Ketika Sinyal IM3 Menyala, Mimpi-Mimpi di Sumsel Menemukan Jalannya

Internet kini menjadi penopang utama pekerjaan, pendidikan, dan kreativitas warga Sumsel. Meski akses terus meluas, tantangan pemerataan jaringan di pelosok masih perlu diselesaikan.

Tasmalinda
Minggu, 12 Juli 2026 | 07:25 WIB
Ketika Sinyal IM3 Menyala, Mimpi-Mimpi di Sumsel Menemukan Jalannya
Ardi memperlihatkan IM3
Baca 10 detik
  • Survei APJII 2025 menunjukkan penetrasi internet di Sumatera Selatan mencapai 76,98 persen dengan pola penggunaan yang kian produktif.
  • Internet kini menjadi penopang utama pekerjaan, pendidikan, dan kreativitas bagi warga di berbagai daerah di Sumatera Selatan.
  • Tantangan utama yang tersisa adalah pemerataan akses jaringan di wilayah pelosok yang belum terjangkau layanan internet stabil.

SuaraSumsel.id - Nomor telepon itu sudah hampir 14 tahun berada di tangan Zelvan Ramadhan. Ia membelinya pada 2012, ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Muara Enim. Banyak hal berubah sejak itu. Zelvan menyelesaikan sekolah, masuk perguruan tinggi, lalu kini bekerja sebagai freelancer. Namun nomor yang dibelinya ketika masih mengenakan seragam SMP tetap bertahan. Yang ikut berubah adalah cara Zelvan menggunakan internet.

Semasa kuliah, internet membantunya mencari video pembelajaran di YouTube, mengikuti pertemuan melalui Zoom, membaca buku daring, hingga berburu referensi dan jurnal ilmiah melalui Google Scholar. Sekarang, ketika sudah bekerja sebagai freelancer, internet menjadi bagian dari aktivitasnya mencari penghasilan. "Saya tidak pernah menyangka nomor yang saya beli saat SMP masih menemani saya mencari penghasilan sampai sekarang," kata Zelvan.

Perjalanan Zelvan mungkin terasa sederhana. Namun dalam rentang hampir 14 tahun itu, tersimpan perubahan besar tentang bagaimana internet masuk ke kehidupan seseorang. Dari sekadar alat komunikasi, lalu menjadi ruang belajar, hingga akhirnya ikut menopang pekerjaan.

Cerita berbeda datang dari Anyelir Ayu.

Baca Juga:76,98 Persen Warga Sumsel Terkoneksi, Internet Kini Jadi Tulang Punggung Ekonomi

Sebagai content writer sekaligus content creator, kesehariannya nyaris tak bisa dilepaskan dari internet. TikTok dan Instagram bukan hanya tempat mencari hiburan. Kedua platform itu juga menjadi bagian dari pekerjaannya untuk melihat tren, mencari ide, dan mengikuti perkembangan konten digital.

Sudah sekitar tujuh tahun Anyelir menggunakan Tri. Pekerjaan dan aktivitasnya beberapa kali membawa dia meninggalkan kawasan perkotaan menuju sejumlah desa di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Ia pernah mengunjungi Desa Bangsal dan Lebung Itam. Dari pengalamannya, jaringan masih bisa digunakan dengan baik di kedua wilayah tersebut. "Tri itu kalau di desa juga lancar. Aku ke Desa Bangsal sama Lebung Itam area OKI pun masih kencang sinyalnya. Cuma kalau desa yang terpencil banget, baru mati sinyalnya," ungkap Anyelir.

Lalu ada Ardi, seorang pekerja lapangan dengan mobilitas tinggi. Pekerjaannya membuat ia harus mengunjungi sejumlah daerah di Sumatera Selatan, termasuk OKI, Muara Enim, hingga Lahat.

Di ponselnya, penggunaan data tercatat mencapai 105,71 GB. Angka itu memberi gambaran tentang besarnya kebutuhan internet seorang pekerja yang tak selalu berada di belakang meja. Bagi Ardi, kantor bisa berpindah mengikuti ke mana pekerjaan membawanya.

Baca Juga:Transportasi Umum Palembang Dinilai Mundur, Surat Terbuka untuk Ratu Dewa: Kritik Kami Dibungkam

Dari pengalamannya bepergian ke sejumlah kabupaten, ia menilai jaringan IM3 yang digunakannya lebih jelas dibanding provider lain yang pernah ia pakai. "Kalau untuk pekerjaan lapangan, saya sering ke daerah-daerah. Pernah ke OKI, Muara Enim, juga Lahat. Dari pengalaman saya, sinyal IM3 lebih jelas dibanding provider lain yang pernah saya pakai," ujar Ardi.

Zelvan, Anyelir, dan Ardi memiliki pekerjaan dan kebutuhan yang berbeda. Namun pengalaman mereka memperlihatkan perubahan yang sama: internet semakin jauh meninggalkan fungsi lamanya sebagai sekadar alat bertukar pesan atau mencari hiburan. Internet telah masuk ke ruang belajar, pekerjaan, kreativitas, dan cara seseorang memperoleh penghasilan.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat tingkat penetrasi internet di Sumatera Selatan mencapai 76,98 persen berdasarkan survei tahun 2025. Angka tersebut masih berada di bawah penetrasi nasional yang mencapai 81,72 persen.

Ketua APJII Sumatera Selatan, Yunus Alfian, mengatakan perkembangan pengguna internet di Sumsel berlangsung cukup pesat. Namun perubahan yang terjadi bukan hanya mengenai berapa banyak orang yang telah terkoneksi.

Cara masyarakat menggunakan internet juga berubah. "Internet tidak saja digunakan untuk penunjang media komunikasi dan hiburan, tapi merupakan penopang utama pekerjaan dan dunia usaha. Baik skala kecil maupun besar. Dari kelas rumah tangga sampai industri," ujar Yunus kepada Suara.com.

Pandemi Covid-19 ikut mempercepat pergeseran tersebut. Ketika ruang kelas, kantor, toko, dan berbagai ruang pertemuan fisik mendadak terbatas, sebagian aktivitas berpindah ke dunia digital.

Pertemuan dilakukan melalui konferensi video. Materi kuliah dicari melalui jurnal daring. Pelaku usaha menawarkan dagangan melalui media sosial dan marketplace. Sejumlah pekerjaan bahkan bisa dilakukan tanpa seseorang harus hadir di sebuah kantor.

Pandemi kemudian berlalu, tetapi kebiasaan digital tidak ikut menghilang. Internet justru semakin dalam masuk ke kehidupan sehari-hari. Belakangan, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kembali mengubah cara orang mencari informasi dan menyelesaikan pekerjaan.

Bagi pekerja digital maupun mereka yang memiliki mobilitas tinggi, kestabilan jaringan akhirnya bukan lagi sekadar perkara kenyamanan. "Tentunya stabilitas jaringan sangat penting. Perluasan jangkauan layanan internet pun sangat penting bagi pemerataan akses komunikasi, informasi, pendidikan dan berbagai peluang usaha dan pekerjaan," kata Yunus.

Internet dan Ruang Kerja yang Terus Berubah

Pengalaman Anyelir di Desa Bangsal dan Lebung Itam menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap internet tak lagi berhenti di pusat kota.

Sebagai content writer, internet membantunya mengakses informasi dan mengikuti perkembangan yang dibutuhkan dalam pekerjaannya. Sementara sebagai content creator, media sosial menjadi ruang untuk menemukan tren sekaligus mendistribusikan konten.

Kebutuhan Ardi berbeda lagi. Ketika pekerjaannya membawanya ke OKI, Muara Enim, ataupun Lahat, ponsel menjadi salah satu penghubung dengan informasi dan komunikasi.

Sementara bagi Zelvan, fungsi internet ikut berubah mengikuti fase kehidupannya. Dahulu ia menggunakannya untuk menunjang pendidikan. Kini koneksi yang sama menjadi bagian dari aktivitasnya sebagai freelancer.

Perbedaan kebutuhan itu ikut memengaruhi cara masyarakat memilih layanan internet.

Menurut Yunus, sebagian pengguna berorientasi pada harga murah dan terjangkau. Ada pula yang lebih mengutamakan kualitas layanan, termasuk kecepatan dan stabilitas jaringan serta penanganan ketika terjadi gangguan. Sebagian lainnya menginginkan keduanya sekaligus. "Tapi kembali lagi kepada tingkat kebutuhan dari masing-masing pengguna," katanya.

Anyelir, misalnya, biasa menggunakan paket sekitar 20 GB untuk masa aktif 28 hari dengan biaya sekitar Rp60 ribu. Baginya, paket tersebut digunakan untuk berbagai aktivitas digital, termasuk mengakses TikTok dan Instagram.

Ardi memiliki pola berbeda. Penggunaan datanya tercatat mencapai 105,71 GB, sejalan dengan aktivitas seorang pekerja yang kerap bepergian ke berbagai daerah.

Pengalaman mereka menunjukkan tidak ada satu pola tunggal dalam menggunakan internet. Kebutuhan seorang freelancer berbeda dengan content creator, begitu pula dengan pekerja lapangan.

Namun ada satu hal yang sama: kebutuhan untuk tetap terkoneksi.

Palembang dan Kehidupan yang Semakin Digital

Di Palembang, internet telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan hampir sembilan dari sepuluh penduduk Palembang telah menggunakan telepon genggam. Kebutuhan digital pun semakin beragam. Internet digunakan untuk bekerja, belajar, membuat konten, menonton tayangan streaming, bermain gim, hingga memanfaatkan aplikasi berbasis AI.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, Indosat Ooredoo Hutchison melalui brand Tri terus memperkuat jaringan dan pengalaman digital pelanggannya di Palembang.

Dalam kegiatan Jelajah Tri Palembang, jaringan Tri disebut telah menjangkau hampir 100 persen populasi Kota Palembang. Jaringan tersebut hadir di berbagai titik aktivitas masyarakat, mulai dari kawasan wisata, pusat perbelanjaan, tempat ibadah, rumah sakit, hingga kawasan permukiman.

Head of Circle Sumatera Indosat Ooredoo Hutchison, Agus Sulistio, sebelumnya mengatakan kebutuhan pengguna internet terus berkembang. Masyarakat tidak lagi hanya membutuhkan koneksi untuk komunikasi dan hiburan, tetapi juga untuk mendukung produktivitas, kreativitas, gaming, hingga penggunaan AI.

Bagi Anyelir, perkembangan itu dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Selama sekitar tujuh tahun menggunakan Tri, internet telah menjadi bagian dari aktivitasnya sebagai content writer dan content creator.

Namun cerita tentang konektivitas di Sumatera Selatan tidak seluruhnya berisi tentang jaringan yang semakin cepat atau semakin banyaknya aktivitas yang berpindah ke ruang digital.

Setelah Jaringan Tersedia, Apa yang Bisa Diciptakan?

Yunus memiliki pandangan menarik ketika berbicara tentang hubungan operator telekomunikasi dengan kebutuhan anak muda dan pekerja digital. Menurutnya, operator atau provider pada dasarnya bertugas menyediakan jaringan sebagai media bagi masyarakat untuk berkomunikasi dan menggunakan berbagai layanan internet.

Setelah jaringan tersedia, tantangan berikutnya berada di tangan pengguna."Jadi tugas operator atau provider adalah sebagai penyedia jaringan. Masyarakat, anak muda dan pekerja digital, yang harus bisa memanfaatkannya," ujar Yunus.

Ia mencontohkan Gojek sebagai karya anak muda Indonesia yang kemudian memberikan dampak luas bagi masyarakat sekaligus membuka berbagai lapangan pekerjaan. Di sektor kesehatan, ia menyebut kehadiran layanan digital seperti Halodoc.

Contoh tersebut memperlihatkan bahwa koneksi dapat membuka jalan, tetapi tidak dengan sendirinya menghasilkan perubahan. Tetap ada manusia yang harus mengolah akses menjadi sesuatu yang berguna.

Zelvan menggunakannya untuk belajar dan bekerja. Anyelir menjadikannya bagian dari aktivitas kreatif. Ardi membawanya dalam perjalanan kerja ke sejumlah kabupaten di Sumsel.

Pada saat bersamaan, perkembangan AI membawa tantangan baru bagi mereka yang telah terkoneksi.

Yunus memperkirakan dunia akan semakin digital dalam lima tahun mendatang. Berbagai aplikasi akan semakin membantu pekerjaan maupun proses belajar. AI dapat mempermudah aktivitas manusia, tetapi teknologi yang sama juga berpotensi mengurangi peran manusia dalam sejumlah pekerjaan.

"Jika kita tidak terus belajar, meningkatkan pengetahuan dan keahlian, maka kita akan tertinggal," katanya.

Sinyal Menyala, Lalu Apa?

Hampir 14 tahun lalu, ketika Zelvan membeli nomor telepon saat masih SMP, barangkali sulit membayangkan bahwa suatu hari sebuah ponsel dapat menjadi pintu menuju ruang kelas virtual, jurnal ilmiah, pekerjaan, kecerdasan buatan, dan berbagai peluang ekonomi.

Hari ini, semua itu telah menjadi bagian dari keseharian.

Yunus menyebut internet sudah menjadi tulang punggung perekonomian dan bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari komunikasi keluarga dan pertemanan hingga pekerjaan serta relasi bisnis.

Namun perjalanan digital Sumatera Selatan belum selesai. Angka penetrasi 76,98 persen menunjukkan sebagian besar masyarakat telah terkoneksi, sekaligus mengingatkan bahwa akses belum sepenuhnya merata. Ada masyarakat yang sudah menggunakan AI untuk membantu pekerjaan, sementara di tempat lain masih ada desa yang menunggu jaringan.

Bagi mereka yang telah terkoneksi, tantangannya pun berubah. Bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan sinyal, melainkan apa yang bisa dilakukan setelah sinyal itu menyala.

Zelvan, Anyelir, dan Ardi mungkin hanya tiga dari jutaan pengguna internet di Sumatera Selatan. Cerita mereka berbeda, tetapi menunjukkan perubahan yang sama: konektivitas telah masuk ke dalam cara masyarakat belajar, bekerja, berkarya, dan mencari penghasilan.

Sinyal yang menyala memang membuka pintu. Namun apa yang terjadi setelah pintu itu terbuka tetap bergantung pada siapa yang melangkah melewatinya. Dan mungkin, di sanalah mimpi-mimpi mulai menemukan jalannya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak