facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Mimpi Palembang agar Matahari Menyengat Sepanjang Waktu

Tasmalinda Selasa, 31 Agustus 2021 | 19:17 WIB

Mimpi Palembang agar Matahari Menyengat Sepanjang Waktu
Pekerja memasang solar panel pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Jakabaring [ANTARA]

Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS sudah beberapa tahun ini populer di kota Palembang, Sumatera Selatan.

SuaraSumsel.id - Gaung Energi Baru Terbarukan atau EBT sebenarnya sudah beberapa tahun ini masif dikenalkan di kota Palembang, Sumatera Selatan.
 
Misalnya saja, Palembang mengenal energi baru terbarukan saat pelaksanaan ajang olahraga tingkat Asia, Sea Games 2018 lalu. Saat itu, Palembang menjadi percontohan (pilot project) aplikasi energi bersih sebagai bagian perhelatan olahraga bergengsi tersebut.
 
Selain mengenalkan mobil listrik yang dipakai sebagai kebutuhan operasional official, pengunjung dan terutama atlet juga dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS yang disebutkan terbesar di Pulau Sumatera saat itu.
 
PLTS dibangun masih di kawasan Jakabaring Sport City (JSC) di lahan seluas 2 hektare (ha), yang berada di seberang Ulu kota Palembang.
 
Seiring masyarakat menikmati SAE Games ke 18 itu hingga saat ini hanya rekreasi ke kawasan JSC Palembang, keberadaan PLTS pun mencuri perhatian warga.
 
Mungkin warga baru sebatas mengenal jika sengatan matahari ternyata mampu menghasilkan energi listrik yang sama manfaatnya dengan energi listrik yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari saat ini.
 
PLTS dengan kapasitas menghasilkan listrik mendekati 2 MegaWatt/tahun atau tepatnya 1,897 MWh/tahun berhasil menghantarkan pelaksanaan SEA GAMES berjalan menarik, terutama pada pesta pembukaan dan penutupan yang memainkan sistem persinyalan lampu (lighting system) karena digelar pada malam hari.
 
Mimpi menjadikan sinar matahari ini menyengat sepanjang waktu sempat disuarakan pemerintah daerah.
 
PLTS ini disebut sebagai master plan guna mengembangkan energi baru terbarukan yang dikampayekan sebagai energi bersih saat ini. Tidak hanya pemerintah provinsi Sumatera Selatan kala itu, Pemerintah Kota Palembang juga menginginkan hal yang sama.
 
Seiring perjalanan waktu, pemerintah daerah pun berupaya mengenalkan sengatan matahari ini pada sektor publik, seperti bebarapa bangunan perkantoran, sarana ibadah seperti masjid, mushola dan gereja termasuk pada lampu jalan seluruh kota Palembang ini.
 
Untuk sarana lampu jalan, Pemerintah kota Palembang juga telah membuktikan keinginan tersebut.
 
Dengan semangat awal mengurangi beban anggaran lampu jalan yang besar, Pemerintah Kota Palembang ternyata mendapatkan hibah mengaplikasikan lampu jalan yang mengandalkan energi sengatan matahari.
 
Tepat dua tahun setelah Asian Games mengenalkan PLTS berukuran raksasa itu, kini Palembang sudah menerangi jalan-jalan dengan memasang 10.441 lampu jalan bertenaga surya.
 

Panel surya lampu jalan [ANTARA]
Panel surya lampu jalan [ANTARA]

Saat itu, Wali Kota Palembang, Harnojoyo yang secara simbolik memantau pemasangan perdana lampu jalan bertenaga surya di jalan KH Azhari Lorong Pedatuan Laut RT 01 RW 01 Kelurahan 12 Ulu, Selasa (11/8/2020).
 
Lagi-lagi, wilayah yang dipilih ialah seberang Ulu yang lokasinya juga tidak jauh dari PLTS di kawasan JSC Palembang.
 
Kata Wali Kota Harnojoyo kala itu, instansinya membayar hampir Rp 80 Miliar guna kebutuhan listrik lampu jalan. Anggaran yang cukup besar guna menerangi dan menghidupkan kota Palembang pada malam hari.
 
Sehingga dengan hadirnya lampu jalan bertenaga sengatan matahari tersebut ditargetkan bisa lebih menghemat anggaran pemerintah.  Bahkan,Harnojoyo sempat mengutarakan jika seluruh panel surya telah terpasang maka anggaran tersebut bisa dialokasikan bagi kebutuhan masyarakat lainnya.
 
“Jika seluruh lampu jalan di Palembang digantikan dengan yang bertenaga surya, maka nol rupiah untuk anggaran lampu jalan. Tentu ini dilakukan secara bertahap,” ucap Harnojoyo kala itu.
 
Untuk membuat Kota Palembang “menyala” di malam hari, setidaknya membutuhkan 76.000 lampu jalan. Peruntukkan energi listrik, juga dibutuhkan guna menjadikan kota Palembang hidup sepanjang waktu.
 
Hal ini, kata Harnojoyo juga untuk keamanan dan memenuhi rasa nyaman masyarakat. Sebagai kota yang gentol menjual jasa pariwisata, keberadaan lampu jalan tergolong fasilitas publik yang penting.

Destinasi Lorong Basah 16 Ilir Palembang [Ist]
Destinasi Lorong Basah 16 Ilir Palembang [Ist]

Apalagi, gegap gempita pariwisata malam juga makin dikenalkan di Palembang. Misalnya di pusat-pusat kota, Palembang bertahap membuka pusat-pusat wisata kuliner baru, guna menggaet wisatawan agar betah dan kenyang dari pagi hingga malam di Palembang.
 
Salah satu yang dikenalkan saat itu, kuliner jalanan seperti pusat kuliner Lorong Basah 16 ilir Palembang. Selain mengenalkan sensasi makanan khas dan makanan kreasi juga dikenalkan penerangan kawasan yang dirancang khusus.
 
Tidak lain, tujuannya menghidupkan suasana seolah masih terasa siang hari dan dalam situasi yang aman. Tidak hanya penerangan, alokasi energi listrik juga dipakai untuk menghidupkan sejumlah panggung-panggung jalanan yang direkayasa menjadi tempat hiburan tersendiri bagi masyarakat.
 
Di pusat wisata Sudirman Street misalnya, juga dipasang sambungan listrik di setiap lampu jalannya, guna memudahkan pedagang, pengunjung mendapatkan sumber energi listrik.
 
Bisa dikatakan kebutuhan energi listrik di Palembang tergolong tinggi.
 
Bahkan data PT. PLN (Persero), pengguna energi listrik di kota Palembang tergolong tinggi. Pada tahun 2020, jumlah pelanggannya mencapai 54.389 unit yang diurus oleh empat kantor rayonnya. Dari jumlah itu, pengguna katagori daya besar listrik seperti dari 2.200 volt ampere juga tergolong mendominasi.
 
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Universitas Tridinanti Palembang yang dipublikasikan di Jurnal Bisnis dan Ekonomi Islam, pada akhir tahun 2020 kebutuhan energi listrik yang besar ini pun sebenarnya bisa diperoleh dari EBT, PLTS.
 
Muncul kecendrungan masyarakat ingin beralih ke energi sengatan matahari, atau lebih popular dikenal PLTS Atap (PLTS Rooftops).
 
Salah satu peneliti, Melia Frastuti mengungkapkan potensi energi baru terbarukan di Palembang sangat besar. Sebagai kota yang dinamis, terutama geliat ekonomi dan bisnis, penggunaan PLTS Atap ialah solusi energi menghidupkan kota berenergi bersih.
 
Apalagi, berdasarkan kajian kementerian ESDM, keberadaan PTLS juga sangat efektif bagi penyediaan energi di gedung-gedung perkantoran karena mayoritas gedung perkantoran menggunakan listrik pada siang hari atau jam kerja. Perawatan pada pengoperasionalan PLTS cukup mudah dengan dampak signifikan guna mengurangi polusi, terutama efek rumah kaca.
 
“PLTS rooftop memiliki keunggulan tersendiri, apabila dibandingkan dengan PLTS skala besar. Seperti keunggulan mudah dan murah untuk diintegrasikan dengan sistem kelistrikan yang sudah ada, sekaligus memanfaatkan lahan yang ada, misalnya di atap, di dinding bangunan juga bisa,” kata dia.
 
Namun dibalik kemanfaatan yang banyak ini, peneliti ini mengungkapkan minat menggunakan atau beralih ke energi lebih bersih masih terkendala.
 

Foto udara suasana lalu lintas pada pagi hari Idul Adha 1442 H di Bundaran Air Mancur (BAM) Masjid Agung Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (20/7/2021).  ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Foto udara kota Palembang. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Alasan Ekonomi Cendrung Pengaruhi Beralih ke PLTS
 
Meski demikian, kecendrungan beralih ke PLTS di Palembang masih menghadapi kendala. Setidaknya alasan ekonomi ialah kendala pertama yang diutarakan masyarakat saat disurvei keinginan beralih ke energi bersih ini.
 
Dalam penelitian tersebut, menyebutkan hampir 89 persen masyarakat masih belum mampu mewujudkan beralihan menuju energi bersih karena faktor ekonomi. Dengan pemasangan awal yang dirasa masih mahal, kecendrungan masyarakat masih enggan beralih ke energi lebih bersih. Padahal dengan beralih, konsumen bisa lebih menghemat pengeluaran perbulannya secara permanen atas pembelian listrik PLN perbulannya, dan terpenting mewujudkan kemandirian energi.
 
Sementara 11 persen faktor yang mempengaruhi pilihan beralih energi PLTS, dipengaruhi faktor lainnya, seperti pengetahuan mengenai PLTS, dan faktor penentu lainnya.
 
Perlu Kebijakan Pendukung
 
Apa yang terjadi di Palembang, Sumatera Selatan, sebenarnya sama dengan yang terjadi di daerah perkotaan lainnya.
 
Dalam sesi webinar yang diselenggarakan AJI Indonesia bekerjasama dengan WWF pada akhir pekan ini, pengalaman masyarakat sipil enggan beralih juga diungkapkan. Solusinya, mengkampanyekan energi bersih membutuhkan kerjasama dan kolaborasi setidaknya lima pihak, pentahelix.
 
Dikatakan Direktur Program Coaction Indonesia, Verena Puspawardani, adopsi teknologi meski sebenarnya berharga murah, namun butuh dukungan pemerintah daerah terutama mempersiapkan payung hukum yang lebih memudahkan masyarakat.
 
Peraturan ini juga mengatur bagaimana mekanisme masyarakat juga bisa menjual ke perusahaan listrik negara, PT.PLN.
 
“Untuk sarana PLTS sendiri, pengembangnya makin menawarkan kemudahaan. Ada tiga mekanisme, bisa dipilih mulai dari pemasangan mandiri pemanen, pemasangan dalam bentuk sewa, yang penghasilan listrik juga bisa disharing, dan upaya-upaya peminjaman yang diselenggarakan lembaga advokasi,” terang ia, Minggu (30/8/2021).
 
Pemerintah pun bisa mendorong wilayah percontohan atau pilot project bagi PLTS di daerah tersebut, misalnya di Palembang yang terlebih dahulu memiliki titik-titik pemasangan PLTS saat ini.

Baca Juga: Lantik 5 Perwira Tinggi, Ini Penekanan Kapolri pada Kapolda Sumsel Irjen Pol Toni Harmanto

Sehingga mengenalkan dalam skala perkampungan atau wilayah khusus, pada masyarakat lainnya akan lebih mudah dan efektif mengenal PLTS. 
 

Pekerja melakukan perawatan panel surya di Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) milik Hotel Santika Premiere Palembang, Sumatera Selatan [ANTARA]
Pekerja melakukan perawatan panel surya di Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) milik Hotel Santika Premiere Palembang, Sumatera Selatan [ANTARA]

Sementara dari sisi payung hukum, Perwakilan Indonesian Center for Environmental Law, Grita Anindarini mengungkapkan adanya revisi atas Permen ESDM nomor 49 tahun 2018 jo Permen ESDM nomor 13 Tahun 2009, Jo Permen ESDM nomor 16 tahun 2019 yang perlu menjadi perhatian publik.

“Ada beberapa perubahan yang sebelumnya diatur, seperti halnya jangka waktu permohonan PLTS bisa dipercepat, ketentuan ekspor dan impor juga lebih besar sekaligus ketentuan PLTS non atap dirasa berat. Ini yang harus juga diperhatikan,” ujarnya.
 
Melansir dari Suara.com, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana menyatakan Pemerintah tengah berupaya memperbaiki regulasi guna mempercepat pelaksanaan regulasi Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 49 Tahun 2018 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap oleh Konsumen PLN sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 16 Tahun 2019.
 
“Pemerintah melihat pengembangan PLTS Atap merupakan peluang besar yang memberi manfaat bagi semua pihak,” ujar Dadan kepada Suara.com, Kamis (27/8/2021).

Sehingga sampai Juli 2021, kapasitas PLTS Atap telah terpasang sebesar 35,56 MWp yang dipasang oleh 4.028 pelanggan dengan wilayah terbanyak kapasitas terpasang ialah Jawa Barat mencapai, 8,84 MWp.

Sejalan kampaye energi bersih dengan mengurangi penggunaan energi fosil sekaligus menghemat devisa negara, ialah bagian dari mimpi Palembang agar sengatan matahari itu, terasa sepanjang waktu. 

Baca Juga: Sekolah Tatap Muka Digelar, Sumsel Ajukan Tambahan Vaksin COVID-19 bagi Pelajar

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait