"Kami berdua langsung akrab. ia nampak sederhana.Dalam perjalanan waktu saya sering menginap di rumahnya, kawasan Yayasan 5, Sekojo Palembang," ujar Conie dalam tulisannya.
Conie mengungkapkan Lagu "Mimpi Panjang" karya Filuz di tahun 1980-an itu melodinya cukup sederhana, dan menjadi salah satu lagu favoritnya.
"Tetapi lagu tersebut sepertinya berakhir. Ibarat sebuah perjalanan panjang yang telah sampai pada tujuannya. Sebuah tempat yang abadi," sambung ia.
Selama proses berkesenian, kata Conie, kerap sering bertemu di studionya. Studio yang berupa kamar tidur yang dirubah jadi ruang musik. Di ruang itu beberapa lagu sempat diciptakan, salah satu temanya situasi sosial politik masa itu (ORBA).
Baca Juga:Pemerintah Alokasikan Rp 300 Miliar bagi Pelabuhan Tanjung Carat Banyuasin
Hingga sekitar tahun 1992-1993, akhirnya berkenalan dengan seorang pemuda yang peduli kesenian, Damiri Syamsudin.
"Waktu itu, Kak Dam, panggilan akrab Damiri Syamsudin, siap menjadi penyandang dana buat kami membuat album," ujar Conie.
Akhirnya bersama Filuz bersama kawan lainnya, antara lain Dimas Agoes Pelaz, Anwar Putra Bayu, Tarech Rasyid, sebagai penanggung jawab project, juga A'ang Arsyad dan Mas Igun Gunarso, serta T Wijaya dan Acun (Syamsul Fajri) berkenan memberikan syair-syair puisinya untuk dibuat lagu. Acun juga berkenan memberikan tempat di rumahnya selama proses penggarapan album tersebut.
"Kurang lebih dua bulan, kami berhasil menuntaskan sekitar 8 (delapan) lagu untuk album yang kami beri judul "Demokrasi" dengan grup diberi nama Palsta (Palembang Satation). Sayang karena persoalan non-teknis, album tersebut meski sudah kelar, tapi tidak jadi dipublish," ucapnya.
Tahun 1996, Conie mengungkapkan Filuz berangkat ke Lampung menemuinya. Filuz menunjukkan beberapa lagu barunya yang syairnya berbahasa Palembang.
Baca Juga:Sejarah Masyarakat Tionghoa Palembang, Melaut Selat Bangka lalu Palembang
"Hampir dua bulan di rumah kontrakanku di Bandar Lampung, kami akhirnya membuat satu lagu berbahasa Palembang, "Cup Mutung" yang kemudian berganti judul "Yakwa". Lagu ini ternyata menjadi populer dan masterpiece album "Palembang Gaul"nya Filuz. Hingga sekarang ini "Yakwa" identik dengan Filuz. Bahkan orang sering menyebutnya Filuz Yakwa," ungkap Conie.