- BMKG memetakan wilayah Sumatera Selatan mulai memasuki musim kemarau lebih cepat pada periode Mei hingga Juni 2026.
- Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus dengan curah hujan rendah dan durasi selama lima bulan.
- Pemerintah daerah diminta waspada terhadap potensi kekeringan serta ancaman kebakaran hutan dan lahan di wilayah rawan.
SuaraSumsel.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memetakan perkembangan musim kemarau di Sumatera Selatan tahun 2026, dengan sejumlah daerah mulai memasuki zona kering sejak Mei hingga Juni.
Berdasarkan pemutakhiran prakiraan musim, sekitar 64 persen wilayah zona musim di Sumsel mengalami awal kemarau yang lebih cepat dibandingkan kondisi normal. Selain itu, sifat kemarau tahun ini diprediksi berada pada kategori bawah normal, yang berarti curah hujan lebih rendah dari biasanya.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan Wandayantolis di Palembang, Senin, mengatakan, berdasarkan analisis data per 20 Juni 2026 kondisi iklim di wilayah ini menunjukkan variasi yang terbagi menjadi tiga fase, yaitu wilayah yang telah memasuki musim kemarau, wilayah yang berada pada fase indikator menuju kemarau, dan wilayah yang belum memasuki kemarau.
"Saat ini sebanyak empat dari 14 ZOM di Sumatera Selatan tercatat telah resmi memasuki musim kemarau," katanya.
Baca Juga:Harga DMO Batu Bara Dirombak, Apa Dampaknya bagi PTBA dan PLN?
Ia menjelaskan bahwa wilayah yang telah mengalami musim kemarau ditandai dengan intensitas curah hujan yang berada di bawah 50 milimeter (mm) per dasarian selama tiga dasarian berturut-turut.
Wilayah tersebut meliputi ZOM 126 (Muara Enim bagian timur, sebagian besar Ogan Ilir, OKI bagian barat, Prabumulih bagian timur, sebagian kecil OKU bagian timur, dan OKU Timur) serta ZOM 127 (Banyuasin bagian timur, sebagian besar Palembang, OKI bagian utara, dan sebagian kecil Ogan Ilir bagian utara).
Puncak Kemarau Diperkirakan Juli-Agustus
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Sumatera Selatan akan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026. Secara nasional, Agustus diprediksi menjadi periode puncak kemarau di banyak wilayah Indonesia.
Durasi musim kemarau di Sumsel diperkirakan berlangsung antara tiga hingga lima bulan. Beberapa wilayah di bagian tengah provinsi bahkan berpotensi mengalami kemarau lebih panjang dibanding daerah lainnya.
Baca Juga:Harga Karet Sumsel Tetap di Atas Rp40 Ribu saat Dolar Menguat, Kok Petani Belum Lega?
Dalam buletin prakiraan musimnya, BMKG menyebut Sumatera Selatan termasuk wilayah yang rawan terdampak kekeringan saat musim kemarau berlangsung. Risiko ini terutama terjadi di daerah yang bergantung pada sumber air permukaan serta wilayah dengan lahan gambut yang luas.
Prediksi curah hujan menunjukkan sebagian besar wilayah Sumsel akan mengalami curah hujan rendah selama periode Juni hingga Agustus. Pada puncaknya, yakni Juli dan Agustus, kondisi kering diperkirakan semakin meluas.
Sejumlah wilayah seperti Palembang, Banyuasin, Ogan Ilir, PALI, dan Musi Banyuasin mulai merasakan dampak awal musim kemarau. Suhu udara di wilayah tersebut diperkirakan meningkat, dengan suhu maksimum harian mencapai 31 hingga 32 derajat Celsius.
Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa hujan masih berpotensi terjadi secara lokal di beberapa wilayah. Hal ini merupakan kondisi yang wajar meskipun secara klimatologis daerah tersebut telah memasuki musim kemarau.
Ancaman Karhutla Perlu Diantisipasi
Masuknya musim kemarau lebih awal meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan gambut yang mudah terbakar saat kondisi kering berkepanjangan.