- Peneliti Tedjo Sukmono menyatakan spesies ikan di Sungai Batanghari menyusut dari sekitar 300 menjadi 135 jenis.
- Petani di Muaro Jambi melaporkan puluhan ton ikan keramba mati setiap bulan akibat pencemaran dan kemarau.
- DPRD Jambi Ivan Wirata menyebut kekeruhan air sungai mencapai 1.400 NTU akibat aktivitas pertambangan dan limbah.
Debit air yang menurun dinilai memperburuk kondisi perairan tempat petani membudidayakan ikan. Di sisi lain, dugaan pencemaran dari wilayah hulu juga menjadi kekhawatiran petani. Musa menduga aktivitas tambang emas ilegal di bagian hulu turut membawa limbah beracun, termasuk merkuri, ke aliran Sungai Batanghari.
Namun, dugaan tersebut perlu dibuktikan melalui pemeriksaan dan pengujian resmi kualitas air, sehingga tidak tepat langsung menyimpulkan merkuri sebagai penyebab tunggal kematian ikan.
Tedjo Sukmono melihat persoalan tersebut tidak berhenti pada kematian ikan di keramba. Menurut dia, aktivitas tambang emas ilegal mengancam biota perairan Sungai Batanghari.
Penyusutan jumlah spesies dari sekitar 300 menjadi 135 jenis menjadi salah satu gambaran perubahan ekosistem yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir. “Ikan yang mati di keramba hanya contoh gejala di permukaan,” ujar Ivan Wirata, yang mendorong penyelamatan ekosistem Sungai Batanghari dari wilayah hulu.
Baca Juga:Kasus Bayi Dijual Rp20 Juta Belum Tuntas, Polisi Didesak Usut Sosok Pemberi Uang
Tedjo menilai diperlukan gerakan sosial serta rencana pengelolaan Sungai Batanghari yang dilakukan secara bersama dan terintegrasi.
Sebab, ketika kualitas sungai terus menurun, yang terdampak bukan hanya ikan. Petani kehilangan penghasilan, ekosistem kehilangan keanekaragaman, sementara masyarakat di sepanjang aliran sungai menghadapi persoalan lingkungan yang semakin kompleks.