Tasmalinda
Rabu, 16 September 2026 | 18:39 WIB
Dialog lintas agama di UIN Raden Fatah Palembang mempertemukan para tokoh agama untuk membicarakan moderasi beragama
Baca 10 detik
  • Tokoh lintas agama menggelar seminar lingkungan di UIN Raden Fatah Palembang pada 15 September 2026.
  • Kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan menimbulkan dampak buruk kesehatan serta memicu krisis sosial.
  • Para tokoh agama menegaskan pentingnya solidaritas lintas keyakinan untuk mengubah perilaku pengelolaan lingkungan demi keselamatan bersama.

SuaraSumsel.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya persoalan api yang membakar kawasan hutan atau lahan. Ketika asap menyebar, dampaknya dapat masuk ke ruang hidup masyarakat tanpa membedakan latar belakang dan keyakinan.

Asap Karhutla merusak paru-paru anak kita tanpa membeda-bedakan keyakinan. Ketegangan sosial baru seringkali lahir dari perebutan ruang hidup, krisis air, dan polusi. Inilah mengapa solidaritas lintas agama mutlak dibutuhkan,” kata Pastor Stepanus Sigit Pranoto dari Keuskupan Agung Palembang.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Seminar Moderasi Beragama dan Dialog Tokoh Agama-agama yang digelar Program Studi Studi Agama-agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUSHPI) UIN Raden Fatah Palembang, Selasa (15/9/2026).

Mengusung tema “Bumi Damai, Iman Sejuk: Merajut Moderasi, Merawat Ekologi, Merawat Kebersamaan di Sumatera Selatan”, forum tersebut mempertemukan tokoh lintas agama untuk membicarakan hubungan antara moderasi beragama, kehidupan bersama dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Yang menarik, pembahasan para tokoh tidak berhenti pada ajakan menjaga kebersihan lingkungan. Karhutla menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana persoalan ekologis dapat menjadi tanggung jawab bersama, terlepas dari perbedaan keyakinan.

Perspektif Buddha: Semua Kehidupan Saling Bergantung

Biksu Padipa Kusala Palembang, Suhu Geng Shan, menjelaskan persoalan lingkungan dari perspektif Buddha melalui konsep sebab dan akibat serta keterhubungan kehidupan.

Menurutnya, manusia tidak dapat berdiri sendiri karena kehidupan bergantung pada berbagai unsur alam. “Kita membutuhkan air, membutuhkan udara, membutuhkan tanah, membutuhkan tumbuhan, membutuhkan hewan, dan seluruh kehidupan saling bergantung,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kerusakan alam yang dilakukan manusia pada akhirnya dapat menciptakan kondisi yang harus dihadapi kembali oleh manusia. Dalam konteks tersebut, ia menggunakan istilah karma kolektif untuk menggambarkan kondisi yang lahir dari tindakan banyak orang secara bersama-sama.

Baca Juga: Saat Karhutla Mengancam Sumsel, Generasi Muda Lintas Agama Diajak Turun Tangan

Karena itu, menjaga lingkungan menurutnya bukan semata-mata tugas pemerintah ataupun kelompok pegiat lingkungan.

“Menjaga lingkungan bukan hanya urusan pemerintah, bukan hanya urusan organisasi dan aktivis lingkungan, ini adalah tanggung jawab kita bersama,” katanya.

Ia juga mengaitkan kepedulian terhadap alam dengan cinta kasih dan welas asih. Menurutnya, nilai tersebut harus diwujudkan dalam perilaku nyata.

Perspektif Kristen: Bencana Ekologis Tidak Mengenal Batas Keyakinan

Pandangan mengenai dampak bersama dari kerusakan lingkungan juga disampaikan Pastor Sigit. Ia menilai bencana ekologis tidak memilih siapa yang menjadi korban. Karena itu, persoalan lingkungan dapat menjadi ruang untuk membangun solidaritas lintas agama.

“Kerusakan lingkungan adalah penderitaan bersama. Bencana ekologis tidak memilih korbannya berdasarkan agama,” ujarnya.

Load More