supreme Energy Rantau Dedap.

Tasmalinda
Minggu, 27 September 2026 | 14:34 WIB
Saat Air Menjadi Energi, Hutan Menjaga Nyala di Kawasan Panas Bumi Rantau Dedap
Sejumlah warga, pendamping, dan tim teknis melihat kondisi PLTMH di Dusun Rantau Dedap, Desa Segamit, Muara Enim
Baca 10 detik

·       Dusun Rantau Dedap berada di Desa Segamit, kawasan yang juga menjadi lokasi pengembangan panas bumi PT Supreme Energy Rantau Dedap.

·       Di dusun tersebut, masyarakat memanfaatkan aliran air untuk menghasilkan listrik melalui PLTMH berkapasitas 5 kilowatt.

·       Air menjadi sumber energi sekaligus penanda yang diperhatikan masyarakat ketika terjadi perubahan debit di kawasan hulu.

SuaraSumsel.id - Dusun Rantau Dedap di Desa Segamit, Kecamatan Semende Darat Ulu, Muara Enim, Sumatera Selatan, dikenal sebagai salah satu wilayah pengembangan energi panas bumi. PT Supreme Energy Rantau Dedap mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) berkapasitas 91,2 megawatt yang mulai beroperasi komersial pada 26 Desember 2021.

Listrik yang dihasilkan disalurkan melalui jaringan PLN ke sistem kelistrikan Sumatera. Namun, di balik pembangkit panas bumi berskala besar itu, Rantau Dedap menyimpan cerita energi yang jauh lebih dekat dengan kehidupan warga.

Di Dusun Rantau Dedap, Desa Segamit, aliran air pegunungan telah dimanfaatkan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Salah satu pembangkit yang dikembangkan warga memiliki kapasitas sekitar 5 kilowatt dan memanfaatkan aliran sungai setempat sebagai sumber energi.

Pemanfaatan air sebagai sumber listrik kemudian berkembang untuk kebutuhan yang lebih spesifik. Belum lama ini, PLTMH berkapasitas 5 kilowatt juga dioperasikan untuk mendukung kebutuhan pendidikan di kawasan tersebut. Kehadiran pembangkit itu membuat energi dari aliran air tidak hanya menerangi rumah warga, tetapi juga menopang aktivitas belajar di tengah kawasan perbukitan Rantau Dedap.

Baca Juga:Sumsel Raih 3 Penghargaan TPID dan TP2DD Awards 2026

Pembangkit itu menjadi sumber energi tambahan bagi Madrasah Tsanawiyah Yayasan Jamilah Al Muawanah. Listrik akan digunakan untuk penerangan, jaringan WiFi, ujian berbasis komputer, tes kemampuan akademik hingga kegiatan sekolah lainnya. Sekitar 150 siswa belajar di madrasah tersebut.

Kepala Madrasah Tsanawiyah Yayasan Jamilah Al Muawanah, Maria Nofiani, mengatakan keberadaan PLTMH sangat membantu memenuhi kebutuhan energi untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. “PLTMH ini sangat membantu kebutuhan energi di sekolah, terutama untuk mendukung kegiatan belajar mengajar,” kata Maria. 

Air dari lereng Bukit Barisan

Rantau Dedap berada sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut dan termasuk dalam gugusan Bukit Barisan. Menurut Dosen Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah, Zulkifli Saleh, kawasan ini memiliki aliran air yang tersedia sepanjang tahun.

Potensi tersebut kemudian dimanfaatkan untuk pembangkit skala kecil. PLTMH dibangun melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan dosen dan sekitar 20 mahasiswa.

Baca Juga:Hari Tani 2026, KPA Sumsel: Bisakah UU Reforma Agraria Menjawab Konflik di Daerah?

Selama kurang lebih dua bulan, mahasiswa ikut mengerjakan pembangunan dam dan kolam, mengangkut material hingga menyiapkan bagian pembangkit. Pengetahuan dari ruang kuliah diterapkan langsung untuk menjawab kebutuhan energi di lapangan.

Pembangunan mendapat dukungan kampus dan LL DIKTI Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Sebagian pembiayaan juga berasal dari dosen dan mahasiswa bersama pihak lainnya. Ke depan, Zulkifli berharap listrik tersebut dapat mendukung pengembangan unit usaha kopi masyarakat di Rantau Dedap.

Dijelaskan Zulkifli, pemanfaatan energi air menunjukkan bagaimana potensi lokal dapat menjadi bagian dari transisi energi bersih. “Dalam transisi energi, energi terbarukan bisa dikatakan krusial atau menjadi salah satu tonggak, karena ada dan seharusnya diaplikasikan dengan baik di Sumatera Selatan,” kata Zulkifli.

Aliran air menggerakkan turbin PLTMH di Dusun Rantau Dedap, Desa Segamit, Kecamatan Semende Darat Ulu
Aliran air menggerakkan turbin PLTMH di Dusun Rantau Dedap, Desa Segamit, Kecamatan Semende Darat Ulu

Ketika masyarakat ikut menjaga air

Field Organizer Hutan Kita Institute (HaKI), Menik Setyowati mengatakan masyarakat perlu menjadi subjek dalam pengembangan energi terbarukan. “Masyarakat harus menjadi subjek, dengan memberikan dukungan penuh. Mereka perlu terlibat dalam pengelolaan sekaligus menjaga sumber daya yang menjadi penopang energi,” katanya

Dalam pendampingan HaKI di kawasan Semendo, masyarakat ikut menjaga sumber air melalui kelompok “datuk air”. Kelompok ini bertugas mengontrol aliran dan memperhatikan kualitas air. “Warga juga ikut menopang perawatan pembangkit melalui iuran sekitar Rp 10 ribu per bulan untuk perawatan turbin,” ujarnya belum lama ini.

Bagi masyarakat, menjaga air berarti menjaga sumber energi yang mereka manfaatkan.

HaKI juga mendampingi masyarakat Segamit dalam pengelolaan perhutanan sosial melalui Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Hutan Desa Segamit. Kawasan hutan desa tersebut ditetapkan melalui keputusan gubernur pada 2015 dengan luas sekitar 3.245 hektar.

Dalam pengelolaan kawasan itu, debit air menjadi salah satu hal yang diperhatikan. Air menggerakkan turbin, tetapi perubahan alirannya juga dapat memberi tanda tentang kondisi kawasan di bagian hulu. “Kalau debit air kecil, ada sesuatu yang salah di bagian hulu (kawasan hutan),” ujar Koordinator Program Perhutanan Sosial HaKI, Bejo Dewangga.

Karena itu, air memiliki dua fungsi bagi masyarakat. Ia menghasilkan listrik sekaligus menjadi penanda yang mendorong mereka memperhatikan kondisi kawasan sumber air.

PLTMH kemudian tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan listrik. Penerangannya membantu aktivitas warga, sekolah hingga pesantren. Di sisi lain, pembangkit membuat masyarakat memiliki kepentingan langsung untuk menjaga sumber air tetap tersedia.

Energi yang dihasilkan dari aliran air bergantung pada keberadaan air itu sendiri. Karena itu, kondisi hutan dan vegetasi di kawasan hulu menjadi bagian dari keberlanjutan sumber energi tersebut.

Bejo menambahkan pengembangan energi terbarukan tidak cukup berhenti pada pembangunan pembangkit. “Energi terbarukan tidak hanya soal panel dan teknologi. Ada masyarakat, sumber daya lokal, dan ada juga tantangannya,”ujarnya.

Di Rantau Dedap, hubungan itu terlihat dari kebutuhan yang sederhana. Air menggerakkan turbin, listrik membantu kegiatan sekolah, dan masyarakat mendapatkan manfaatnya.

Namun, selama energi bergantung pada aliran air, sumber air harus tetap dijaga. Di kawasan panas bumi Rantau Dedap, air memberi energi dalam skala kecil bagi masyarakat. Hutan menjaga sumber air itu tetap hidup. Dari sana, listrik dapat terus mengalir dan memberi manfaat bagi warga.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini