Tasmalinda
Minggu, 13 September 2026 | 14:49 WIB
60 hari tak diguyur hujan, Karhutla Padang Sugihan picu kekhawatiran habitat gajah
Baca 10 detik
  • Gubernur Herman Deru menyatakan Sumatera Selatan menghadapi kemarau ekstrem tanpa hujan lebih dari 60 hari.
  • Tim gabungan memprioritaskan pemadaman karhutla dan pengamanan habitat gajah Sumatera di Padang Sugihan pada Senin, 7 September 2026.
  • Gubernur meminta Badan Pertanahan Nasional memberi sanksi tegas kepada pemegang HGU yang membiarkan lahannya terbengkalai.

SuaraSumsel.id - Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Padang Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, menjadi perhatian di tengah kondisi kemarau yang semakin kering. Selain memadamkan api, tim gabungan juga memprioritaskan pengamanan kawasan habitat gajah Sumatera.

Ancaman karhutla kali ini terjadi ketika sejumlah wilayah di Sumatera Selatan bahkan dilaporkan tidak mengalami hujan selama lebih dari 60 hari. Kondisi tersebut membuat lahan semakin kering dan meningkatkan risiko kebakaran meluas.

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengatakan Sumsel saat ini tengah menghadapi kemarau dengan kondisi yang sangat kering. Bahkan, beberapa daerah telah mengalami periode tanpa hujan selama lebih dari dua bulan.

“Saat ini Sumsel tengah menghadapi kemarau kering, kering sekali kondisi saat ini. Bahkan, ada daerah di Sumsel yang tidak hujan selama 60 hari lebih,” kata Herman Deru saat meninjau Posko Siaga Darurat Penanggulangan Karhutla Alang-Alang Lebar, Palembang, Senin (7/9/2026).

Karhutla Padang Sugihan Jadi Perhatian

Di tengah kondisi kemarau tersebut, kebakaran hutan dan lahan di kawasan Padang Sugihan menjadi perhatian karena kawasan itu memiliki nilai penting bagi lingkungan dan konservasi.

Penanganan kebakaran tidak hanya berfokus pada upaya mengendalikan api, tetapi juga mencegah kebakaran meluas ke kawasan yang berkaitan dengan habitat gajah Sumatera. Pengamanan kawasan menjadi prioritas agar dampak karhutla tidak semakin meluas.

Api memang dilaporkan mulai terkendali, namun pengawasan terus dilakukan untuk memastikan tidak muncul kembali titik api di kawasan tersebut.

Lebih dari 60 Hari Tanpa Hujan

Baca Juga: Benarkah Karhutla Sumsel Menurun? Ini Data Hotspot dan Titik Api Terbarunya

Herman Deru mengatakan kondisi kemarau panjang membuat risiko karhutla harus menjadi perhatian serius. Lahan yang mengering dalam waktu lama menjadi lebih rentan terbakar, terutama jika tidak dikelola dan diawasi dengan baik.

Menurut Deru, persoalan lahan menjadi semakin serius ketika kawasan yang dikuasai pemegang izin atau Hak Guna Usaha tidak dimanfaatkan secara optimal.

Ia meminta pemegang HGU bertanggung jawab terhadap lahan yang berada dalam penguasaannya. “Kalau itu HGU, lahannya tidak dimanfaatkan, kemudian terjadi karhutla berulang, beri sanksi. Segera bersurat ke BPN agar diberi warning,” ujar Deru.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa penanganan karhutla tidak hanya dilakukan melalui pemadaman api, tetapi juga akan diarahkan pada pengawasan dan tanggung jawab pengelolaan lahan. Meski kondisi kebakaran di Padang Sugihan mulai terkendali, petugas tetap melakukan pengawasan.

Hal itu dilakukan untuk mencegah api kembali muncul, terutama di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung.

Pengawasan juga menjadi penting karena karakteristik sejumlah lahan di Sumatera Selatan dapat membuat api sulit benar-benar dipastikan padam.

Load More