- Survei APJII 2025 mencatat penetrasi internet di Sumatera Selatan telah mencapai angka 76,98 persen dari total penduduk.
- Internet kini menjadi tulang punggung ekonomi dan penopang utama produktivitas pekerjaan serta usaha di berbagai kalangan masyarakat.
- Tantangan utama saat ini adalah pemerataan akses di wilayah pelosok dan peningkatan kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan konektivitas.
SuaraSumsel.id - Internet tak lagi sekadar tempat bertukar pesan, berselancar di media sosial, atau mencari hiburan. Di Sumatera Selatan, konektivitas digital telah berkembang menjadi penopang utama pekerjaan, dunia usaha, pendidikan, hingga sumber penghasilan.
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat penetrasi internet di Sumatera Selatan telah mencapai 76,98 persen berdasarkan Survei Internet APJII 2025.
Meski masih berada di bawah angka nasional sebesar 81,72 persen, capaian itu menunjukkan semakin besarnya peran konektivitas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sumsel.
Ketua APJII Sumatera Selatan, Yunus Alfian, mengatakan perkembangan pengguna internet di provinsi ini berlangsung cukup pesat. "Berdasarkan data survei internet yang dilakukan APJII tahun 2025 lalu, angka penetrasi internet di Sumsel 76,98 persen. Memang masih di bawah angka nasional 81,72 persen," ujar Yunus kepada Suara.com.
Baca Juga:Habiskan 105 GB Data, Pekerja Lapangan Ini Andalkan IM3 Keliling Sumsel
Namun perubahan terbesar bukan sekadar tentang semakin banyaknya masyarakat yang terkoneksi. Cara masyarakat memanfaatkan internet pun telah bergeser. Koneksi digital kini tidak hanya digunakan untuk komunikasi dan hiburan. Internet telah menjadi bagian dari aktivitas pekerjaan dan dunia usaha dalam berbagai skala.
"Internet tidak saja digunakan untuk penunjang media komunikasi dan hiburan, tapi merupakan penopang utama pekerjaan dan dunia usaha, baik skala kecil maupun besar. Dari kelas rumah tangga sampai industri," katanya.
Menurut Yunus, pandemi Covid-19 menjadi salah satu momentum yang mempercepat pergeseran perilaku tersebut. Masyarakat semakin terbiasa bekerja, belajar, berkomunikasi, berbelanja, dan menjalankan berbagai aktivitas melalui ruang digital.
Bertahun-tahun setelah pandemi berlalu, kebiasaan itu tak menghilang. Sebaliknya, internet semakin melekat dalam kehidupan masyarakat.
Ketika Internet Menjadi Modal untuk Mencari Penghasilan
Baca Juga:Ketika Kantor Tak Lagi Berdinding, Kisah Anyelir Berkarya Bersama Tri hingga Desa di OKI
Perubahan tersebut terlihat dari lahir dan berkembangnya berbagai profesi yang bergantung pada konektivitas. Freelancer bekerja dari lokasi yang berbeda. Content writer mencari referensi dan mengirim tulisan melalui internet. Content creator membutuhkan jaringan untuk mengikuti tren dan mendistribusikan karya. Pelaku UMKM memasarkan produk melalui media sosial dan marketplace, sedangkan pekerja lapangan harus tetap terkoneksi meski berada jauh dari kantor.
Bagi kelompok tersebut, kestabilan jaringan bukan lagi sekadar masalah kenyamanan. Koneksi yang terganggu dapat berarti komunikasi yang terhambat, pekerjaan tertunda, bahkan hilangnya kesempatan memperoleh penghasilan.
"Tentunya stabilitas jaringan sangat penting. Perluasan jangkauan layanan internet pun sangat penting bagi pemerataan akses komunikasi, informasi, pendidikan dan berbagai peluang usaha dan pekerjaan," jelas Yunus.
Pertimbangan masyarakat dalam memilih layanan internet pun berbeda-beda. Ada pengguna yang berorientasi pada harga murah dan terjangkau. Sebagian lainnya lebih mengutamakan kualitas layanan, mulai dari kecepatan dan kestabilan jaringan hingga penanganan ketika terjadi gangguan. Ada pula yang menginginkan keduanya: jaringan berkualitas dengan harga yang tetap ramah di kantong.
"Tapi kembali lagi kepada tingkat kebutuhan dari masing-masing pengguna," kata Yunus.
Palembang Semakin Terkoneksi, Kebutuhan Digital Terus Berkembang
Perubahan kebutuhan masyarakat terhadap internet juga terlihat di Palembang. Konektivitas kini digunakan untuk beragam aktivitas, mulai dari komunikasi, belajar dan bekerja hingga menikmati streaming, bermain gim, membuat konten, serta memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Sejalan dengan perkembangan tersebut, Indosat Ooredoo Hutchison melalui brand Tri terus memperkuat jaringan dan pengalaman digital pelanggannya di Palembang.
Dalam kegiatan Jelajah Tri Palembang, jaringan Tri disebut telah menjangkau hampir 100 persen populasi Kota Palembang. Penguatan konektivitas itu menjadi semakin relevan seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap internet untuk berbagai aktivitas sehari-hari.
Head of Circle Sumatera Indosat Ooredoo Hutchison, Agus Sulistio, sebelumnya mengatakan kebutuhan pengguna internet terus berkembang. Masyarakat tidak lagi hanya membutuhkan koneksi untuk komunikasi dan hiburan, tetapi juga untuk menunjang produktivitas, kreativitas, gaming, hingga pemanfaatan teknologi AI.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa internet kini menjadi bagian yang semakin sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat perkotaan. Namun, tersedianya jaringan hanyalah awal.
Anak Muda Ditantang Bukan Hanya Terkoneksi, tapi Berkarya
Yunus menilai operator dan provider pada dasarnya berperan sebagai penyedia jaringan yang menjadi medium bagi masyarakat untuk mengakses internet. Setelah jaringan tersedia, tantangan berikutnya berada di tangan masyarakat, terutama generasi muda dan pekerja digital: bagaimana memanfaatkan konektivitas tersebut untuk menciptakan sesuatu yang bernilai.
"Operator atau provider jaringan telekomunikasi dan internet adalah sebagai penyedia jaringan, sebagai media akses untuk bisa berkomunikasi ataupun memanfaatkan layanan internet," ujarnya.
Menurut Yunus, anak muda dan pekerja digital justru ditantang untuk berkreasi dan berinovasi menciptakan berbagai konten, aplikasi, maupun layanan yang dibutuhkan masyarakat. Ia mencontohkan Gojek sebagai salah satu kreasi anak muda Indonesia yang memberikan dampak luas, tidak hanya memudahkan kehidupan masyarakat, tetapi juga membuka berbagai peluang pekerjaan.
Contoh lainnya hadir di sektor kesehatan melalui aplikasi Halodoc.
"Jadi tugas operator atau provider adalah sebagai penyedia jaringan. Masyarakat, anak muda dan pekerja digital, yang harus bisa memanfaatkannya," tegas Yunus.
Pernyataan tersebut menjadi relevan di tengah berkembangnya ekonomi digital. Kini, seseorang dapat menulis, membuat video, menjual produk, bekerja sebagai freelancer, membangun aplikasi, hingga mencari konsumen melalui internet tanpa selalu dibatasi oleh lokasi geografis.
AI Datang, Mereka yang Berhenti Belajar Berisiko Tertinggal
Perubahan diperkirakan semakin cepat dalam lima tahun mendatang. Kehadiran AI menjadi salah satu faktor yang berpotensi mengubah cara masyarakat belajar, bekerja, dan mencari penghasilan.
Yunus menilai tren saat ini telah menunjukkan arah menuju dunia yang semakin digital. Berbagai aplikasi akan semakin memudahkan aktivitas manusia, baik dalam pekerjaan maupun proses pembelajaran.
Namun, kemajuan teknologi juga membawa tantangan. "Apalagi adanya AI, selain sangat membantu pekerjaan manusia, namun di sisi lain juga dapat mengurangi peran manusia. Jika kita tidak terus belajar, meningkatkan pengetahuan dan keahlian, maka kita akan tertinggal," ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi penting bagi Sumatera Selatan. Ketika penetrasi internet telah mencapai 76,98 persen, konektivitas seharusnya tidak berhenti pada kemampuan untuk sekadar mengakses dunia maya.
Akses perlu diterjemahkan menjadi pengetahuan, keterampilan, produktivitas, kreativitas, inovasi, dan kesempatan ekonomi baru.
Bagi Yunus, posisi internet dalam kehidupan masyarakat saat ini sudah sangat jelas. Konektivitas bukan lagi fasilitas tambahan, melainkan infrastruktur penting yang menopang berbagai aspek kehidupan dan perekonomian.
"Betul. Internet sudah menjadi tulang punggung perekonomian dan menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, baik untuk komunikasi antarkeluarga, pertemanan, pekerjaan, relasi bisnis, dan sebagainya," ujarnya.
Kebutuhan tersebut lahir dari sifat manusia untuk terus berinteraksi. Pedagang perlu berkomunikasi dengan pedagang lainnya, pelaku usaha dengan konsumen, pekerja dengan rekan kerja, dan masyarakat dengan berbagai layanan yang dibutuhkan.
Di tengah perubahan itu, tantangan Sumatera Selatan bukan lagi sekadar meningkatkan jumlah warga yang terkoneksi.
Tantangan berikutnya adalah memastikan akses semakin merata hingga pelosok, kualitas jaringan terus meningkat, dan masyarakat mampu memanfaatkan konektivitas untuk menciptakan peluang baru.
Sebab ketika 76,98 persen warga Sumsel telah terkoneksi, pertanyaan berikutnya bukan lagi hanya tentang siapa yang dapat mengakses internet. Melainkan, apa yang bisa diciptakan dari koneksi tersebut?