Film Jongot Merekam Cara Orang Musi Menjaga Pangan, Air, dan Ingatan Leluhur

Film dokumenter Jongot karya Nopri Ismi mendokumentasikan kearifan lokal masyarakat Musi di Kabupaten PALI, Sumatera Selatan.

Tasmalinda
Rabu, 10 Juni 2026 | 11:20 WIB
Film Jongot Merekam Cara Orang Musi Menjaga Pangan, Air, dan Ingatan Leluhur
pemutaran film dokumenter jongot di Tempirai, Pali, Sabtu (10/6/2026)
Baca 10 detik
  • Film dokumenter Jongot karya Nopri Ismi mendokumentasikan kearifan lokal masyarakat Musi di Kabupaten PALI, Sumatera Selatan.
  • Jongot merupakan lahan warisan leluhur yang berfungsi sebagai sumber pangan, apotek hidup, dan penjaga sumber air keluarga.
  • Di tengah ekspansi perkebunan, masyarakat berupaya mempertahankan Jongot sebagai ruang hidup meski menghadapi tantangan perubahan zaman.

Tony, pewaris generasi keempat Jongot di PALI, masih merasakan manfaat tersebut hingga hari ini.

Di lahan warisan keluarganya yang luasnya sekitar setengah hektare, tumbuh puluhan jenis tanaman dengan ratusan batang pohon.

Saat musim buah datang, hasil panen dinikmati bersama keluarga besar. Sebagian dibagikan kepada kerabat, dan jika masih ada kelebihan, hasilnya dijual. "Buahnya dimakan bersama keluarga. Kalau ada lebih baru dijual," katanya.

Bagi masyarakat Musi, Jongot bukan sekadar tempat menanam pohon. Ia adalah bentuk ketahanan pangan yang dibangun melalui kesabaran dan hubungan jangka panjang dengan alam.

Baca Juga:Film 'Jongot' Angkat Kearifan Suku Musi dalam Menjaga Hutan dan Alam

Pohon yang ditanam hari ini mungkin baru berbuah puluhan tahun kemudian, tetapi manfaatnya dapat dinikmati oleh anak dan cucu.

Menjaga Air Melalui Pepohonan

Selain menyediakan pangan, keberadaan Jongot juga memiliki fungsi ekologis yang penting. Sebagian besar Jongot berada di dekat sumber air, sungai kecil, atau kawasan yang menjadi bagian dari lanskap perairan masyarakat Musi.

Keberadaan pohon-pohon besar membantu menjaga kelembapan tanah, menyerap air hujan, dan mempertahankan ketersediaan air di sekitarnya.

Meski masyarakat dahulu tidak mengenal istilah konservasi atau perubahan iklim seperti sekarang, praktik yang mereka jalankan sesungguhnya menunjukkan pemahaman yang kuat tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Baca Juga:5 Fakta Penemuan Mahkota Emas di PALI Sumsel yang Bikin Warga Heboh

Di tengah semakin berkurangnya tutupan vegetasi di berbagai wilayah, keberadaan Jongot menjadi pengingat bahwa masyarakat lokal telah lama memiliki cara sendiri untuk merawat lingkungan tempat mereka hidup.

Apotek Hidup yang Tersimpan di Dalam Jongot

Film Jongot juga memperlihatkan bahwa ruang hidup tersebut menyimpan pengetahuan pengobatan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Tony menyebut berbagai tanaman yang selama ini dimanfaatkan masyarakat untuk mengobati penyakit.

Akar serekat digunakan untuk mengatasi diare. Akar seletup digunakan dalam pengobatan tradisional cacar. Mecung hutan dipercaya membantu mengatasi malaria dan demam. Sementara rumput bulu digunakan sebagai ramuan untuk meredakan batuk.

Pengetahuan tersebut diperoleh dari orang tua dan diwariskan secara lisan kepada generasi berikutnya. Tidak ada buku panduan. Tidak ada sekolah khusus.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak