- UIN Raden Fatah Palembang akan menggelar seminar nasional mengenai pencegahan karhutla dan moderasi beragama pada 15 September 2026.
- Zaki Faddad Syarif Zain menyatakan pencegahan karhutla memerlukan perubahan kebiasaan masyarakat dan penyediaan alternatif pengelolaan lahan.
- Nugroho menjelaskan kerja sama lintas agama penting dilakukan karena dampak kebakaran hutan dirasakan oleh seluruh kelompok masyarakat.
SuaraSumsel.id - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi ancaman yang dirasakan masyarakat Sumatera Selatan. Dampaknya tidak memilih siapa yang terkena. Anak-anak, orang tua, pelajar hingga pekerja sama-sama berhadapan dengan risiko gangguan kesehatan ketika kualitas udara memburuk.
Karhutla juga tidak mengenal batas agama, suku maupun kelompok sosial. Karena itu, generasi muda dari berbagai latar belakang agama kini diajak mengambil peran bersama untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan.
Ajakan tersebut akan menjadi salah satu pembahasan dalam Seminar Nasional Moderasi Beragama dan Dialog Tokoh Agama-Agama yang digelar Program Studi Studi Agama-Agama UIN Raden Fatah Palembang, Selasa, 15 September 2026, di Gedung Rafah Tower UIN Raden Fatah Palembang.
Akademisi Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Raden Fatah Palembang, Zaki Faddad Syarif Zain, mengatakan penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan larangan dan pemadaman ketika api sudah muncul.
Menurutnya, persoalan kebakaran lahan juga berkaitan dengan kebiasaan masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan lahan. “Pembakaran lahan biasanya dilakukan pada musim kemarau karena dinilai lebih cepat, mudah, dan murah. Abu pembakaran juga dipercaya dapat menyuburkan tanah, meskipun manfaatnya hanya sementara. Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup melalui larangan dan pemadaman, tetapi juga memerlukan perubahan kebiasaan dengan menyediakan alternatif pengelolaan lahan yang aman, terjangkau, dan mudah diterapkan,” kata Zaki.
Api Padam, Risiko Bisa Kembali Muncul
Karhutla selama ini sering menjadi persoalan yang berulang, terutama ketika musim kemarau datang. Api memang dapat dipadamkan. Namun, risiko kebakaran dapat kembali muncul jika penyebab dan kebiasaan yang memicu pembakaran tidak berubah.
Menurut Zaki, penggunaan api dalam penyiapan lahan tidak bisa semata-mata dilihat sebagai persoalan kesalahan masyarakat. Ada kebiasaan yang telah berkembang lama karena pembakaran dianggap sebagai cara paling praktis dan murah.
Karena itu, pendekatan untuk mencegah karhutla membutuhkan perubahan perilaku sekaligus pilihan alternatif yang dapat dijalankan masyarakat.
Baca Juga: Udara Palembang Terus Memburuk, Sampai Kapan Warga Harus Menghirup Asap?
Di sinilah generasi muda dinilai memiliki peran penting.
“Nilai-nilai tersebut dapat menjadi titik temu untuk membangun kerja sama lintas agama. Generasi muda perlu dilibatkan agar ajaran agama tidak berhenti sebagai pesan moral, tetapi diwujudkan dalam perubahan kebiasaan dan tindakan bersama untuk mencegah karhutla,” ujarnya.
Moderasi Tak Berhenti pada Dialog
Seminar bertema “Merajut Moderasi, Merawat Ekologi, dan Kerja Sama Lintas Agama di Sumatera Selatan” tersebut mempertemukan tokoh agama, akademisi dan generasi muda.
Kegiatan ini menghadirkan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sumatera Selatan K.H. Hendra Zainuddin, Bhiksu Prajña Kusala Palembang Suhu Geng Shan, Pastor Stepanus Sigit Pranoto dari Keuskupan Agung Palembang, Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Adat Bali Sumatera Selatan I.G.B. Surya Negara, serta Zaki Faddad Syarif Zain.
Ketua Program Studi Studi Agama-Agama UIN Raden Fatah Palembang, Nugroho, mengatakan moderasi beragama tidak seharusnya hanya berhenti pada kegiatan dialog atau sikap saling menghormati.
Berita Terkait
-
Udara Palembang Terus Memburuk, Sampai Kapan Warga Harus Menghirup Asap?
-
Kabut Asap Makin Pekat, ISPA di Palembang Tembus 113 Ribu Kasus
-
Bukan Siang Hari, Ini Waktu Udara Palembang Paling Berbahaya Saat PM2.5 Tembus 600
-
Kabut Asap Kian Meluas, Kini Siswa Madrasah di Palembang Juga Belajar dari Rumah
-
PTBA Perkuat Respons Cepat dan Kolaborasi dalam Penanganan Karhutla
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Sumsel United Tak Terkalahkan 4 Laga, Tegar Hening Absen Jelang Derby Sumatera
-
Laba PTBA Tembus Rp4,41 Triliun, Pendapatan Naik 12 Persen hingga Kuartal III 2026
-
Nasib Bayi yang Ditemukan di Toilet Tol Terpeka: Sudah Boleh Pulang, 5 Keluarga Berminat Mengadopsi
-
Bank Sumsel Babel Luncurkan Sultan Muda Corner, Perkuat Pembiayaan UMKM dan Wirausaha Muda
-
Hari Listrik Nasional ke-81, Pertamina Kilang Plaju Dukung Kemandirian Energi lewat PLTMh