facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Peneliti Dishut: 13 Jam Seluas 1.500 Hektar Lahan di Sumsel Terbakar, Padahal Dari 4 Hotspot

Tasmalinda Kamis, 07 Juli 2022 | 17:04 WIB

Peneliti Dishut: 13 Jam Seluas 1.500 Hektar Lahan di Sumsel Terbakar, Padahal Dari 4 Hotspot
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. Dalam 13 Jam Seluas 1.500 Hektar Lahan Terbakar di Sumsel [Istimewa]

Dalam 13 jam, mencapai 1.500 hektare terbakar padahal bermula dari empat hotspot.

SuaraSumsel.id - Kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla memberikan dampak yang merugikan, tidak hanya secara ekonomi, kesehatan namun juga lingkungan. Hasil penelitian peneliti Dinas Kehutanan (Dishut) Sumsel diketahui dalam 13 jam telah terjadi 1.500 hektar (ha) kebakaran lahan di Sumsel.

Kepala Bidang Perlindungan Konservasi SDM Ekosistem Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan Safrul Yunardy mengatakan penelitian memperlihatkan masyarakat menjadi pihak yang paling dirugikan (59 persen), lalu baru perusahaan 27 persen dan Pemerintah 14 persen.

“Dari riset terbaru saya ini setidaknya kerugian akibat kebakaran di areal gambut itu dapat dihitung. Dengan begitu dapat menjadi rujukan dalam menentukan saksi hukum,” kata Safrul melansir ANTARA.

Karhutla di areal gambut menyebabkan kerusakan lingkungan, terutama cadangan karbon. Lahan gambut itu 99,94 persen berada di bawah permukaan tanah dan hanya 0,06 persen di atas permukaan tanah. Dalam 13 jam, mencapai 1.500 hektare terbakar padahal bermula dari empat hotspot.

Baca Juga: Dodi Reza Alex Divonis 6 Tahun Penjara, Posisi Ketua DPD Golkar Sumsel Digantikan Bobby Rizaldi

Oleh karena itu, persoalan karhutla ini menjadi tanggung jawab semua pihak, terutama Sumsel memiliki sekitar 1 juta hektare areal gambut.

“Sumsel persoalan di lahan gambutnya itu. Berbeda dengan kebakaran di lahan mineral yang mana arah api itu ke samping, ke atas atau patah. Tapi di lahan gambut memang benar-benar beda karena kebakaran terjadi di bawah permukaan tanah sehingga arah api tidak bisa dibaca,” kata dia.

Hal ini menjadi tantangan sendiri terutama di daerah yang ‘langganan’ mengalami karhutla setiap tahunnya.

“Mengapa ini selalu terjadi berulang, ya karena gambut itu sejatinya tidak boleh kering. Harus basah terus,” ujarnya.

Sumsel masih mengalami kebakaran hutan dan lahan setelah sempat mengalami kejadian hebat pada 2015 yang menghanguskan setidaknya 700 ribu hektare.

Baca Juga: Cuaca Sumsel Kamis 7 Juli 2022: Palembang Berpotensi Hujan Pada Malam Hari

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sumatera Selatan menetapkan status siaga karhutla pada 9 April-November 2022.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait