- Revitalisasi Bundaran Air Mancur Palembang memicu polemik publik karena interpretasi simbol visual berbeda dari maksud perancang.
- Akademisi mengidentifikasi masalah utama sebagai "kecelakaan semiotika" akibat visualisasi ornamen bunga dan alas yang ambigu.
- Solusi yang diusulkan adalah koreksi bertahap elemen visual seperti morfologi bunga dan penempatan kaligrafi agar maknanya jelas.
SuaraSumsel.id - Revitalisasi Bundaran Air Mancur Palembang atau BAM yang digadang-gadang menjadi wajah baru ikon Kota Palembang justru menuai polemik di tengah masyarakat. Proyek ruang publik ini ramai diperbincangkan karena dinilai menghadirkan beragam tafsir simbol yang berpotensi menimbulkan salah makna.
Polemik tersebut mengemuka dalam dialog bersama DPRD Kota Palembang dan kemudian meluas ke ruang publik. Perdebatan berkembang mulai dari tafsir ornamen bunga yang dianggap lebih menyerupai teratai ketimbang cempako telok hingga bentuk alas bangunan yang memunculkan asosiasi simbolik lain di mata warga.
Akademisi Zuber Angkasa yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Lembaga Kajian Pembangunan Sumatera Selatan menilai revitalisasi BAM sejatinya berangkat dari niat baik dan kerangka filosofis yang kuat.
Menurutnya falsafah adat dipangku syariat dijunjung relevan sebagai fondasi identitas Palembang Darussalam. Konsep dulang sebagai simbol pemersatu keberagaman serta cempako telok sebagai penegasan flora lokal juga dinilai memiliki narasi kebudayaan yang patut dihormati.
Baca Juga:Tak Perlu Mahal, 7 Tempat Ngedate Romantis di Palembang, dari Rooftop hingga Sungai Musi
Pada tataran konsep arah revitalisasi dinilai sudah tepat. Persoalan mulai muncul ketika gagasan tersebut diterjemahkan ke dalam bentuk fisik di lapangan.
Zuber menilai persoalan utama revitalisasi BAM terletak pada apa yang ia sebut sebagai kecelakaan semiotika ketika makna yang dimaksud perancang tidak identik dengan makna yang terbaca oleh publik.
Ia mencontohkan ornamen bunga yang ditempatkan di tengah kolam air mancur. Secara botani cempaka merupakan bunga darat yang tumbuh di pohon sementara teratai identik dengan lingkungan air.
Ketika ornamen bunga diletakkan di kolam persepsi publik bekerja otomatis. Warga cenderung membaca bunga di air sebagai teratai tanpa perlu penjelasan panjang.
Hal serupa juga terjadi pada konsep dulang yang dimaksudkan sebagai alas pemersatu. Ketika ornamen pendukungnya menyerupai kelopak raksasa yang membuka ke atas struktur visual tersebut memunculkan pembacaan lain yang tidak pernah diniatkan.
Baca Juga:7 Fakta Aksi Heroik Bocah Palembang Lawan Begal hingga Pelaku Lari Tunggang Langgang
Dalam diskursus publik istilah padmasana pun muncul sebagai asosiasi atas bentuk tersebut. Zuber menegaskan persoalannya bukan pada istilah melainkan pada ambiguitas simbolik yang dihasilkan oleh bentuk visual.
Perdebatan kian sensitif ketika menyangkut penempatan kaligrafi di puncak struktur BAM. Menurut Zuber kritik yang muncul tidak berangkat dari penolakan terhadap simbol agama.
Sebaliknya kritik tersebut lahir dari kehendak menjaga simbol suci agar hadir secara tepat dan tidak tercampur oleh pembacaan visual lain yang tidak dikehendaki.
Dalam etika ruang publik persoalannya bukan sekadar boleh atau tidak melainkan tepat atau tidak tepat dalam konfigurasi visual fungsi ruang dan keragaman tafsir masyarakat.
Zuber menilai polemik BAM tidak harus berujung pada pembongkaran total terlebih anggaran publik telah dikeluarkan. Ia mendorong opsi koreksi bertahap dengan menyentuh elemen visual yang paling menentukan keterbacaan makna.
Langkah tersebut antara lain memperjelas morfologi ornamen agar sesuai dengan flora yang dimaksud menata ulang bentuk alas agar lebih netral secara simbolik serta menempatkan kaligrafi pada bidang visual yang berdiri mandiri dan jernih konteksnya.
Kasus BAM menjadi pengingat bahwa pembangunan ikon kota tidak cukup hanya mengandalkan konsep besar dan niat baik. Ketelitian dalam eksekusi menjadi kunci agar identitas kota tidak justru kabur di mata publik.
Di ruang publik narasi bisa diperdebatkan. Namun bahasa visual akan terus berbicara setiap hari kepada siapa pun yang melintas