“Dulu mangkalnya malah lebih jauh, di simpang lampu empat DPRD, kan ramai di sana, ada tempat ngumpulnya, saling kenal,” ujar I yang mengungkapkan jika sudah lebih 10 tahun menghabiskan usia di jalanan.
Tapi sejak razia soal manusia silver, aktivitas di kawasan pusat kota Palembang tersebut berangsur menurun. “Ada teman menawarkan kostum kartun bekas, coba saya tawarkan sama ibu, dan kami sewa,” ujarnya.
Ibu pun diakui I, pakai kostum itu jika pagi hari. Pada siang hari bersama adik yang masih berusia 7 tahun, hanya duduk di salah satu ruas pertokoan menjual tisu sekaligus mengemis. “Jika siang, kadang ibu bawa kostum, tapi jual balon dan tisu juga,” ujarnya.
Pagi hari, I bersekolah meski sering tidak masuk sekolah karena kadang ibu menyuruh menjaga adik. Diakui I, kehidupannya lebih baik.
Baca Juga:Akhir Pekan di Sumsel, Cuaca Berawan Dengan Potensi Hujan Disertai Petir
Beberapa anak jalanan di Palembang diungkapnya hanya dipekerjakan oleh keluarga mereka yang lebih tua namun, lalu hasilnya disetor. Jika tidak mau bekerja, biasanya keluarga tersebut tidak segan memukul di jalanan.
“Ibuku, lebih baik. Tidak marah-marah, tapi memang aku harus kerja daripada sekolah,” akunya.
Kehidupan I memang lebih baik dari dua bersaudara yang menjadi manusia badut di kawasan simpang empat RS Charitas Palembang.
Kakak beradik yang berada di kawasan simpang empat RS Charitas Palembang ini pun sudah lama berada di jalanan. Kali ini kostum yang dipakai adalah tokoh kartun robot Jepang. Tokoh kartun yang dikenal bisa menyelesaikan berbagai masalah dari kantong ajaib yang dimiliki.
Sayangnya meski memerankan robot Jepang dengan kantong ajaib, kedua adik kakak ini tidak berkesempatan memperoleh mengubah hidup lebih baik. Mereka mendapatkan kostum buluk tersebut dengan menyewa.
Baca Juga:Cerita Getir Pelajar di Sumsel: Disekap Berhari-Hari, Disetubuhi 6 Pria Sampai Dijual Rp 1 Juta
Sewa kostum badut tersebut Rp 15.000 per hari. Diutarakan keduanya, kedua orang tuanya pun sudah berpisah. Keduanya kini hidup bersama ibunya dengan keberadaan sang ayah yang tidak pernah diketahui.