- Bank Indonesia Sumatera Selatan meluncurkan program QRIS untuk musisi jalanan di kawasan wisata Benteng Kuto Besak Palembang.
- Inisiatif ini bertujuan mempermudah masyarakat memberikan apresiasi karya musisi tanpa harus bergantung pada ketersediaan uang tunai receh.
- Program tersebut merupakan bagian dari festival Gemilang Palembang Raya untuk mendorong akselerasi digitalisasi transaksi di sektor ekonomi kreatif.
Bank Indonesia justru memilih membawa ekonomi digital keluar serta mendekatkannya kepada kehidupan masyarakat.
Di kawasan Benteng Kuto Besak, pengunjung dapat menikmati festival kuliner, melihat pameran produk UMKM, mengenal berbagai inovasi digital, hingga menyaksikan bagaimana QRIS mulai diperkenalkan sebagai cara baru mengapresiasi karya para musisi jalanan.
Pendekatan tersebut mendapat apresiasi Pemerintah Kota Palembang.
Mewakili Wali Kota Palembang, Sekretaris Daerah Kota Palembang Aprizal Hasyim menegaskan bahwa digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang harus direspons secara cepat oleh pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.
Menurutnya, Pemerintah Kota Palembang selama ini terus mendorong digitalisasi, baik dalam pelayanan publik maupun transaksi keuangan daerah, guna menciptakan tata kelola pemerintahan yang lebih efektif, transparan, dan modern.
Kolaborasi bersama Bank Indonesia melalui Gemilang Palembang Raya x Digital Kito Galo juga dinilai menjadi langkah strategis karena mampu mempertemukan pariwisata, UMKM, ekonomi kreatif, dan teknologi dalam satu ruang yang sama.
Benteng Kuto Besak pun menjadi panggung yang tepat.
Di kawasan wisata inilah masyarakat dari berbagai latar belakang berkumpul. Wisatawan menikmati kuliner, pelaku UMKM menawarkan produknya, keluarga menghabiskan waktu bersama, sementara para musisi jalanan menghadirkan hiburan yang membuat kawasan itu tetap hidup hingga malam.
Ketika seluruh aktivitas tersebut mulai terhubung melalui ekosistem pembayaran digital, transformasi yang dibangun tidak lagi sebatas soal teknologi. Ia mulai mengubah kebiasaan. Membuat transaksi menjadi lebih mudah. Membuka peluang ekonomi yang lebih luas.
Dan menghadirkan cara baru bagi masyarakat untuk memberikan apresiasi.
Mungkin beberapa waktu ke depan, bunyi recehan yang jatuh ke dalam kotak gitar masih akan sesekali terdengar di Benteng Kuto Besak. Namun perlahan, bunyi itu akan ditemani notifikasi pembayaran dari telepon genggam para penonton.
Bukan karena masyarakat berhenti menghargai karya. Justru sebaliknya. Mereka menemukan cara baru untuk melakukannya.
Barangkali di situlah teknologi menemukan makna terbaiknya. Bukan ketika menjadi semakin rumit atau semakin canggih.
Melainkan ketika mampu memudahkan manusia untuk tetap menghargai manusia lainnya. Dan di Palembang, perjalanan itu tampaknya memilih dimulai dari ruang-ruang yang paling dekat dengan masyarakat, dari tepian Sungai Musi, dari kawasan Benteng Kuto Besak, dan dari sebuah lagu yang dimainkan di sudut jalan.