Tasmalinda
Minggu, 13 September 2026 | 14:24 WIB
Udara Palembang terus memburuk, sampai kapan Warga harus menghirup asap
Baca 10 detik
  • BMKG melaporkan konsentrasi PM2.5 di Musi 2 Palembang mencapai kategori sangat tidak sehat pada Minggu, 13 September 2026.
  • Sumatera Selatan tercatat masih menjadi wilayah prioritas penanganan karhutla nasional dengan terdeteksinya 120 hotspot pada 5 September 2026.
  • Warga Palembang harus terus beraktivitas di tengah kabut asap karena kualitas udara berulang kali memburuk dan tidak sehat.

SuaraSumsel.id - Angka kualitas udara di Palembang kembali berubah. Namun, bagi warga yang setiap hari harus beraktivitas di tengah kabut dan bau asap, persoalannya tampaknya tidak pernah benar-benar pergi.

Hari berganti, angka PM2.5 memang bisa turun. Tetapi dalam beberapa pekan terakhir, kualitas udara Palembang berulang kali kembali masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Pertanyaannya, sampai kapan warga Palembang harus terus menyesuaikan aktivitas dengan kondisi udara yang seharusnya tidak mereka hirup?

Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), konsentrasi PM2.5 di Musi 2 Palembang pada Minggu, 13 September 2026, sempat mencapai 152,2 mikrogram per meter kubik dan masuk kategori sangat tidak sehat.

Pada pembaruan pukul 12.00 WIB, konsentrasi PM2.5 turun menjadi 67,7 mikrogram per meter kubik. Meski membaik dibandingkan pagi hari, kondisi tersebut masih masuk kategori tidak sehat.

Penurunan angka dalam hitungan jam memang dapat menjadi kabar baik. Namun, sulit mengatakan persoalan telah selesai ketika kualitas udara Palembang dalam beberapa hari terakhir terus berada di level yang mengkhawatirkan.

Pada 10 September 2026, konsentrasi PM2.5 di Musi 2 Palembang juga mencapai 122,7 mikrogram per meter kubik dan menjadi salah satu yang tertinggi di wilayah Sumatera Bagian Selatan.

Sebelumnya, kualitas udara Palembang juga berulang kali masuk kategori sangat tidak sehat akibat kabut asap yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan. Artinya, persoalan yang dihadapi bukan sekadar satu angka tinggi pada satu pagi.

Yang terjadi adalah kondisi udara yang terus berubah dari tidak sehat menjadi sangat tidak sehat, kemudian turun, tetapi kembali memburuk.

Baca Juga: Kronologi Pasutri Palembang Diduga Kunci Pria di Kamar Mandi, Motor dan 3 HP Raib

Warga Tidak Bisa Terus Menunggu Angka Membaik

Di tengah kondisi seperti ini, masyarakat menjadi pihak yang paling langsung merasakan dampaknya. Anak-anak tetap harus belajar. Pekerja tetap harus berangkat. Pedagang dan pengemudi tetap mencari penghasilan di luar ruangan.

Ketika kualitas udara memburuk, pilihan untuk tinggal di dalam rumah tidak selalu tersedia bagi semua orang. Karena itu, persoalan kualitas udara seharusnya tidak berhenti pada informasi bahwa PM2.5 hari ini naik atau turun.

Yang lebih penting adalah bagaimana kondisi tersebut benar-benar dikendalikan agar warga tidak terus menjalani aktivitas dengan kekhawatiran menghirup udara tercemar.

Sumsel Masih Jadi Perhatian Karhutla

Kondisi ini juga tidak dapat dipisahkan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan. Data Kementerian Kehutanan sebelumnya menunjukkan Sumatera Selatan masih menjadi salah satu wilayah prioritas penanganan karhutla. Pada 5 September 2026, masih terdeteksi 120 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Sumsel.

Load More