Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 16 Januari 2026 | 13:53 WIB
Ilustrasi mahasiswa PPDS menjadi korban perundungan. [Freepik]
Baca 10 detik
  • Mahasiswa PPDS Ilmu Kesehatan Mata Unsri, OA, mengalami perundungan dan pemerasan sistemik oleh senior untuk membiayai gaya hidup mewah mereka.
  • Kemenkes menanggapi serius kasus tersebut dengan menghentikan sementara prodi terkait dan Unsri memberikan sanksi tegas kepada para senior.
  • Kemenkes berupaya memperbaiki sistem dengan menerapkan standar internasional PPDS yang mewajibkan pemberian insentif bagi peserta didik.

SuaraSumsel.id - Kasus dugaan perundungan dan pemerasan yang menimpa seorang mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Kesehatan Mata Universitas Sriwijaya (Unsri), OA, kembali mengguncang dunia pendidikan kedokteran di Indonesia.

Insiden ini mencuat setelah viral di media sosial, mengungkap praktik sistemik yang memaksa junior membiayai gaya hidup mewah seniornya, bahkan hingga nyaris merenggut nyawa korban.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut fenomena ini sudah sistemik, mendorong langkah tegas dari Kemenkes dan Unsri.

Kronologi dan Modus Perundungan

Kasus ini bermula ketika OA, seorang mahasiswa PPDS yang bertugas di RSUP Mohammad Hoesin Palembang, diduga mengalami tekanan hebat dari seniornya.

Dalam salinan pesan yang beredar, OA diklaim mengundurkan diri dan nyaris melakukan percobaan bunuh diri akibat perundungan dan pemerasan.

Modus perundungan yang dialami OA sangat beragam dan meresahkan. Korban dipaksa membiayai berbagai kebutuhan senior, mulai dari biaya semesteran, dugem, skincare, hingga olahraga padel.

Tidak hanya itu, OA juga diminta untuk membelikan obat perawatan wajah, makanan dan minuman, tiket pesawat dan konser, biaya sewa rumah dan kos senior, biaya perpisahan senior, serta biaya penelitian ilmiah dan seminar senior.

Bahkan, korban diduga diminta antar-jemput anak senior ke sekolah, membelikan alat kesehatan (alkes), dan barang mewah lainnya.

Baca Juga: 7 Fakta Dugaan Bullying PPDS Mata RSMH, Kemenkes Bakal Sampai Setop Program

Jika permintaan tersebut tidak dipenuhi, korban akan diintimidasi, diancam dirundung, dikucilkan, dan dipersulit selama masa pendidikan di PPDS Unsri Ilmu Kesehatan Mata di RSUP Mohammad Hoesin Palembang.

Tindakan dan Investigasi Unsri

Menanggapi kasus ini, Kepala Humas Unsri, Nurly Meilinda, menyatakan bahwa Fakultas Kesehatan Unsri telah mengambil langkah awal sejak September 2025.

Rektor Unsri juga menugaskan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) untuk membantu investigasi. Unsri mengklaim telah melakukan klarifikasi dengan meminta keterangan dari berbagai pihak, termasuk senior dan sejawat.

Dari hasil investigasi Unsri, korban OA diklaim tidak mengalami perundungan secara fisik dan verbal, melainkan menerima desakan dalam proses perencanaan dana sepanjang program PPDS berjalan.

"Dari informasi yang didapat, mereka satu angkatan [OA] itu mengumpulkan dana untuk kebutuhan mereka selama residensi. Di situlah muncul kata-kata pemerasan," kata Nurly Meilinda.

Load More