- Dosen dan mahasiswa Teknik Elektro UMP mendatangi desa-desa di Sumatera Selatan untuk memeriksa pembangkit energi.
- Mereka melakukan pemeriksaan turbin serta menguji pengelolaan sumber daya air dan matahari di lokasi tersebut.
- Kegiatan ini bertujuan agar pemanfaatan energi bersih dapat dikelola dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
SuaraSumsel.id - Suara mesin motor memecah kesunyian jalan menuju desa-desa di Sumatera Selatan. Dosen dan mahasiswa Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) menyusuri jalan, melewati kebun, perbukitan, dan bentang alam tempat air mengalir hingga matahari jatuh setiap hari.
Di balik perjalanan itu ada pembangkit yang perlu diperiksa, turbin yang berhenti berputar, serta warga yang mencoba mengubah sumber daya di sekitar mereka menjadi energi. Air dan matahari menjadi titik awal, sementara desa menjadi tempat untuk menguji sejauh mana energi bersih dapat dikelola dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Perjalanan itu dilakukan Semende New and Renewable Energy Community, komunitas yang diinisiasi dosen Teknik Elektro UMP, Zulkifli Saleh. Dibentuk sejak 2019, komunitas ini menjadi ruang bagi dosen, mahasiswa dan pihak lain yang peduli terhadap pengembangan energi baru dan terbarukan di Sumatera Selatan.
“Daerahnya berasal dari laporan, kita telusuri dan kita carikan solusi, agar masyarakat tetap bisa menikmati energi bersih sebagai sumber penghidupan desa,” kata Zulkifli.
Baca Juga:Di Kaki Bukit Besak, Menjaga Hutan di Tengah Lanskap yang Berubah
Touring dilakukan sekitar lima hingga tujuh bulan sekali. Sejumlah wilayah telah mereka datangi, antara lain Muara Enim, Lahat, Pagar Alam hingga OKU Raya.
Bagi Zulkifli, perjalanan itu bukan sekadar membawa pengetahuan dari kampus ke desa. Mereka juga datang untuk belajar dari masyarakat yang telah lebih dulu memanfaatkan potensi alam sebagai sumber energi. “Jangan kesannya kita datang menggurui, namun sama-sama membahas bagaimana energi bersih hadir dan ekonominya tumbuh,” ujarnya.
Potensi air menjadi salah satu yang banyak mereka temui. Di daerah dengan aliran sungai dan medan yang mendukung, air dapat menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik.
Salah satu pengalaman mereka berlangsung di Rantau Dedap, Muara Enim. Dosen dan mahasiswa Teknik Elektro UMP terlibat dalam pembangunan PLTMH di SD Negeri 14 Rantau Dedap. Pembangkit berkapasitas dibangun di medan yang terjal dan akses yang sulit. Pengalaman di lapangan membuat mahasiswa berhadapan langsung dengan persoalan yang tidak selalu ditemukan di ruang kuliah.
Bagi Zulkifli, energi bersih tidak cukup hanya dibangun. Masyarakat juga perlu memiliki pengetahuan untuk mengoperasikan dan merawatnya. Karena itu, laporan dari desa menjadi awal bagi komunitas untuk datang, melihat persoalan dan mencari solusi bersama.
Baca Juga:Ketika Turbin Kembali Diharapkan Berputar, Rumah Kopi Pelakat Menunggu Energi dari Air
Energi Bersih dan Jejak yang Ditinggalkan
Zulkifli melihat Sumatera Selatan memiliki potensi energi bersih yang dapat dikembangkan, mulai dari air hingga matahari. Ia menilai pengembangan energi tersebut perlu diperkuat sebagai alternatif terhadap energi fosil yang selama ini banyak digunakan. “Saya lebih menempatkan energi bersih ini mampu menggantikan energi kotor selama ini,” katanya.
Menurutnya, biaya energi tidak semestinya dihitung hanya dari biaya menghasilkan listrik. Kerusakan lingkungan akibat aktivitas energi fosil juga memiliki konsekuensi yang panjang.“Coba jika tambang batu bara, apa yang didapat dari pasca tambang dengan kondisi lingkungan yang rusak. Sudah saatnya energi bersih menjadi bagian penting dari suplai energi di Sumatera Selatan,” ujarnya.
Gagasan itu pula yang dibawa komunitas dalam setiap perjalanan yakni mencari kemungkinan agar potensi energi lokal tidak berhenti sebagai sumber daya, tetapi benar-benar dapat dimanfaatkan dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Field Organizer Perkumpulan Hutan Kita Institute (HaKI), Menik Setyowati, melihat inisiatif Semende New and Renewable Energy Community yang digagas Universitas Muhammadiyah Palembang sebagai sinyal bahwa gerakan energi bersih mulai tumbuh dari kalangan muda dan akademisi.
Bagi Hutan Kita Institute (HaKI), Bentang Alam Semende memiliki posisi strategis karena merupakan wilayah hulu, daerah tangkapan air, sekaligus ruang hidup bagi petani kopi.
Kolaborasi di bidang energi terbarukan dinilai sejalan dengan upaya pendampingan masyarakat di kawasan tersebut yakni menjaga hutan tetap lestari sekaligus mendorong masyarakat memiliki kemandirian energi.
“Sebab, desa-desa yang berada di bentang alam penting tidak selalu menjadi yang pertama menikmati akses dan manfaat energi. Di titik inilah pembangkit berbasis komunitas dapat menjadi bagian dari transisi energi yang lebih adil, ketika manfaat ekonominya tetap berputar di desa, dampaknya langsung dirasakan warga, dan pemanfaatan energi berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan,’ ujarnya.
Kampus yang Turun ke Desa
Bagi mahasiswa, perjalanan menjadi ruang untuk menguji pengetahuan yang selama ini diperoleh di kampus. Mahasiswa Teknik Elektro, Syahrial yang mengikuti touring, mengatakan pertemuan dengan masyarakat memberinya pengalaman tentang bagaimana energi bersih benar-benar digunakan dalam kehidupan sehari-hari. “Apalagi jika bisa menghadirkan energi tersebut pada masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Zulkifli menyebut komunitas juga menjadi ruang bagi mahasiswa mengenal penerapan ilmu sekaligus peluang kerja. Sejumlah mahasiswa yang aktif di dalamnya disebut telah tersalurkan ke dunia kerja.
Di jalan menuju desa, teori tentang listrik bertemu dengan persoalan nyata. Ada turbin yang harus dirawat, sistem yang harus diperbaiki, dan masyarakat yang membutuhkan listrik untuk sekolah maupun kehidupan sehari-hari.
Touring itu akhirnya bukan sekadar perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Bagi kampus, perjalanan ini menjadi cara untuk mendatangi desa, bagi mahasiswa, ruang belajar langsung dari lapangan; dan bagi komunitas, kesempatan melihat bagaimana energi dari alam dapat dimanfaatkan agar tetap menyala dan memberi manfaat bagi masyarakat.