SuaraSumsel.id - Kota Prabumulih di Sumatera Selatan (Sumsel) telah lama dikenal sebagai kota Nanas. Kota yang memproduksi nanas dengan rasa dan aroma khusus. Kekinian, nanas makin diolah menjadi produk turunan dan tol Prabumulih akan membawanya merajai pasar domestik dan nasional.
Di Prabumulih terdapat 495 hektar (ha) kebun nanas yang berada di 6 kecamatan. Meski masih berupa tanaman hortikultura yang diselingi dengan tanaman karet, namun petani makin fokus bertanam nanas sebagai komoditas mandiri.
Nanas Prabumulih kekinian pun telah berubah menjadi komoditas turunan, selain selai. Di Prabumulih, nanas dikenalkan bagi dunia fashion dengan pembuatan benang serat nanas. Produk nanas lainnya di bidang fashion ialah dipergunakan sebagai pewarna alami kain jumputan.
“Nanas Prabumulih kekinian makin dikenal, kami (warga Prabumulih) pun menunggu Tol Prabumulih sebentar lagi beroperasi,” ujar Petani nanas, Siska Antoni di Prabumulih kepada Suara.com belum lama ini.
Siska Antoni yang juga menjadi pengelola agrowisata nanas memastikan tol memberikan dampak besar bagi ekonominya. Tol Prabumulih yang menyambung kawasan segitiga emas ekonomi Sumsel semakin terbuka.
Tol Prabumulih yang menjadi bagian dari tol akses ke Bengkulu akan membuka peluang pasar baru bagi produk unggulan termasuk wisata. “Di agrowisata ini, pengunjung tidak hanya dikenalkan dengan budidaya nanas namun edukasi nanas termasuk sertifikasi uji mutunya. Mengenal produk turunan nanas dengan tol Prabumulih akan membuka aksesnya,” ujarnya.
Tol Prabumulih yang berada di bagian perbatasan dengan Muara Enim, kata Siska pun akan mampu membawa nanas sampai pasar-pasar regional dan nasional. Selama ini, diakui petani yang sudah menjadi generasi kedua bertanam nanas membawa nanas membutuhkan kepastian waktu.
Sebagai komoditas buah (hortikultura), membawa nanas ke luar Prabumulih membutuhkan kepastian lama perjalanan. Agro wisata yang juga memproduksi nanas sampai ke Jakarta akhirnya beralih ke layanan jalan tol.
“Ke Jakarta misalnya, kami sekarang pilih tol, karena pabrik-pabrik selai di Jawa, maunya nanas segar. Jika masih lewat jalan lintas, resiko bawa nanas lebih tinggi. Pun demikian jika tol ke Bengkulu sudah bisa dilintasi, tentu akan lebih pilih tol,” sambung ia.
Baca Juga: 370 Warga Sumsel Batal Naik Haji, Penyebabnya Karena Ini
Untuk ke Bengkulu, Siska mengaku akan menjadi pasar baru bagi olahan nanas Prabumulih. Keengganan membawa nanas ke Bengkulu lebih disebabkan karena bukan menjadi pasar potensial. Selain karena jarak, waktu tempuh sekaligus topografi lintasan kendaraan yang menghitung resiko keselamatan dan keamanan.
“Selama ini memang pasar nanas Prabumulih lebih dibawa ke Selatan, ke Barat (Bengkulu) emang riskan merugi, tapi ke Jakarta saja sudah pilih naik tol. Nanti ke Bengkulu, tol akan sangat bermanfaat,” sambungnya.
Nanas Prabumulih membutuhkan pasar-pasar baru. Setidaknya dengan luasan agrowisata menghasilkan nanas 20.000-25.000 buah setiap hektar panennya. Jumlah nanas ini sebagian besar diserap pasar domestik seperti dijual ke Palembang, Ogan Ilir, Muara Enim, sampai ke Pagar Alam dan sekitarnya.
“Dengan olahan nanas, tentu produksi itu akan berubah bukan lagi buah, tapi tetap butuh pasar baru. Bengkulu menjadi daya tarik untuk dijelajahi. Selama ini, kami pernah kirim ke Bengkulu, tapi tidak banyak. Waktu tempuh satu malam, satu hari, namun jika pakai tol cukup satu hari, tidak harus bermalam,” aku Siska.
Di agrowisata ini, nanas diolah menjadi keripik, selai, serat, sirup hingga bagian buah lainnya dibuat pewarna alami kain. “Pemda juga menggiatkan nanas untuk diolah sekaligus diekspor. Apalagi, di saat petani mulai memonokulturkan tanaman nanas, bukan lagi menjadi selingan tanaman karet, produksi akan berlimpah dan perlu pasar-pasar baru,” terang Siska.
Setali tiga uang, Kepala Dinas Pertanian Prabumulih, Alfian mengungkapkan harapan keberadaan tol yang menjadi impian petani nanas saat ini.
Tag
Berita Terkait
-
Korupsi BUMD Hotel Swarna Dwipa, Mantan Direktur Augie Bunyamin Divonis 5,5 Tahun
-
Hidupkan Klaster UMKM Jumputan Palembang Dengan Digitalisasi
-
MA Tolak Kasasi Anak Alex Noerdin, Dodi Reza Alex Divonis Lebih Berat
-
Kisah Kelam Anak Panti Asuhan Fisabilillah Al Amin Alami Kekerasan, Gigi Patah Sampai Rambut Rontok Karena Dijambak
-
Pemira Versi Warek Digelar, 10 Organisasi Mahasiswa Unsri Layangkan Surat Penolakan
Terpopuler
- 5 Mobil Toyota Bekas yang Mesinnya Bandel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Pajak Rp500 Ribuan, Tinggal Segini Harga Wuling Binguo Bekas
- 9 Sepatu Adidas yang Diskon di Foot Locker, Harga Turun Hingga 60 Persen
- 10 Promo Sepatu Nike, Adidas, New Balance, Puma, dan Asics di Foot Locker: Diskon hingga 65 Persen
- Sheila Marcia Akui Pakai Narkoba Karena Cinta, Nama Roger Danuarta Terseret
Pilihan
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
-
Kutukan Pelatih Italia di Chelsea: Enzo Maresca Jadi Korban Ketujuh
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
Terkini
-
Sambut 2026, BRI Berharap Bisa Take-Off dan Bertumbuh dalam Jangka Panjang
-
BRI Dukung Pembangunan Rumah Hunian Danantara untuk Ringankan Penderitaan Masyarakat
-
6 Fakta Dugaan Pelecehan Mahasiswi oleh Dosen UMP yang Kini Dilaporkan ke Polisi
-
Cek Fakta: Viral Klaim BMKG Deteksi Ancaman Squall Line Malam Tahun Baru, Benarkah?
-
Sepanjang 2025, Transformasi BRI Berbuah Kinerja Solid dan Kontribusi Nyata untuk Negeri