- Survei APJII 2025 menunjukkan penetrasi internet di Sumatera Selatan mencapai 76,98 persen dengan pola penggunaan yang kian produktif.
- Internet kini menjadi penopang utama pekerjaan, pendidikan, dan kreativitas bagi warga di berbagai daerah di Sumatera Selatan.
- Tantangan utama yang tersisa adalah pemerataan akses jaringan di wilayah pelosok yang belum terjangkau layanan internet stabil.
Pertemuan dilakukan melalui konferensi video. Materi kuliah dicari melalui jurnal daring. Pelaku usaha menawarkan dagangan melalui media sosial dan marketplace. Sejumlah pekerjaan bahkan bisa dilakukan tanpa seseorang harus hadir di sebuah kantor.
Pandemi kemudian berlalu, tetapi kebiasaan digital tidak ikut menghilang. Internet justru semakin dalam masuk ke kehidupan sehari-hari. Belakangan, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kembali mengubah cara orang mencari informasi dan menyelesaikan pekerjaan.
Bagi pekerja digital maupun mereka yang memiliki mobilitas tinggi, kestabilan jaringan akhirnya bukan lagi sekadar perkara kenyamanan. "Tentunya stabilitas jaringan sangat penting. Perluasan jangkauan layanan internet pun sangat penting bagi pemerataan akses komunikasi, informasi, pendidikan dan berbagai peluang usaha dan pekerjaan," kata Yunus.
Internet dan Ruang Kerja yang Terus Berubah
Baca Juga:76,98 Persen Warga Sumsel Terkoneksi, Internet Kini Jadi Tulang Punggung Ekonomi
Pengalaman Anyelir di Desa Bangsal dan Lebung Itam menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap internet tak lagi berhenti di pusat kota.
Sebagai content writer, internet membantunya mengakses informasi dan mengikuti perkembangan yang dibutuhkan dalam pekerjaannya. Sementara sebagai content creator, media sosial menjadi ruang untuk menemukan tren sekaligus mendistribusikan konten.
Kebutuhan Ardi berbeda lagi. Ketika pekerjaannya membawanya ke OKI, Muara Enim, ataupun Lahat, ponsel menjadi salah satu penghubung dengan informasi dan komunikasi.
Sementara bagi Zelvan, fungsi internet ikut berubah mengikuti fase kehidupannya. Dahulu ia menggunakannya untuk menunjang pendidikan. Kini koneksi yang sama menjadi bagian dari aktivitasnya sebagai freelancer.
Perbedaan kebutuhan itu ikut memengaruhi cara masyarakat memilih layanan internet.
Baca Juga:Transportasi Umum Palembang Dinilai Mundur, Surat Terbuka untuk Ratu Dewa: Kritik Kami Dibungkam
Menurut Yunus, sebagian pengguna berorientasi pada harga murah dan terjangkau. Ada pula yang lebih mengutamakan kualitas layanan, termasuk kecepatan dan stabilitas jaringan serta penanganan ketika terjadi gangguan. Sebagian lainnya menginginkan keduanya sekaligus. "Tapi kembali lagi kepada tingkat kebutuhan dari masing-masing pengguna," katanya.
Anyelir, misalnya, biasa menggunakan paket sekitar 20 GB untuk masa aktif 28 hari dengan biaya sekitar Rp60 ribu. Baginya, paket tersebut digunakan untuk berbagai aktivitas digital, termasuk mengakses TikTok dan Instagram.
Ardi memiliki pola berbeda. Penggunaan datanya tercatat mencapai 105,71 GB, sejalan dengan aktivitas seorang pekerja yang kerap bepergian ke berbagai daerah.
Pengalaman mereka menunjukkan tidak ada satu pola tunggal dalam menggunakan internet. Kebutuhan seorang freelancer berbeda dengan content creator, begitu pula dengan pekerja lapangan.
Namun ada satu hal yang sama: kebutuhan untuk tetap terkoneksi.
Palembang dan Kehidupan yang Semakin Digital