Tasmalinda
Senin, 04 Mei 2026 | 18:38 WIB
kolase Sriwijaya FC dan Sumselunited
Baca 10 detik
  • Sriwijaya FC terdegradasi setelah menutup musim 2025/2026 sebagai juru kunci klasemen tanpa satu pun kemenangan dalam 27 pertandingan.
  • Tim debutan Sumsel United berhasil menempati posisi keempat klasemen musim 2025/2026 dengan perolehan 42 poin dari 27 laga.
  • Perbedaan performa kedua klub tersebut menandai pergeseran peta kekuatan sepak bola di wilayah Sumatera Selatan pada musim ini.

SuaraSumsel.id - Musim ini seperti menampar ingatan publik sepak bola Sumatera Selatan. Nama besar yang dulu dielu-elukan, Sriwijaya FC, justru tenggelam di dasar klasemen. Di saat yang sama, sebuah klub baru bernama Sumsel United datang tanpa banyak gembar-gembor, lalu perlahan mengambil panggung.

Kontras itu terasa tajam, bahkan nyaris sulit dipercaya.

Di atas kertas, Sriwijaya FC adalah simbol kejayaan. Klub ini pernah berdiri di puncak sepak bola nasional, menjadi kekuatan yang disegani dan identik dengan gelar. Namun, sepanjang musim 2025/2026, yang tersisa hanyalah bayang-bayang masa lalu.

Dari 27 pertandingan yang dijalani, Sriwijaya FC tak sekali pun meraih kemenangan. Hanya dua kali imbang, selebihnya berakhir dengan kekalahan. Total dua poin yang mereka kumpulkan menjadi angka yang mencolok bukan karena prestasi, melainkan karena keterpurukan yang begitu dalam. Lebih mencengangkan lagi, gawang mereka kebobolan hingga 93 kali, sementara lini depan hanya mampu mencetak 15 gol.

Angka-angka itu berbicara tanpa perlu banyak penjelasan. Sriwijaya FC bukan sekadar kalah, tetapi benar-benar kehilangan daya saing.

Di tribun, kekecewaan suporter terasa nyata. Bukan hanya karena hasil pertandingan, tetapi karena tim yang mereka banggakan seperti kehilangan arah. Klub yang dulu menjadi kebanggaan Sumsel kini justru menutup musim sebagai juru kunci dan harus menerima kenyataan pahit turun kasta.

Namun di sisi lain, cerita berbeda justru datang dari Sumsel United.

Klub yang baru berdiri pada 2025 itu tidak dibebani ekspektasi besar di awal musim. Mereka datang sebagai pendatang baru, membawa identitas yang belum sepenuhnya dikenal publik. Tapi justru dari situ, mereka bermain lepas.

Pelan tapi pasti, Sumsel United mengumpulkan poin demi poin. Hingga akhirnya mereka menutup musim di posisi keempat klasemen, dengan 42 poin dari 27 laga. Sebuah pencapaian yang, untuk ukuran klub debutan, terasa lebih dari sekadar kejutan.

Baca Juga: Cuma Rp25 Ribu, Kartu BSB Cash Sumsel United Ini Bisa Dipakai di LRT, Bandara sampai Tol

Permainan mereka tidak selalu spektakuler, tetapi cukup rapi dan konsisten. Empat puluh gol yang dicetak dan hanya 33 kali kebobolan menunjukkan keseimbangan yang jarang dimiliki tim baru. Mereka tahu kapan menyerang, dan tidak mudah goyah saat ditekan.

Di tengah kondisi Sriwijaya FC yang terus terpuruk, kehadiran Sumsel United seperti membuka bab baru. Publik yang sebelumnya hanya mengenal satu ikon sepak bola di daerah ini, kini mulai melihat alternatif.

Perubahan itu tidak terjadi dalam satu pertandingan, tetapi terasa sepanjang musim. Hingga pada satu titik, garis pemisah antara “klub lama” dan “kekuatan baru” menjadi semakin jelas.

Musim ini seolah menegaskan satu hal: sejarah besar tidak menjamin masa depan.

Sriwijaya FC masih menyimpan nama dan kenangan, tetapi kompetisi berjalan dengan logika yang berbeda. Tanpa fondasi yang kuat, tanpa performa di lapangan, reputasi tidak lagi cukup untuk bertahan.

Sementara itu, Sumsel United justru menunjukkan bagaimana klub baru bisa tumbuh cepat ketika memiliki arah yang jelas.

Load More