- Menko Polkam Djamari Chaniago meminta data karhutla antarlembaga konsisten dalam rapat virtual pada 15 September 2026.
- BNPB mencatat total akumulasi luas lahan terbakar di Sumatera Selatan mencapai 6.552,31 hektare hingga September 2026.
- Satgas gabungan mengerahkan ribuan personel dan helikopter untuk memadamkan sisa 84,25 hektare lahan terbakar.
SuaraSumsel.id - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan masih menyisakan pekerjaan rumah. Data yang dipaparkan dalam rapat koordinasi bersama pemerintah pusat menunjukkan total luas lahan terbakar di Sumsel telah mencapai 6.552,31 hektare, sementara dari titik api yang terdeteksi pada pemutakhiran terbaru masih terdapat 84,25 hektare area terbakar yang belum tertangani.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago dalam rapat tersebut justru meminta pemerintah memastikan data karhutla antarlembaga konsisten dan akurat, termasuk data luasan lahan yang terbakar dan kasus yang sudah ditangani. Data itu, menurutnya, perlu disampaikan secara terbuka kepada masyarakat. “Harus segera kita rangkumkan data secara tepat, termasuk kasus yang sudah ditangani dan segera kita sampaikan kepada masyarakat atas penanggulangan dan penanganan yang kita laksanakan,” tegas Djamari.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pembahasan Perkembangan Penanganan dan Penanggulangan Karhutla secara virtual, Selasa (15/9/2026), yang diikuti jajaran pemerintah pusat dan daerah, termasuk Pemprov Sumsel.
6.552 Hektare dan 404 Hektare, Apa Bedanya?
Ada dua angka penting dalam laporan penanganan karhutla Sumsel yang perlu dibedakan. BNPB mencatat total luas lahan terbakar di Sumsel sekitar 6.552,31 hektare hingga 14 September 2026. Angka tersebut menggambarkan akumulasi luas lahan terbakar yang tercatat di wilayah Sumsel.
Sementara itu, dalam pemutakhiran penanganan titik api pada periode tersebut, ditemukan 20 fire spot dengan estimasi area terbakar sekitar 404,22 hektare.
Dengan kata lain, angka 404,22 hektare tidak boleh dibaca sebagai total seluruh lahan yang terbakar di Sumsel. Angka tersebut merupakan estimasi luasan dari titik api yang menjadi bagian dari pemantauan dan penanganan terbaru.
Perbedaan konteks angka ini penting karena informasi karhutla kerap dibaca hanya berdasarkan satu angka luas lahan.
Selain luasan lahan, Sumsel juga mencatat 116 titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi. Dari pemantauan tersebut terdapat 20 fire spot atau titik api yang menjadi perhatian dalam penanganan lapangan. Estimasi luas area terbakar dari titik api itu mencapai 404,22 hektare.
Baca Juga: Karhutla Tak Pilih Korban, 4 Tokoh Lintas Agama Bicara Soal Menjaga Alam
Dari luasan tersebut, Satgas gabungan telah memadamkan sekitar 319,97 hektare. Rinciannya, pemadaman melalui Satgas Darat mencapai 289,97 hektare, sedangkan operasi Satgas Udara melalui water bombing menangani sekitar 30 hektare.
Masih tersisa sekitar 84,25 hektare area terbakar yang pada saat rakor ditargetkan dapat dituntaskan pemadamannya pada hari yang sama.
Dalam rakor tersebut, pemerintah menjelaskan bahwa penanganan karhutla menghadapi persoalan teknis di lapangan.
Djamari menyebut operasi pemadaman paling efektif membutuhkan kombinasi kekuatan darat dan udara. Namun, operasi udara sangat bergantung pada kondisi awan hujan. Sementara itu, tim darat menghadapi tantangan ketika harus menjangkau sumber air menuju titik api.
Artinya, keberadaan helikopter water bombing tidak otomatis berarti seluruh titik api dapat langsung dipadamkan. Kondisi cuaca dan akses menuju lokasi tetap menjadi faktor penting dalam operasi.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto memaparkan bahwa kondisi cuaca Sumsel menjadi salah satu tantangan penanganan karhutla.
Berita Terkait
-
Karhutla Tak Pilih Korban, 4 Tokoh Lintas Agama Bicara Soal Menjaga Alam
-
Saat Karhutla Mengancam Sumsel, Generasi Muda Lintas Agama Diajak Turun Tangan
-
60 Hari Tak Diguyur Hujan, Karhutla Padang Sugihan Picu Kekhawatiran Habitat Gajah
-
Udara Palembang Terus Memburuk, Sampai Kapan Warga Harus Menghirup Asap?
-
Bukan Siang Hari, Ini Waktu Udara Palembang Paling Berbahaya Saat PM2.5 Tembus 600
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Cara Cek KTP Kita Terdaftar di Pinjol Apa Saja?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Mantan Ketua DPR RI Marzuki Alie Minta Dialog soal Tunggakan PBB IGM Rp2,33 Miliar
-
Sumsel United Kalah 0-1 dari Semen Padang, Gol Menit Akhir Buyarkan Asa Laskar Juaro Raih Poin
-
Kasus Polisi Diduga Bunuh Ibu Kandung di Siak, Riwayat Skizofrenia Terungkap, Kompolnas Turun Tangan
-
22,4 Juta Batang Rokok Ilegal Disita di Sumsel dan Sekitarnya, Mengapa Peredaran Sulit Diberantas?
-
Dua Kali Kebakaran di Konsesi Sawit OKI, Ini Profil PT Ricky Agrindo Sejahtera yang Disidik Polisi