Tasmalinda
Kamis, 17 September 2026 | 15:24 WIB
Sejumlah pengendara melintas di atas jembatan layang simpang Jakabaring yang tertutup kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (27/6/2026), sementara pada hari ini, udara di Palembang masuk karagori udara berbahaya. [ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/foc]
Baca 10 detik
  • Kualitas udara Palembang pada Kamis (17/9/2026) mencapai kategori berbahaya akibat polutan PM2.5 yang sangat tinggi.
  • Peningkatan konsentrasi polutan tersebut disebabkan oleh kabut asap dari ribuan titik kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan.
  • Warga diimbau untuk membatasi aktivitas fisik di luar ruangan dan menggunakan masker demi menghindari paparan polusi berbahaya.

SuaraSumsel.id - Kualitas udara di Palembang, Sumatera Selatan, berada dalam kondisi yang perlu diwaspadai pada Kamis (17/9/2026). Bukan hanya kabut asap yang terlihat di sejumlah kawasan, konsentrasi partikel halus di udara juga sempat mencapai angka sangat tinggi.

Pemantauan IQAir pada pukul 08.00 WIB menunjukkan AQI US Palembang mencapai 425, yang masuk kategori berbahaya. Polutan utama yang terdeteksi adalah PM2.5 dengan konsentrasi 288 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Namun, angka tersebut bukan konsentrasi PM2.5 tertinggi yang tercatat di Palembang hari ini.

Berdasarkan pemantauan Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang, konsentrasi PM2.5 bahkan sempat mencapai 681,6 µg/m³ pada pukul 04.00 WIB. Di Stasiun Talang Betutu, konsentrasi PM2.5 juga mencapai 493,9 µg/m³. BMKG menyebut kondisi kualitas udara tersebut berada pada kategori berbahaya atau hitam.

Apa Arti Angka PM2.5 yang Sangat Tinggi?

PM2.5 adalah partikel udara berukuran sangat kecil. Karena ukurannya, partikel ini dapat ikut terhirup ketika seseorang bernapas dan masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Sederhananya, semakin tinggi konsentrasi PM2.5, semakin banyak partikel halus yang berada di udara yang kita hirup.

Itulah sebabnya kondisi udara seperti Kamis hari ini perlu mendapat perhatian, terutama bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah.

Ketika kualitas udara berada pada kategori berbahaya, menghabiskan waktu lama di luar ruangan bukan pilihan yang ideal. Aktivitas fisik berat di ruang terbuka juga sebaiknya dikurangi karena tubuh membutuhkan lebih banyak udara ketika seseorang berjalan cepat, berlari atau berolahraga.

Kondisi udara Palembang saat ini berkaitan dengan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan. BMKG menyebut buruknya kualitas udara di Palembang terjadi di tengah asap karhutla yang menyelimuti wilayah Sumsel.

Baca Juga: Ratu Dewa Berang di Rapat Banjir, PPPK Diusir, Nasib Kadis hingga Kabid Disorot

Pada saat yang sama, jumlah titik panas di Sumsel juga meningkat. Data yang dilaporkan pada Kamis menunjukkan terdapat 3.039 hotspot, naik dari 2.545 titik sehari sebelumnya.

Asap dari kebakaran tersebut kemudian dapat terbawa dan menyebar mengikuti kondisi atmosfer serta arah angin. Karena itu, kualitas udara di satu wilayah tidak selalu sama dari waktu ke waktu.

Satu hal penting yang perlu dipahami adalah kualitas udara tidak selalu bisa dinilai hanya dari apa yang terlihat oleh mata.

Langit yang terlihat sedikit lebih cerah bukan berarti konsentrasi PM2.5 otomatis sudah aman. Sebaliknya, perubahan kondisi angin dan atmosfer dapat membuat konsentrasi polutan berubah dalam beberapa jam.

Pada Kamis pagi saja, data pemantauan menunjukkan perubahan konsentrasi PM2.5 yang sangat tinggi di beberapa titik Palembang. Karena itu, masyarakat sebaiknya melihat data kualitas udara terbaru, bukan hanya kondisi langit ketika hendak keluar rumah.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Warga?

Load More