- Ribuan penari merayakan Hari Tari Sedunia di pelataran Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang selama sepuluh jam penuh.
- Pertunjukan kolosal ini menampilkan tarian massal Dana Belincak yang melibatkan tokoh masyarakat serta peserta dari berbagai sanggar.
- Kegiatan tersebut berhasil menunjukkan kekuatan adaptasi budaya tradisional Palembang agar tetap relevan di tengah arus modernisasi.
SuaraSumsel.id - Ketika sebagian kota mulai meredup menjelang malam, tepian Sungai Musi justru semakin hidup. Di pelataran Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, ribuan penari tak sekadar tampil—mereka bertahan, bergerak, dan menyatu dalam satu irama selama 10 jam tanpa henti.
Inilah momen yang membuat Palembang berbeda malam itu.
Bukan hanya karena jumlah penarinya yang mencapai ribuan, tetapi karena daya tahan, semangat, dan energi kolektif yang terus menyala sejak awal hingga akhir. Perayaan Hari Tari Sedunia di kota ini berubah menjadi pertunjukan kolosal yang sulit diabaikan.
Sejak sore, kawasan museum mulai dipenuhi peserta dari berbagai sanggar dan daerah. Anak-anak hingga orang dewasa datang dengan satu tujuan: menari bersama.
Waktu berjalan, tapi ritme tidak pernah benar-benar berhenti.
Musik tradisional yang mengalun berpadu dengan sentuhan modern menciptakan atmosfer yang terus berubah—kadang lembut, kadang menghentak. Setiap pergantian segmen seperti membuka bab baru, namun benang merahnya tetap sama: menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah zaman.
Yang menarik, bukan hanya penari yang bertahan. Penonton pun ikut larut, menyaksikan bagaimana energi itu tidak surut meski jam terus bergulir.
Sekitar puncak acara, tarian massal Dana Belincak menjadi magnet utama. Lebih dari seribu penari bergerak serempak, membentuk pola yang mengalir seperti arus Musi.
Gerakan mereka bukan hanya seragam, tapi juga terasa “hidup”.
Baca Juga: 6 Rekomendasi Perumahan Dekat Tol di Palembang, Cocok untuk yang Sering ke Lampung
Dari kejauhan, tarian itu tampak seperti ombak yang bergerak perlahan, lalu menghentak dalam satu komando. Momen ini menjadi titik di mana penonton tak hanya melihat, tetapi merasakan.
Di tengah ribuan penari, hadir pula tokoh masyarakat seperti Dewi Sastrani Ratu Dewa dan Ida Royani Aprizal yang ikut menari bersama.
Kehadiran mereka bukan sekadar simbolis. Ini menegaskan bahwa seni bukan milik segelintir orang, melainkan ruang bersama yang bisa dihidupi siapa saja.
Selama 10 jam itu, yang terlihat bukan hanya tarian. Ada cerita tentang identitas, tentang bagaimana tradisi tetap bertahan di tengah modernisasi yang semakin cepat.
Palembang, dengan sejarah panjangnya, kembali menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar warisan—melainkan kekuatan yang bisa terus bergerak dan beradaptasi.
Ribuan penari Satapa seolah menjadi pengingat bahwa tradisi tidak harus diam. Ia bisa dinamis, bisa megah, bahkan bisa mengguncang panggung kota.
Berita Terkait
-
6 Rekomendasi Perumahan Dekat Tol di Palembang, Cocok untuk yang Sering ke Lampung
-
82 Ribu Kilo Liter Solar Ilegal Disita di Sungai Musi, Ada Dugaan Jaringan Besar di Baliknya?
-
Di Kantor Pemerintah Saja Begini? Kendaraan di Setda Palembang Mati Pajak hingga 11 Tahun
-
Aksi Pria Curi CCTV di Jakabaring Berakhir Tragis, Wajah Babak Belur usai Terekam Kamera
-
8 Cara Bikin Rumah di Palembang Tetap Sejuk Meski Cuaca Lagi Panas-Panasnya
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
BRI Perkuat Pembiayaan Perumahan dan Hadirkan Akad Massal 62 Ribu KPR FLPP
-
Detik-detik Wagub Babel Ditahan, Pakai Rompi Tahanan Merah lalu Bungkam
-
Kartu ATM Tertelan, Saldo Rp17 Juta Raib, Begini Kronologi yang Dialami Nasabah di Palembang
-
Harta Sekda Palembang Disorot Usai Didemo ke KPK, Begini Isi LHKPN Terbarunya
-
Setelah Lampung Viral, Warga Banyuasin Juga Patungan Hampir Rp1 Miliar Demi Jalan Rusak