- Harga emas perhiasan di Palembang anjlok Rp800 ribu per suku setelah sempat mencapai hampir Rp18 juta per suku.
- Pengamat ekonomi menyatakan penurunan harga dipicu aksi ambil untung setelah lonjakan permintaan pasar yang tinggi.
- Volatilitas harga emas saat ini dipengaruhi ketidakpastian ekonomi global dan membuat pembeli menahan transaksi.
SuaraSumsel.id - Harga emas perhiasan yang sempat melambung hingga nyaris Rp18 juta per suku di Palembang kini justru anjlok Rp800 ribu per suku. Perubahan harga yang terjadi dalam waktu singkat ini memicu tanda tanya di kalangan masyarakat: apakah lonjakan sebelumnya benar-benar mencerminkan kekuatan pasar, atau sekadar euforia sementara?
Berdasarkan pantauan di sejumlah toko emas, harga emas perhiasan 22 karat turun signifikan dibanding beberapa hari sebelumnya. Padahal, dalam waktu relatif singkat, harga sempat melonjak tajam dan memicu minat beli masyarakat, baik untuk perhiasan maupun simpanan.
Fenomena harga emas yang naik cepat lalu terkoreksi tajam membuat sebagian pembeli mulai bersikap lebih hati-hati. Tak sedikit warga yang mengaku menunda transaksi karena khawatir harga masih berpotensi turun lebih dalam.
“Baru mau beli karena takut makin mahal, eh sekarang malah turun,” ujar salah seorang pembeli di kawasan pusat emas Palembang.
Pengamat Ekonomi Universitas Sriwijaya, Soekanto Sairuki, menilai fluktuasi harga emas perhiasan sangat dipengaruhi oleh permintaan pasar. Menurutnya, penurunan harga setelah lonjakan tajam merupakan pola yang kerap terjadi akibat aksi ambil untung (profit taking).
“Harga emas naik ketika permintaan tinggi dan sebaliknya akan turun saat permintaan melemah. Penurunan biasanya terjadi setelah lonjakan signifikan karena ada pihak yang merealisasikan keuntungan,” ujarnya.
Meski demikian, Soekanto menegaskan bahwa pergerakan harga emas tidak berdiri sendiri.
“Pergerakan harga emas tetap berkaitan dengan kondisi ekonomi global yang berpotensi berdampak pada inflasi daerah,” tambahnya.
Pandangan senada disampaikan pengamat ekonomi Sumatra Selatan sekaligus dosen Universitas Muhammadiyah Palembang, Sri Rahayu. Ia menilai ketidakstabilan ekonomi global menjadi pemicu utama volatilitas harga emas saat ini.
“Kondisi ekonomi dunia penuh ketidakpastian, sehingga pergerakan harga emas menjadi sulit diprediksi. Naik dan turunnya bisa terjadi dalam waktu singkat,” katanya.
Baca Juga: Bank Sumsel Babel Perkuat Digitalisasi Keuangan Daerah melalui Implementasi SIPD RI
Menurut Sri Rahayu, kondisi tersebut membuat emas tidak selalu bergerak stabil seperti anggapan sebagian masyarakat.
Selama ini emas kerap dipandang sebagai aset lindung nilai (safe haven). Namun fluktuasi harga yang terlalu cepat justru memunculkan risiko bagi pembeli jangka pendek, terutama mereka yang membeli saat harga berada di puncak.
Masyarakat perlu membedakan antara investasi jangka panjang dan pembelian spekulatif. Tanpa perhitungan matang, keputusan membeli emas saat harga melonjak justru berpotensi merugikan.
Sejumlah pedagang emas di Palembang mengakui bahwa kondisi harga saat ini membuat transaksi cenderung melambat. Sebagian konsumen memilih menunggu hingga harga kembali stabil sebelum membeli.
“Kalau naik-turun terlalu cepat, pembeli biasanya menahan dulu,” ujar seorang pedagang emas.
Anjloknya harga emas setelah lonjakan tajam menjadi pengingat bahwa harga emas tidak selalu bergerak satu arah. Lonjakan tinggi dalam waktu singkat bisa saja diikuti koreksi tajam, terutama saat pasar mulai kehilangan momentum.
Tag
Berita Terkait
-
Air PDAM di Wilayah Ini di Palembang Akan Terganggu, Catat Jadwalnya
-
Bikin Heboh, Kafe di Palembang Gantung Ratusan Bra sebagai Dekorasi, Netizen Murka
-
7 Fakta Kecelakaan Libatkan Mobil Dinas Polri di Palembang: Pengendara Motor Tewas
-
Gas Elpiji 12 Kilogram Meledak di Palembang: Kelalaian Biasa atau Ada Jejak Oplosan Subsidi?
-
Detik-detik Ledakan Gas Elpiji 12 Kg di Palembang, Dua Orang Tewas dan Anak-anak Luka Parah
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Sebulan Beroperasi, KA Rajabasa Ekonomi Premium Layani 66.521 Penumpang, Hubungkan Sumsel-Lampung
-
Kasus Korupsi Lampu Jalan Palembang Merembet, Wali Kota dan Wawako Bisa Diperiksa
-
Ketimpangan Sumsel Makin Rendah, Tapi Jurang Pengeluaran Kota dan Desa Masih Terasa
-
Kemiskinan Sumsel Turun, Tapi 870 Ribu Warga Masih Hidup di Bawah Garis Miskin
-
BPS: Pengangguran Sumsel Naik Jadi 3,60 Persen, Pertanian Tetap Serap Terbanyak