Tasmalinda
Senin, 14 September 2026 | 21:02 WIB
Foto udara sejumlah pelajar berangkat sekolah menggunakan perahu tradisional melewati kawasan yang diselimuti kabut asap di Sungai Ogan, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (13/8/2026). Saat Karhutla mengancam Sumsel, generasi muda lintas agama diajak turun tangan [ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/YU]
Baca 10 detik
  • UIN Raden Fatah Palembang akan menggelar seminar nasional mengenai pencegahan karhutla dan moderasi beragama pada 15 September 2026.
  • Zaki Faddad Syarif Zain menyatakan pencegahan karhutla memerlukan perubahan kebiasaan masyarakat dan penyediaan alternatif pengelolaan lahan.
  • Nugroho menjelaskan kerja sama lintas agama penting dilakukan karena dampak kebakaran hutan dirasakan oleh seluruh kelompok masyarakat.

Menurutnya, moderasi juga dapat diwujudkan melalui kerja sama dalam menghadapi persoalan yang dirasakan semua kelompok masyarakat.

“Perbedaan agama tidak menghalangi masyarakat untuk bekerja sama. Karhutla berdampak pada kesehatan, pendidikan, penghidupan, dan ruang hidup semua kelompok. Karena dampaknya dirasakan bersama, upaya untuk menguranginya juga perlu dilakukan bersama,” kata Nugroho.

Empat Agama, Satu Persoalan Lingkungan

Gagasan kerja sama lintas agama dalam menghadapi karhutla berangkat dari nilai-nilai yang memiliki titik temu. Dalam Islam, manusia dipandang sebagai pemegang amanah untuk menjaga bumi. Kekristenan mengenal gagasan bumi sebagai rumah bersama. Buddhisme mengajarkan hubungan kehidupan yang saling bergantung, sementara Hindu melalui konsep Tri Hita Karana menekankan keharmonisan antara manusia, Tuhan dan alam.

Perbedaan ajaran tersebut tidak menjadi penghalang untuk membangun tujuan bersama dalam menjaga lingkungan.

Justru, keberagaman masyarakat Sumatera Selatan dapat menjadi kekuatan untuk memperluas gerakan pencegahan karhutla hingga ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Generasi muda menjadi kelompok yang diharapkan mengambil peran lebih besar dalam gerakan tersebut.

Seminar Nasional Moderasi Beragama dan Dialog Tokoh Agama-Agama yang digelar Program Studi Studi Agama-Agama UIN Raden Fatah Palembang,

Selain relatif terbuka terhadap pengetahuan dan praktik baru, generasi muda dinilai mampu membawa perubahan ke lingkungan terdekat, mulai dari keluarga hingga masyarakat.

Mereka juga menjadi kelompok yang akan menghadapi dampak jangka panjang jika kerusakan lingkungan terus terjadi. Seminar tersebut diharapkan tidak berhenti pada diskusi.

Setidaknya ada tiga langkah awal yang ingin dibangun. Pertama, membentuk komitmen bersama untuk terlibat dalam pengurangan risiko karhutla.

Baca Juga: Udara Palembang Terus Memburuk, Sampai Kapan Warga Harus Menghirup Asap?

Kedua, memetakan pengetahuan masyarakat, kebiasaan pengelolaan lahan, penyebab kebakaran, wilayah rawan, sumber air dan kelompok masyarakat yang terdampak

Ketiga, menyusun rencana aksi berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah.

Melalui langkah tersebut, UIN Raden Fatah Palembang ingin mendorong agar persoalan karhutla tidak hanya dibicarakan ketika asap sudah memenuhi udara.

Pencegahan, perubahan kebiasaan dan kerja sama masyarakat dinilai harus dimulai sebelum api kembali muncul. Sebab ketika kebakaran sudah terjadi, dampaknya akan dirasakan semua orang.

Karhutla tidak mengenal agama. Karena itu, upaya mencegahnya juga tidak seharusnya dibatasi oleh perbedaan.

Load More