- Ditpolairud Polda Sumsel mengamankan empat pria pada Kamis, 27 Agustus 2026, di Banyuasin.
- Petugas menemukan tujuh hektare kawasan hutan lindung dibuka dan ditanami kelapa sawit menggunakan alat berat.
- Polisi menetapkan tersangka berinisial E dan kini masih memburu pihak pemodal yang mendanai pembukaan lahan.
SuaraSumsel.id - Benarkah perkebunan sawit menjadi salah satu penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang? Pertanyaan ini kembali mengemuka setelah polisi mengungkap dugaan perambahan kawasan hutan lindung seluas sekitar 7 hektare di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan yang rencananya dikembangkan menjadi area perkebunan kelapa dan kelapa sawit.
Empat pria diamankan tim Sie Intelair Subdit Gakkum Ditpolairud Polda Sumatera Selatan saat melakukan aktivitas pembukaan dan pembersihan lahan di Desa Bunga Karang, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, Kamis (27/8/2026).
Kasus ini memang belum berkaitan langsung dengan kebakaran lahan. Namun, pengungkapan tersebut kembali membuka persoalan yang lebih besar di tengah ancaman karhutla yakni pembukaan kawasan berhutan, perubahan tutupan lahan, hingga pembangunan perkebunan terus menjadi persoalan yang tidak bisa dipisahkan dari kerentanan lingkungan.
Kasubdit Gakkum Ditpolairud Polda Sumsel AKBP Chusnul Qomar melalui Kanit 1 Sie Intelair AKP Deni Suherdi mengatakan, pengungkapan kasus tersebut bermula dari laporan masyarakat mengenai aktivitas pembukaan lahan di kawasan hutan lindung.
Saat dilakukan penindakan, petugas menemukan aktivitas penggarapan kawasan hutan lindung Air Telang menggunakan dua unit alat berat jenis excavator.
“Ketika dilakukan penindakan, petugas menemukan aktivitas penggarapan kawasan hutan lindung Air Telang menggunakan dua alat berat jenis excavator. Lokasinya tidak jauh dari bantaran sungai,” ujar Deni, Minggu (30/8/2026).
Dua alat berat tersebut ditemukan tengah digunakan untuk membuka kawasan yang kemudian dipersiapkan sebagai area perkebunan sawit. Tidak hanya membersihkan lahan, petugas juga menemukan adanya pembuatan kanal air di kawasan tersebut.
Kanal itu direncanakan untuk mendukung aktivitas perkebunan.
Dalam pengungkapan itu, polisi menemukan sekitar 7 hektare kawasan yang telah dibuka. Menurut Deni, sebagian lahan tersebut bahkan sudah ditanami kelapa dan kelapa sawit. “Sudah 7 hektare lahan yang ditanami kelapa sawit. Pohonnya masih kecil-kecil,” jelasnya.
Baca Juga: Kronologi Duel Maut di Sungai Lilin, Pemuda Tewas oleh Egrek Miliknya Sendiri
Empat orang yang berada di lokasi memiliki peran berbeda. E diduga bertindak sebagai mandor, R sebagai pemancang, sementara AS dan AP mengoperasikan alat berat.
Dari hasil pemeriksaan awal, mereka mengaku bekerja dengan sistem upah borongan. Namun polisi masih mendalami pihak lain yang diduga berada di balik aktivitas tersebut.
Penyidik menetapkan E sebagai tersangka, sementara seorang pihak yang diduga menjadi pemodal masih diburu. “Empat orang ini mengaku bekerja dengan sistem upah borongan. Kemungkinan ada (tersangka lain), karena pemodal masih kami cari,” tandas Deni.
Apa Hubungannya dengan Karhutla?
Kasus di Banyuasin ini tidak dapat langsung disimpulkan sebagai penyebab karhutla. Tidak ada fakta dalam penyidikan yang menyebut pembukaan kawasan hutan lindung tersebut dilakukan dengan cara membakar lahan.
Namun, kasus tersebut menunjukkan persoalan yang kerap muncul di tengah pembahasan karhutla, yakni perubahan kawasan berhutan menjadi area perkebunan.
Tag
Berita Terkait
-
Kronologi Duel Maut di Sungai Lilin, Pemuda Tewas oleh Egrek Miliknya Sendiri
-
Benarkah Karhutla Sumsel Menurun? Ini Data Hotspot dan Titik Api Terbarunya
-
Di Bawah Bayang-Bayang Pos Jaga 'SNIPER', Petani Sidomulyo Mempertahankan Tanah Garapan
-
Tekan Risiko Kebakaran Lahan di Puncak Kemarau, Kilang Plaju Gandeng BPBD Gelar Pelatihan Pemadaman
-
Titik Api Masih Muncul di Tol Palindra, Seberapa Cepat Karhutla Bisa Dikendalikan?
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Taksi Listrik Hadir di Palembang, Solusi Transportasi atau Sekadar Tren Baru?
-
Derby Sumatera Dimulai! Sumsel United Bidik Balas Kekalahan dari PSMS di Laga Perdana
-
60 Hari Tak Diguyur Hujan, Karhutla Padang Sugihan Picu Kekhawatiran Habitat Gajah
-
Udara Palembang Terus Memburuk, Sampai Kapan Warga Harus Menghirup Asap?