- Inflasi Sumatera Selatan Februari 2026 naik menjadi 0,58% mtm dan 4,36% yoy, dipicu kenaikan harga pangan dan normalisasi tarif listrik.
- Kenaikan harga pangan seperti cabai dan ayam dipengaruhi tingginya permintaan jelang Ramadan dan gangguan cuaca pada sentra produksi.
- TPID Sumsel memperkuat pengendalian inflasi melalui strategi 4K dan berbagai operasi pasar murah serta sidak hingga Februari 2026.
SuaraSumsel.id - Kenaikan harga sejumlah bahan pangan di Palembang mulai terasa menjelang Ramadan dan Idulfitri. Komoditas seperti cabai merah dan daging ayam ras dilaporkan mulai merangkak naik di pasar tradisional, kondisi yang kerap menjadi sinyal meningkatnya konsumsi masyarakat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Fenomena ini juga tercermin dalam data inflasi terbaru. Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan mencatat inflasi Sumsel pada Februari 2026 mencapai 0,58 persen secara bulanan (month to month/mtm), meningkat dibandingkan Januari yang hanya sebesar 0,05 persen.
Secara tahunan, inflasi Sumatera Selatan tercatat 4,36 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 2,91 persen (yoy). Angka ini juga sejalan dengan tren inflasi nasional yang meningkat menjadi 4,76 persen (yoy).
Kepala Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan menjelaskan, kenaikan inflasi tersebut salah satunya dipengaruhi oleh normalisasi diskon tarif listrik yang sebelumnya menimbulkan lower base effect pada 2025.
Baca Juga:ART Asal Sumsel Disidangkan karena Dituduh Cubit Anak Anggota DPRD Bengkulu
Secara bulanan, inflasi di Sumatera Selatan terutama didorong oleh kenaikan sejumlah komoditas, di antaranya harga emas sebesar 0,25 persen, diikuti cabai merah 0,08 persen, daging ayam ras 0,03 persen, tomat 0,03 persen, serta telur ayam ras 0,02 persen.
Kenaikan harga emas dipicu meningkatnya permintaan masyarakat terhadap instrumen safe-haven di tengah dinamika ekonomi global.
Sementara itu, kenaikan harga komoditas pangan seperti daging ayam ras dan telur ayam dipengaruhi oleh meningkatnya konsumsi masyarakat pada periode HBKN Imlek dan Ramadan.
Adapun komoditas hortikultura seperti cabai dan tomat juga mengalami kenaikan harga akibat terbatasnya pasokan karena gangguan cuaca di daerah sentra produksi.
Bank Indonesia memperkirakan tekanan inflasi masih berpotensi berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. Hal ini seiring meningkatnya konsumsi masyarakat menjelang Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah.
Baca Juga:Bank Sumsel Babel Bagikan 5 Tips Menjaga Akun Mobile Banking Tetap Aman
Selain itu, risiko kenaikan harga pangan khususnya komoditas hortikultura juga perlu diantisipasi karena curah hujan diperkirakan masih berada pada level menengah hingga tinggi hingga Maret 2026.
Namun demikian, tekanan inflasi diperkirakan akan tertahan oleh puncak panen raya padi pada Februari hingga Maret 2026 yang berpotensi memperkuat pasokan pangan di pasar.
Untuk menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan terus memperkuat koordinasi melalui strategi pengendalian inflasi berbasis 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Hingga akhir Februari 2026, tercatat 47 kegiatan operasi pasar murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), dan Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) telah dilaksanakan di berbagai wilayah Sumatera Selatan.
Selain itu, pemerintah daerah bersama instansi terkait juga melakukan 16 kali inspeksi mendadak (sidak) pasar untuk memastikan harga tetap sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) dan ketersediaan stok tetap aman.
Menjelang Idulfitri, Bank Indonesia Sumsel bersama TPID Kota Palembang juga melakukan sidak di Pasar Lemabang dan Lotte Grosir Palembang untuk memastikan distribusi bahan pangan berjalan lancar dan harga tetap stabil.