- Kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan mencapai 1.926,2 hektare sepanjang Januari hingga Juli 2026.
- Angka tersebut merupakan rekor tertinggi dalam delapan tahun terakhir dan meningkat 39,4 persen dari tahun 2025.
- Tim pemadam menghadapi tantangan berat karena kesulitan mendapatkan sumber air akibat hari tanpa hujan yang panjang.
SuaraSumsel.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan. Luas lahan terbakar sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 1.926,2 hektare, angka tertinggi dalam deret data delapan tahun terakhir sejak 2019.
Data rekapitulasi luas karhutla Sumsel yang bersumber dari SIPONGI menunjukkan angka 2026 melampaui seluruh catatan periode Januari-Juli sejak 2019. Sebelumnya, luasan tertinggi tercatat pada 2025 sebesar 1.382,4 hektare. Data 2026 tersebut masih bersifat sementara.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, mengatakan hampir seluruh lokasi kebakaran mulai mengalami kesulitan mendapatkan sumber air akibat hari tanpa hujan yang semakin panjang. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi tim pemadam ketika memasuki periode kemarau.
Karhutla di Sumatera Selatan dalam delapan tahun terakhir menunjukkan tren yang fluktuatif. Pada periode Januari-Juli 2019, luas lahan yang terbakar tercatat 516,4 hektare, kemudian meningkat menjadi 678,5 hektare pada 2020. Angka tersebut kembali melonjak hingga 1.291,8 hektare pada 2021, sebelum turun menjadi 868 hektare pada 2022.
Baca Juga:Karhutla Sumsel Makin Sulit Dikendalikan, Hujan Buatan Terkendala Awan
Memasuki 2023, luas karhutla kembali meningkat menjadi 1.178,5 hektare. Namun, pada 2024, angkanya kembali turun menjadi 963,1 hektare. Tren tersebut kembali berubah pada 2025 dengan luas karhutla mencapai 1.382,4 hektare.
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SIPONGI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luas karhutla di Sumatera Selatan pada periode Januari-Juli 2026 mencapai 1.926,2 hektare. Angka tersebut bertambah 543,8 hektare atau meningkat 39,4 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Meski demikian, data 2026 tersebut masih bersifat sementara karena masih berupa rekapitulasi dan dapat berubah seiring pembaruan data berikutnya. Sementara itu, data 2025 yang digunakan sebagai pembanding merupakan pembaruan hingga Juli 2026.
Bukan sekadar naik 39 persen
Kenaikan karhutla di Sumsel pada 2026 tidak hanya terlihat dari pertumbuhan sebesar 39,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jika dibandingkan dengan 2019, luas lahan yang terbakar bahkan meningkat hampir 3,7 kali lipat. Menariknya, capaian 2026 juga menjadi yang tertinggi dalam catatan periode Januari-Juli sejak 2019.
Baca Juga:Karhutla Sumsel Makin Sulit Dipadamkan, Sumber Air Mulai Jadi Masalah
Data tersebut juga menunjukkan bahwa kebakaran tidak terjadi secara merata. Sebagian besar karhutla terkonsentrasi di sejumlah kabupaten, seperti OKU, Banyuasin, Ogan Ilir, OKI, dan Musi Banyuasin.
Selain itu, kebakaran di lahan gambut turut mengalami peningkatan. Luas karhutla gambut naik dari 30,7 hektare pada 2025 menjadi 68,5 hektare pada 2026 atau meningkat sekitar 123 persen. Dari total 1.926,2 hektare lahan yang terbakar pada 2026, sebanyak 1.857,7 hektare berada di lahan mineral, sedangkan 68,5 hektare terjadi di lahan gambut. Peningkatan ini menjadi perhatian karena kebakaran gambut lebih sulit ditangani dan berpotensi menimbulkan asap lebih lama.
Meski mencetak rekor dalam delapan tahun terakhir, angka 1.926,2 hektare tersebut masih merupakan rekapitulasi sementara untuk periode Januari-Juli 2026. Di sisi lain, Sumsel masih menghadapi puncak musim kemarau. Kondisi lapangan yang semakin kering dan terbatasnya sumber air dikhawatirkan dapat memperbesar potensi kebakaran pada bulan-bulan berikutnya.