- Revitalisasi Bundaran Air Mancur Palembang senilai Rp10 miliar telah selesai dan diresmikan pada Minggu, 15 Maret 2026.
- Pembaruan meliputi air mancur lebih besar, pencahayaan baru, dan penataan ruang publik di sekitar bundaran ikonik kota.
- Revitalisasi ini bertujuan memperkuat identitas kota, simbol peradaban, sekaligus menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara.
SuaraSumsel.id - Wajah baru Bundaran Air Mancur (BAM) Palembang akhirnya resmi diperkenalkan. Dengan dukungan anggaran Rp10 miliar dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, kawasan yang dikenal sebagai titik nol kilometer ini kini tampil lebih modern, terang, dan mencolok terutama saat malam hari.
Namun di balik perubahan visual tersebut, muncul satu pertanyaan yang menggelitik: apakah revitalisasi ini benar-benar memberi dampak besar bagi masyarakat, atau sekadar mempercantik wajah kota?
Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menegaskan bahwa dukungan anggaran tersebut bukan sekadar proyek estetika. Menurutnya, Bundaran Air Mancur memiliki nilai historis dan emosional yang kuat bagi warga Palembang.
“Sejak dulu, ini adalah penanda kota. Orang luar datang ke Palembang, patokannya selalu di sini, Air Mancur dan Masjid Agung,” ujarnya saat peresmian, Minggu (15/3/2026).
Baca Juga:Menjaga Identitas Kota, Revitalisasi Bundaran Air Mancur Palembang Dipertanyakan Ketepatan Makna
Dengan dana Rp10 miliar tersebut, revitalisasi dilakukan secara menyeluruh. Air mancur utama kini didesain lebih besar dengan semburan air yang lebih tinggi dan dinamis. Sistem pencahayaan juga diperbarui, menghadirkan efek visual yang lebih dramatis saat malam.
Di sisi lain, kawasan sekitar bundaran turut ditata ulang. Taman diperindah, trotoar dirapikan, dan ruang publik diperluas agar lebih nyaman bagi masyarakat yang datang.
Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, menyebut desain baru ini bukan tanpa makna. Bentuk utama yang mengusung bunga cempaka telok dipilih sebagai simbol keharuman akhlak dan kemuliaan budaya masyarakat Palembang.
“Ini bukan sekadar pembangunan fisik, tapi juga simbol peradaban dan identitas kota,” katanya.
Meski demikian, tidak sedikit masyarakat yang mulai mempertanyakan efektivitas penggunaan anggaran tersebut. Di tengah berbagai kebutuhan kota yang masih mendesak, revitalisasi landmark dinilai perlu benar-benar memberikan manfaat nyata, bukan hanya visual.
Baca Juga:Herman Deru Dorong Tanjung Carat dan Bendungan Tiga Dihaji di Hadapan Menko AHY
Di sisi lain, pemerintah melihat proyek ini sebagai investasi jangka panjang. Kawasan yang lebih estetis diharapkan mampu menarik wisatawan, menghidupkan ruang publik, sekaligus memperkuat identitas kota.