suara hijau

Di Kaki Bukit Besak, Menjaga Hutan di Tengah Lanskap yang Berubah

Warga Desa Tanjung Beringin di kaki Bukit Besak menjaga hutan, mengembangkan kopi dan wisata, serta menjajaki PLTS bersama HaKI demi ekonomi berkelanjutan di tengah tambang.

Tasmalinda
Senin, 28 September 2026 | 17:05 WIB
Di Kaki Bukit Besak, Menjaga Hutan di Tengah Lanskap yang Berubah
Di kaki Bukit Besak, hutan dan kebun bertemu dalam satu lanskap.[dok HaKI Sumatera Selatan]
Baca 10 detik
  • Warga Desa Tanjung Beringin di Lahat mengelola lahan secara turun-temurun hingga memperoleh izin hutan desa seluas 390 hektare pada tahun 2021.
  • Masyarakat mengembangkan komoditas kopi dan karet serta mendirikan kelompok sadar wisata untuk meningkatkan pendapatan ekonomi desa.
  • Lembaga HaKI menjajaki pemasangan pembangkit listrik tenaga surya guna mendukung kegiatan wisata dan pengolahan hasil pertanian warga.

SuaraSumsel.id - Pagi turun perlahan di kaki Bukit Besak. Di antara kebun kopi dan pepohonan, masyarakat Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Merapi Selatan, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, telah lama menggantungkan kehidupan dari tanah yang mereka kelola.

Kopi tumbuh di antara kebun. Tanaman hortikultura ditanam untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagian hasilnya dijual untuk menambah pendapatan keluarga. Bagi masyarakat, lahan itu bukan ruang yang baru dikenal. Mereka telah mengelolanya lintas generasi.

Kepala Desa Tanjung Beringin, Dirlan Bakti, mengatakan warga telah bertani di kawasan tersebut sejak sekitar 1880-an. “Kami sudah lama, dari nenek buyut kami dulu juga sudah bertanam. Awalnya masyarakat bertani untuk kebutuhan konsumsi, dan kemudian berkembang,” ujarnya.

Dari kebun-kebun itulah kehidupan desa tumbuh. Namun, kehidupan di Tanjung Beringin berlangsung di tengah lanskap yang terus berubah. Desa ini berada di Kecamatan Merapi Selatan, kawasan yang dikenal sebagai bagian dari Merapi Area, salah satu wilayah pertambangan batu bara di Kabupaten Lahat.

Baca Juga:Ketika Turbin Kembali Diharapkan Berputar, Rumah Kopi Pelakat Menunggu Energi dari Air

Dari kawasan Bukit Besak, aktivitas pertambangan terlihat di antara gugusan perbukitan. Pemandangan itu memperlihatkan kontras yang kuat dengan kehidupan warga di kaki bukit. Di satu sisi, tanah dikelola untuk menanam kopi, karet dan tanaman pangan. Di sisi lain, bentang alam di sekitar desa juga menjadi bagian dari aktivitas pertambangan batu bara.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat Tanjung Beringin berupaya mempertahankan ruang hidup yang telah mereka kelola selama beberapa generasi. Sebagian kebun warga berada di kawasan hutan lindung menuju kaki Bukit Besak. Kondisi ini sempat membatasi pengembangan sarana dan prasarana desa.

Upaya masyarakat untuk mendapatkan kepastian dalam mengelola kawasan itu dimulai sejak 2004. Proses yang berlangsung bertahun-tahun kemudian berujung pada terbitnya izin hutan desa pada 2021, dengan luas sekitar 390 hektar.

Bagi warga, kawasan tersebut perlahan tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat berkebun. Hutan menjadi ruang yang perlu dijaga sekaligus sumber penghidupan yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Upaya mengurus pengelolaan kawasan dimulai sejak 2004. Prosesnya berlangsung bertahun-tahun hingga izin hutan desa terbit pada 2021. Luasannya sekitar 390 hektar, yang mencakup wilayah Desa Tanjung Beringin dan kemudian masuk dalam skema hutan desa.

Baca Juga:Saat Air Menjadi Energi, Hutan Menjaga Nyala di Kawasan Panas Bumi Rantau Dedap

Perubahan itu tidak serta-merta diterima masyarakat. Bagi warga yang telah lama berkebun, hutan desa pada awalnya dipahami sebagai pembatas baru terhadap ruang yang selama ini mereka kelola. Perlahan, pemahaman berubah. Masyarakat mulai melihat bahwa kawasan tersebut memiliki fungsi yang harus tetap dijaga.

Kini warga mengembangkan kopi dan karet. Sawit tidak diperbolehkan dalam pengelolaan kawasan tersebut. Kopi menjadi sumber pendapatan tahunan, sedangkan karet memberikan pemasukan bulanan.

Di kaki Bukit Besak, kebun kemudian tidak hanya dilihat sebagai tempat menghasilkan komoditas. Kawasan itu juga dipertautkan dengan gagasan wisata berbasis masyarakat.

Akses menuju kaki Bukit Besak menyimpan panorama yang kemudian mulai dikembangkan sebagai tujuan wisata. Pemerintah Kabupaten Lahat sendiri mencatat Bukit Besak sebagai salah satu wisata alam di Desa Tanjung Beringin.

Masyarakat membentuk kelompok sadar wisata atau Pokdarwis dengan pendampingan Pemerintah Kabupaten Lahat. Harapannya sederhana: wisata dapat membuka sumber pendapatan baru tanpa melepaskan masyarakat dari kawasan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Desa yang dihuni sekitar 1.000 jiwa atau 300 kepala keluarga itu kini memiliki dua potensi yang berjalan beriringan: kopi dari kebun dan lanskap alam dari kawasan hutan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini