- Kepala Stasiun Klimatologi Sumsel Wandayantolis menyatakan kualitas udara Kota Palembang mencapai level berbahaya akibat kabut asap karhutla 2026.
- Konsentrasi PM2.5 di kawasan Musi 2 menembus kisaran 500 hingga 600 mikrogram per meter kubik pada dini hari tanggal 7 dan 8 September 2026.
- BMKG memastikan kabut asap berasal dari kebakaran hutan dan lahan, bukan dari debu erupsi Gunung Anak Krakatau.
SuaraSumsel.id - Kabut asap yang menyelimuti Kota Palembang bukan hanya membuat jarak pandang terganggu. Dalam dua hari terakhir, kualitas udara bahkan mencapai level berbahaya dengan konsentrasi partikulat halus PM2.5 di kawasan Musi 2 menembus kisaran 500 hingga 600 mikrogram per meter kubik.
Namun, ada satu pola yang kini menjadi perhatian warga Palembang. Konsentrasi PM2.5 justru meningkat pada malam hingga dini hari, sebelum perlahan menurun ketika memasuki siang. Meski demikian, penurunan tersebut tidak serta-merta membuat udara kembali aman.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengatakan kondisi kualitas udara Palembang memburuk hingga masuk kategori berbahaya. Lonjakan konsentrasi PM2.5 terjadi pada dini hari selama dua hari berturut-turut. “Kualitas udara kian memburuk hingga statusnya berbahaya,” ujar Wandayantolis terkait hasil pemantauan PM2.5 di Palembang.
Dini Hari Jadi Waktu PM2.5 Melonjak
Berdasarkan pemantauan Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang, lonjakan konsentrasi partikulat halus terjadi pada Senin (7/9/2026) dan Selasa (8/9/2026) dini hari. Konsentrasi PM2.5 tercatat berada di kisaran 500 hingga 600 µg/m³, sehingga masuk kategori berbahaya.
Pada Rabu (9/9/2026), konsentrasi PM2.5 mulai mengalami penurunan. Namun, angkanya masih berada di atas 400 µg/m³ dan tetap masuk kategori berbahaya.
Wandayantolis menjelaskan terdapat pola peningkatan konsentrasi PM2.5 di Palembang yang perlu menjadi perhatian. Konsentrasi partikulat cenderung meningkat pada malam hari dan mencapai level tinggi saat dini hari. Setelah itu, angka perlahan menurun ketika memasuki siang hari.
Penurunan konsentrasi PM2.5 pada siang hari memang membuat kondisi udara berangsur membaik. Namun, BMKG mengingatkan penurunan tersebut tidak berarti kualitas udara Palembang langsung kembali normal.
Pada kondisi tertentu, kualitas udara masih berada dalam kategori tidak sehat. Artinya, warga Palembang perlu memperhatikan perubahan kondisi udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kabut asap masih menyelimuti sejumlah kawasan.
Baca Juga: Kabut Asap Kian Meluas, Kini Siswa Madrasah di Palembang Juga Belajar dari Rumah
Pola perubahan kualitas udara tersebut juga menjelaskan mengapa kondisi Palembang bisa terlihat berbeda antara pagi, siang dan dini hari.
Salah Satu Angka Tertinggi Selama Karhutla 2026
Lonjakan PM2.5 hingga kisaran 600 µg/m³ menjadi salah satu angka tertinggi yang tercatat selama periode kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Sumatera Selatan sepanjang 2026. Sebelumnya, kualitas udara Palembang telah beberapa kali masuk kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.
Pada akhir Agustus, konsentrasi PM2.5 di Musi 2 juga sempat mencapai 285,3 µg/m³ dan masuk kategori berbahaya. Angka tersebut menunjukkan kondisi udara Palembang telah mengalami fluktuasi serius selama periode kabut asap tahun ini.
Di tengah pekatnya kabut yang menyelimuti Palembang, muncul pula pertanyaan mengenai kemungkinan adanya pengaruh abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Namun, BMKG memastikan kabut yang menyelimuti Palembang bukan berasal dari debu erupsi Gunung Anak Krakatau.
Berdasarkan hasil pemantauan dan pengecekan lapangan, tidak ditemukan debu erupsi yang mencapai wilayah Palembang. Kabut yang menyebabkan memburuknya kualitas udara tersebut berasal dari asap kebakaran hutan dan lahan.
Tag
Berita Terkait
-
Kabut Asap Kian Meluas, Kini Siswa Madrasah di Palembang Juga Belajar dari Rumah
-
5G XLSMART Resmi Hadir di Palembang, SMARTFREN Hadirkan Pengalaman Unlimited 5G
-
PTBA Perkuat Respons Cepat dan Kolaborasi dalam Penanganan Karhutla
-
5 Hari Terbakar, Kebun Raya Sriwijaya Belum Padam dan Helikopter Dikerahkan
-
Saat Siswa PJJ akibat Kabut Asap, Mengapa Orang Tua Tetap Ambil MBG di Sekolah?
Terpopuler
- Gelar Bukan Segalanya, Boni Hargens Sepakat dengan Prof Gayus Lumbuun Soal Aturan Sidang S3
- 7 Cara Menghilangkan Kerak Gosong di Bawah Setrika agar Tidak Lengket dan Mengkilap
- Wakapolri Minta Jajaran Siap Hadapi Isu Aksi 'Black September', Apa Itu?
- Anak Buah Prabowo Curigai Alat Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung, Netizen: Alam Saja Kena Fitnah
- 5 Menit Kota Makassar Diguyur Hujan
Pilihan
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
-
Cari 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, 6 Kapal Sisir Laut hingga 271 Nautical Mile
-
Duh! 273 Siswa dan 43 Guru di Pati Diduga Keracunan MBG
Terkini
-
Bukan Siang Hari, Ini Waktu Udara Palembang Paling Berbahaya Saat PM2.5 Tembus 600
-
Kabut Asap Kian Meluas, Kini Siswa Madrasah di Palembang Juga Belajar dari Rumah
-
5 Jurnalis Hilang Kontak Saat Liput Anak Krakatau, Pencarian Diperluas di Selat Sunda
-
PTBA Dorong Budaya Inovasi Lewat BIGMIND Innovation Award 2026, Ubah Ide Jadi Dampak
-
Pertamina EP Temukan Lapisan Produktif Baru di PALI, Sumur BNG-082 Hasilkan Minyak dan Gas